BREAKING NEWS

Berita

Memungut Kaleng di Atas Lumbung Emas: Fenomena Anak-anak Pemungut Kaleng di Pegunungan Tengah Papua

Oleh Aten Pekei

Sudah lama Negara Indonesia telah memasuki era globalisasi. Sebenarnya dalam era globalisasi ini, diharapkan Negara Indonesia dapat bersaing dengan negara tetangga. Atau dengan kata lain Indonesia tidak hanya mendatangkan para ahli dari luar negeri, namun Indonesia juga harus mengekspor ahli dari negaranya ke luar negeri. Dalam hal ini, era ini sudah dapat dikatakan era yang maju karena terjadi pertukaran ahli dan pekerja yang elit dan kompeten dalam bidangnya. Diharapkan pula terjadi perkembangan yang baik, stabil, dan cepat. Namun, apakah benar begitu?

Pada era globalisasi ini, justru tingkat kemiskinan di tanah Papua, khususnya di Pegunungan Tengah Papua yang malah terus meningkat dan sangat memprihatinkan. Hal ini nampak pada banyaknya anak-anak pemungut kaleng atau “anak-anak jalanan” yang tiap tahun terus meningkat. Problem pemungut-pemungut kaleng ini adalah problem yang menyangkut masalah social. Masalah social sering menjadi masalah yang rumit atau “hard” untuk diselesaikan. Apalagi masalah social tersebut berujung tombak pada pemerintah daerah. Salah satunya seperti problem pemungut-pemungut kaleng di Pegunungan Tengah Papua ini. Sebenarnya, ada apa dibalik semua ini?

Fenomena anak-anak pemungut kaleng ini banyak terjadi di Papua, khususnya di daerah Pegunungan Tengah Papua. Dari pagi hingga malam, anak-anak yang “ganggur” akan mencari dan memungut kaleng. Mereka membuat kelompok dengan mengambungkan diri pada teman sebaya mereka masing-masing. Biasanya, mereka terdiri dari anak-anak yang tidak bersekolah dan mereka juga adalah anak-anak pribumi. Mereka tidak memerdulikan hujan dan panas dalam memungut kaleng-kaleng. Kaleng-kaleng yang sudah dipungut akan diisi dan dibawa di sebuah karung bekas. Anak-anak tersebut akan puas jika karung itu terisi banyak kaleng, seperti pada gambar di atas. Setelah karung terisi penuh oleh kaleng-kaleng tersebut, mereka akan menjual di tempat pembelian kaleng bekas untuk didaur ulang. Anehnya uang-uang yang diperoleh dari hasil penjualan kaleng tersebut tidak digunakan dengan sebaik mungkin. Malah kebanyakan dari anak-anak tersebut membeli lem Aibon untuk diisap. Sungguh hal yang memprihatinkan! Kalau sudah begini, mereka akan terus ketagihan untuk mengonsumsi lem Aibon tersebut. Hal inilah yang mendorong anak-anak tersebut untuk lebih giat dan aktif lagi untuk mencari kaleng-kaleng. Sangat disayangkan lagi, mereka terpaksa mencuri barang-barang di rumah-rumah milik orang lain. Hal ini juga membuat sebagian dari mereka harus berurusan dengan yang berwajib, seperti pihak keamanan, dalam hal ini pihak kepolisian. Salah siapa sehingga anak-anak ini melakukan semua hal ini? Apakah semua ini salah pemerintah, orang tua, ataukah salah anak-anak sendiri?

Jika dilihat dari dasarnya, ada dua kemungkinan faktor penyebab timbulnya masalah pemungut kaleng ini, yaitu: pertama, kurang adanya perhatian khusus dan lebih dari orang tua anak-anak tersebut. Dalam konteks ini, orang hanya sebagai symbol. Artinya, yah sok sibuk dengan pekerjaan ataupun urusan pribadinya sendiri. Anak melupakan orang tua – orang tua melupakan anak? Ini merupakan problem yang sering terjadi di lingkungan kita. Hal ini terjadi karena perubahan zaman yang membawa dampak kepada hubungan keharmonisan dalam rumah tangga yang kian hari justru memburuk. Ayah melakukan tugasnya sebagai seorang kepala rumah tangga, yakni: rumah – kantor – urusan bisnis – “lain-lain” – rumah. Begitu pula dengan seorang ibu rumah tangga yang melakukan tugasnya hanya sebatas urusan dapur. Sedangkan anak lebih melakukan banyak aktivitas yang kurang efisien dan efektif bagi perkembangan dirinya. Namun saya yakin, hal demikian tidak mungkin terjadi di Pegunugan Tengah Papua. Mana ada orang tua yang tegah membiarkan anaknya menderita, apalagi ibu kita. Kedua, keingintahuan seorang anak terhadap sesuatu yang dilakukan teman sebayanya. Nah,ini dia factor utamanya. Hmmm…dalam konteks ini, rupanya seorang anak akan mudah terpropokasi oleh teman sebayanya alias ikut-ikutan. Hal ini sangat terlihat jelas dalam keikutsertaan anak-anak yang bersekolah. Aneh sekali anak-anak yang bersokalah di bangku SD dan SMP pun melakukan hal demikian. Bahkan jumlah mereka melebihi anak-anak yang tidak berpendidikan. Sungguh masalah yang serius bagi semua masyarakat Pegunungan Tengah Papua.

Jika dilihat dengan mata terbuka, problem ini semakin hari kian bertambah rumit. Kaleng dan lem aibon merupakan kedua hal yang tidak dapat dipisahkan dari dari pribadi anak-anak pemungut kaleng. Kaleng dan lem aibon juga merupakan insan dan makanan mereka. Lebih aneh lagi, anak pemerintah pun melakukan hal “menajubkan” ini. Sebenarnya kurang apa lagi, orang tua sudah bekerja dan memunyai jabatan yang tinggi di pemerintahan. Kasus ini berkaitan dengan factor penyebab timbulnya pemungut – pemungut kaleng bagian kedua di atas. Hmmm…. jika masalah sudah bertambah rumit begini, dimanakah pemerintah dalam mengatasi malsalah social yang serius ini? Apakah pemerintah hanya menutup mata dan memandang hal ini dengan sebelah mata?

Sebagai seorang mahasiswa, saya mengharapkan kepada kita masyarakat Pegunungan Tengah Papua agar menjadikan problem ini sebagai masalah yang serius. Kita butuh solusi yang tepat. Tidak hanya melalui kata-kata melainkan melalui aksi yang nyata di lapangan. Kita tidak perlu menunggu dan menyalahkan pemerintah lagi karena semua ini tergantung pada kita segenap masyarakat Pegunungan Tengah Papua. Janganlah kita menunggu aksi dari pemerintah. Kitalah yang justru membuat reaksi dahulu sehingga muncul sebuah aksi yang membuahkan perubahan bagi masalah social ini. Ada aksi ada reaksi. Atau dengan kata lain, jangan menunggu orang lain melakukan segala sesuatu yang kita bisa, sebelum kita melakukannya dahulu.
Memungut Kaleng di Atas Lumbung Emas: Fenomena Anak-anak Pemungut Kaleng di Pegunungan Tengah Papua Reviewed by Majalah Beko on 15.01.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.