BREAKING NEWS

Berita

Beda Status Di Kampung, dan Beda Status Di Kota

Mapia Murib, Foto : dok Pribadi
Profil Mapia Murib

“Kebahagaian abadi masih terselubung dihati anda, jika anda kembali dan melihat kembali rumah anda tanah anda keluarga anda tentu anda akan di hormati di hargai dari berbagai kalangan manusiadi penjuru dunia”

Mapia adalah nama sebuah kampung di pegunugnan tengah, tepatnya di Kabupaten Dogiyai. Mapia yang orang kenal adalah nama sebuah distrik di kabupaten Dogiyai,  namun penulis ingin mengisahkan seorang lelaki yang gagah perkasa berambut gimbal.
Lelaki itu gaga, tinggi, rambutnya gimbal, ia bernama Mapia Murib. Sekilas tentang pemberian nama Mapia dijuluki oleh seorang anak kecil pada suatu sore  Mapia hendak  menghampiri rumah anak kecil itu kemudian anak kecil itu  mengatakan kepada Mapia “kaka koi punya uang ada atau tidak,kalau ada  kita dua berangkat ke Mapia” kemudian Mapia tergerak hatinya untuk menggantikan namanya menjadi Mapia.
Mapia adalah anak almarhum Kepala Suku Sinak. Mapia anak  dari istri ke-3. Dan adalah Mapia anak bungsu dari keluarganya kaka pertama dan kedua masih berada di sinak, sedangkan Mapia keluyuran di kota sejak ia masih muda.
Dari ketiga bersaudara wajah mereka yang mirip dengan ayah mereka adalah Mapia, makanya ayahnya sangat sayang padanya. Mapia ini tidak hanya mirip dengan bapaknya tetapi Mapia jjuga mirip  seperti tokoh perjuangan papua merdeka Almarhum Kelikwalik yang ditembak oleh plisi kala itu.
Mapia putra kelahiran sinak ini memang agak aneh dari cara berbicaranya yang keliru, penampilanya, dan dari cara ia mengekspresikan gayanya, terkadang tingkahnya membingugkan orang terkadang orang menertawakanya karena bahasa indonesia tidak sempurna dan dialeknya masih sangat kental dengan  bahasa daerahnya. Maklum Di daerah sinak 95% masyarakat masih menggunakan bahasa daerah.
Almarhum kepala suku hendak  menggal dunia pada tanggal 25/12/1999 Isak tangis seluruh kampung diratapinya dari seluruh kampung yang ada di kampung itu datang melayat mayat kepala suku. mayatnya di taruh diatas panggung untuk dilihat semua orang. berbagi macam atraksi yang di lakukan oleh masyarkat setempat karena bersedih atas kepergian kepala suku ayahnya Mapia.
Tiidak hanya meraka Mapia pun meratap duka yang mendalam atas kepergianan ayahnya ketika itu saya bertanya kepada Mapian ketika bapakmu meniggal apakah dia ada sampaikan pesan khusu atau tidak ada katanya  bapak saya hanya berikan cindra mata “anak kamu ini cindera mata untuk kamu” Mapia pun mangambilnya dan menyimpan cindera mata tersebut didalam nokennya. Mapia memiliki seluas hektar tanah di kampungnya peniggalan ayahnya ia hanya menitipkan kepada Ari saudara dari ayahnya Mapia disinak  tapi sayangnya Mapia tidak ingin pulang kekampung halamanya.
Mapia adalah salah seorang yang sangat di hormati di kampungnya, karena status ayahnya hanya saja di ketika Mapia turun ke kota iya di marginalkan oleh orang-orang yang tidak dikenalnya. akhirnya di kota ia dianggap orang biasa-biasa saja semisal para pengganguran.
Selain dihormati Mapia juga  dikenal dengan  penjudi terhebat di kampungnya ia terkaadan menggerut uang  milik para pegawai yang turut berpartisipasi untuk berjudi, kala itu ia dikena denga penjudi terhebat dikampungnya, ia sangat susah untuk bekerja kebun ia mendapatkan uang dari hasil judi. Trkadang para penjudi itu sekampung itu mengiranya memakai mantara ketika berjudi tetapi ketika saya menanyakan kepadanya ia mengatakan samasekali tidak pernah ia menggunakan mantra atau obat-obat untuk berjudi. ketika berjudi ia tidak pernah curang.
Dengan adanya arus perubahan social Mapia terseret hingga mendiami di kota Timika selama berbulan bahkan tahun setelah ia merasa bosa kemudian Mapia melanjutkan perjalanana panjangya ke Jayapura sampai saat ini Mapia masih tinggal di Jayapura dengan status biasa-biasa saja.
