Breaking News

Berita

Semuanya berawal dari (kata) politikus dan politik!

Teringat kisah empat  tahun yang lalu ketika sedang nongkrong dengan teman-teman dekat  wind tunnel  kampus. Teman saya yang satu saat itu sedang mendalami matematika (Sci) sedangkan yang satunya lagi mendalami ilmu sosial (Sos). Berikut kutipan percakapan kita bertiga sambil menunggu giliran mata kuliah berikutnya.
Sos         : “Sci, lu tahu ngak, politikus dan politik itu, dan apa hubungannya?”
Sci          :  “Itu ma, kalo  dilihat dari definisinya, politikus  itu artinya banyak tikus-tikusnya sedangkan politik ma artinya banyak titik-titiknya.  Jadi, hubungannya adalah tikus-tikus yang meninggalkan banyak titik-titik. Iya kan Pex?”
Saya       :  “Benar sih, tapi kyknya bukan itu yang Sos maksudkan, iya kan Sos?”
Sos         : “Iya Sci. Gimana sih lu!”
Sci            :  “Loh, lu mau bukti.  Nih, dalam matematika dikenal istilah poligon yang  terdiri dari kata poli dan gon. Poli artinya banyak dan gon artinya sisi atau segi. Jadi, poligon berarti segi yang banyak kayak persegi lima-lah atau apapun banyak segina atau sisina. Ada lagi di fisika, polimer , terdiri dari poli dan mer, mer artinya molekul sederhana. Jadi, polimer artinya banyak molekul sederhana. Lu ngerti kan Sos?”
Sos           : “Ha…ha…iya. Itu ma benar  tapi yang gue maksudkan itu politikus dan politik kayak DPR yang duduk di senayan Sci!”
Saya hanya terdiam, keasyikan menyaksikan mereka berdua bertukar pendapat.
Sci            : “Oh….dari tadi dong bilangnya, gua kira kata apaan tu. Tapi, yang gua katakan tadi ada benarnya kan kalau kita melihat kenyataan yang terjadi dengan tikus-tikus itu he…maaf maksud gue politikus itu, mereka ma kebanyakan tidak pro rakyat, banyak  jalan dengan agenda masing-masing  ato titik-titiknya itu. Kasus korupsi sampe contoh lainnya seperti  di daerah-daerah, kekayaan dari masing-masing daerah itu diambil oleh bule yang memanfaatkan politikus yang tidak pro rakyat yang  banyak titiknya itu. Contohnya Newmont di Nusa Tenggara yang tidak membawa perubahan yang layak untuk masyarakat di sana atau Freeport di Papua,  dari nama  saja, ‘pelabuhan bebas’-nya Amerika. Dengan demikian bebas mengeksploitasi kekayaan Papua, yang melawan ‘pelabuhan bebas’ itu akan ada sanksinya dari Amerika dengan bantuan kaki-tangannya, para ti…, maaf, politikus  tadi.”
Saya         : “Wah… Sci, lu salah jurusan nih, kenapa ngak ambil jurusan ilmu sosial aja? lu bicara kayak pengamat ilmu sosial dan mmm…politik gitu.”
Sci            : “Ngak Pex…gue udah cocok  kok dengan  matematika. Kita kan sebagai manusia harus bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain! Oh iya Sos, lu tahu nga di Papua  itu sarana dan prasarana-nya ngak kayak di Jakarta loh, aku pernah liburan ke sana. Pendidikan saja masih terbelakang atau mungkin  sengaja ditinggalkan, ngak tahulah aku. Trus harga-harganya mahal banget kayak nga ada Freeport aja.  Kalo politikus itu ato orang-orang senayan susah ngurus  yang jahu-jahu ya dilepaskan aja, toh masih banyak PR yang harus Politikus itu kerjakan di sini. Jadi kaki-tangan bule kayak nga punya harga diri aja. Aya- aya wae!”
Sos           : “He…he…lu ma langsung bicara saja sama para politikus itu atu!”
Sci            : “Emmm… lu jangan lupa fren, kalo sudah bekerja jd kayak gitu, rubah nama politikus dan politik itu dengan kata yang bermartabat sedikit lah, politikus lu ganti dengan nama pemimpin dan politik ma lu ganti dengan kata memimpin, bisa memimpin diri sendiri dan bisa memimpin orang lain juga, itu baru cita rasa bangsa yang beranekaragam budaya dan agama ini dan jangan lupa beranekaragam bidang studi juga, ha…ha…. Seperti semboyang Negara kita ini,  ‘Binneka tunggal ika’!”
Sos           : “Ok bro. Surely! Sebelum aku mengenal orang lain aku sudah mengenal kalian berdua dahulu.  Oke!”