Apa kegiatanya Mapia di kota ia hanya menjadi seorang yang dimarginalkan Padahal dikampung ia adalah sosok yang patutu disegani oleh kalangan masyarkat.berikut kisah kehidupan Mapia di kota.
Sore tanggal (29/2) tepat pukul 07.00  Mapia dan sahabatnya duduk diteras rumah sambil menyesal kar ena analisis angka shionya tidak keluar.artinya Mapia tidak mendapatkan uang bahasa shionya meleset, angin meniup  kertas-kertas sepangkal itu melayang. Seakan akan uang yang melayang laayang saya mengatkan kepada Mapia kaka dapat atau tidak lalu ia mengatkan tidak dengan rauh wajah penyesalan.
Yah, main shio itulah satu satunya pendapatan bagi Mapia dan orang lainya, Setelah bangun pagi tugas merka hanya menghitung shio dan menganalisah sesuai rumus kemudian membeli angka di Bandar dengan uang seribu kecuali uang koin,  Jika analisis rumusnya sesuai dengan angka yang keluar boleh dikatakn nasib jika tidak sangat disayangkan kata kata penyesalan yang dilontarkanya, untuk memburu uang dari shio tersebut hari-hari kerjanya hanyalah mengalisah mimpi.kehidupan di kota memanga agak rumit dibandingkan kehidupan di kampung tidak usah, membutuhkan uang untuk mendapatkan makanan. Padahal untuk mendapatkan uang sangat gampang jika bekerja bagaimana cara mapai mendaptaka uang dikota yah..selalu saja amengharpkan orang tanpa berusaha sendri.
Kegitan Mapia di kota jayapura maupun Timika hanyalah menghabiskan waktunya untuk tidur tanpa bekerja Padahal di kampungnya  para tua-tua sangat membutuhkandan sangat mengharapkan agar para pemuda yang berkeliaran dikota itu pulanga memang siank sangat mebutuhkan  tenaga pemuda untuk membuat kebun dan sebaginya.
Siapa saja yang menghampiri kerumah, Mapia dan rekan-rekanya selalu saja mengajukan pertanyaan yang di  akangka berap yang kamu mainkan untuk hari ini kali- kali hanya itulah pemainananya.
Bahasa penyesalan selalu di lontarkan, Mapiadan rekan rekanya jika tidak mendaptkan uang, jika mendapatkan uang Mapia terdiam lalu membuat seperti orang yang tidak ada uang terkadang, Mapia membagi bagi uang itu kepada kerabatnya atau selain itu Mapia juga membeli pulsa  untuk pacarnya  kegiatan harianya dirumah hanya menelfon para gadis yang selalu saja menagih barang-baragnya. Kami selaku adik-adiknya selalu mengaskan kepada Mapia bahwa para permpuan itu mereka berusaha untuk menghabiskan kamu punya uang jadi jangameresponinya, tetapi ia tidak menghiraukannya. Selalu saja Mapia mengirim pulsa kepada perempuan tapi sayangnya permpaun-perempuan itu berpacaran dengan Mapia tidak lama kemudian merka mengganti nomor Hand Phonenya untuk menghilangkan jejak dari Mapia.
Kadang Mapi mengikuti tema-temanya yang telah sukses menjadi penjabat mengunakan mobil berjalan jalan sambil refresing, Mapia selalu menjadi orang tua bagi saya dirumah dengan berbgai nasihat motifasi ia sampaikan, agar saya jangan mudah terprovokasi dengan perilaku muda-mudi sekarang tegasnya.
Saya hanya bisa menganggukan kepala dan membenarakan nasihat dan memeroleh hikmah dari tiap perkataan yang di lontarkanya. Rupanya Mapia memilik banyak pengalaman yang menurut saya bisa menajmin hidupnya jika Mapia menerepkanya.
Mapia juga sering terkait cerita misteri yang terjadi di kampungnya”sinak” ia terkadang mensaharing dengan saya  tidak dengan orang lain mengenai cerita cerita sakral itu.
Semoga harapan orang tua terpenuhi dengan kembalinya para pemuda ke kampung halamanya untuk mewariskan seluruh tinggalan moyangnya di kampung sinak, dan tidak lagi menjadi pengngangur di kota ini. Padaha mereka adalah orang yang memiliki sataus social yang lebih di bandingkan dengan orang lain di kota.
Oleh : Hengky Akapakabi Yeimo




Beda Status Di Kampung, dan Beda Status Di Kota Reviewed by Majalah Beko on 21.26.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.