Sci            : “Bro, jangan lupa juga untuk perhatiin bidang  Sains dan Teknologi.  Sekarang teorinya dah cukup banyak lah untuk di Indonesia tapi praktiknya masih kurang ke masyarakat. Trus supaya kita nanti bisa memakai produk buatan kita sendiri yang canggih, jangan melulu make produk orang  luar  trus. Secara harafiah ‘sudah merdeka’  tapi masih di jajah terus.”
Sos           : “Iya sih, merdeka ma harus secara total!”
Sci            : “Tul Sos, lihat aja simbol kemerdekaan kita, monumen nasional ato monas itu berbentuk kayak obelisknya mesir yang sarat dengan pemujaan dewa-dewanya. Sama sekali ngak mengambarkan ciri khas orang Indonesia kan? Coba obelisk itu diganti dengan miniatur candi Prambanan ato honai ato apalah gitu. Yang penting yang Indonesia banget dah!”  
Saya         : “Wah…wah… makin seru nih fren. Apapun yang kalian perdebatkan fren, aku cuman mau katakan ada satu hal saja yang selalu abadi di dunia ini yaitu persamaan matematika atau fisika. Dimanapun, kapanpun kalian berada, persamaan itu berlaku mutlak, tidak bisa diganggu gugat. Contohnya persamaan gaya Newton, F = m.a (Hukum II Newton), mungkin di SMP dah dipelajari, berlaku di mana-mana. Bumi atau di planet Mars, Jawa, Kalimantan, Papua, atau di mana saja lah, sama aja persamaannya, ngak ada yang berubah. Dulu, sekarang, dan hari-hari mendatang,  tetap aja sama. Seperti kata Albert Einstein,”Politik itu cuma untuk sementara tetapi sebuah persamaan matematika itu abadi.””
 Sos          : “Mmmmm…Iya pex, lu benar banget! Memang politik itu cuman permainan orang saja kok. Kayak Tikus-tikusnya Sci, ha…ha….”
Sci          : “He…he… emangnya mereka tikus yang gua pelihara?  Maaf bro salah istilah!”
Sos         : “Ngomong-ngomong Pex,  Albert Einstein itu siapa ya?”
Sci          : “Lu belum tahu Einstein ya fren? …”
Serta-merta  Sos memotong pembicaraannya Sci,
Sos           : “Jangan lu mau bilang gue ketinggalan jaman Sci, gua da tahu dari lagak lu. Gue ini ma sebenarnya ngak tertarik dengan sains , jd ya gitu deh.”
Saya         : “Lihat Sci. Lu jangan salah sangka, dari penampilannya aja dah nampak bahwa dia jamannya melebihi  kita-kita.”
Sci          : “Jie.... “
Beberapa saat kita bercanda sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian,
Saya           :  “Oke-oke, Einstein ma seorang warga Negara Jerman yang mendapat nobel bidang fisika tahun 1921 karena efek fotolistriknya. Teori  lainnya ma yang sekarang terkenal itu adalah teori relativitas. Ia juga sering diidentikkan dengan jenius abad modern. Dari Jerman ia  akhirnya pindah ke Amerika dan bekerja di beberapa kampus  di sana karena dikejar  sama tentara Nazi!”
Sos         :  “Oh…. Berarti Einstein itu seorang Yahudi ya, soalnya tentara Nazi, yang pemimpinnya Hitler itu, ingin memunahkan bangsa Yahudi dan bangsa berkulit hitam.  Tapi pex kulit lu coklatkan, jadi lu ma jangan takut sama Hitler atu!”
Saya       :  “Ha…ha….Mungkin Sos. Sebenarnya ada juga ilmuwan yang lebih hebat dari Einstein yaitu Wolfgang Pauli.  Einstein sendiri mengakui kehebatan Pauli di bidang sains.  Contohnya mungkin di kimia lu pernah dengar  prinsip Pauli, itu Wolfgang Pauli yang ketemukan! Bahkan ia dapat meninjau ulang teori relativitasnya Einstein hanya dalam waktu kurang lebih dua bulan (teori yang susah dimengerti pada saat itu).  Cuma media saja yang membesarkan nama Einstein.”
Setelah itu, sekitar  empat menit kemudian, kami mengakhiri perbincangan kami dan mempersiapkan diri untuk menghadiri mata kuliah berikutnya.
  
Selamat berakhir tahun. Salam!
oleh Nick Pekei pada 3 Desember 2012 pukul 15:15 ·

Semuanya berawal dari (kata) politikus dan politik! Reviewed by Majalah Beko on 14.49.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.