BREAKING NEWS

Berita

Perjudian Togel sedang Mengancam Gaya Hidup dan Mata Pencaharian dari Masyarakat Suku Mee di Pedalamam Papua


(Sebuah  Refleksi Pribadi Setelah Melihat, Memahami dan Membandingkan Gaya Hidup dan Mata Pencaharian Masyarakat Suku Mee Sebelum dan Setelah ada Perjudian  Togel di  Pedalaman Papua)
   
Oleh: Felix Minggus Degei*

Degei
Perjudian Togel (toto gelap) kini telah dan sedang merajalela ke seluruh penjuruh Tanah Papua. Semua orang yang tinggal di tanah ini,  telah mengenalnya. Baik itu mereka yang tinggal di sepanjang pesisir pantai, juga yang tinggal di Pedalaman Pegunungan  Papua. Kebanyakan Masyarakat Adat Papua telah mengenalnya karena biasa aktif bermain. Sebagian lagi, karena hanya biasa dengar dari orang lain. Akan tetapi, tidak bisa dipungkiri bahwa perjudian tersebut suatu saat akan membuat semua orang aktif mau bermain dengannya.

Sadar atau tidak, perjudian tersebut telah dan sedang mengancam gaya hidup dan mata pencaharian dari Warga Asli Tanah Papua. Salah satu suku besar di Papua yang sedang terancam dengan perjudian tersebut adalah Suku Mee di Pedalaman Papua. Orang Mee di Papua sebenarnya memiliki berbagai ragam gaya hidup dan mata pencaharian yang telah diwarisi sejak zaman nenek moyang. Mata pencaharian mereka adalah berladang atau berkebun, beternak memelihara babi, berburu, menangkap udang dan ikan ke danau, sungai, kali dan berdagang dalam komunitasnya sendiri.  Dengan gaya hidup dan mata pencaharian inilah, Masyarakat Suku Mee mempertahankan kehidupannya dari waktu ke waktu. Tidak ada gaya hidup dan mata pencaharian lain yang ada di Daerah Mee untuk menghidupi nafkah keluarganya. Jika ada gaya hidup dan mata pencaharian yang lain, maka tentu itu bukan Budaya dari Suku Mee di Pedalaman Papua.

Dengan adanya perjudian togel ini juga, membuat banyak mobilisasi warga. Pergerakan warga terlihat karena banyak warga masyarakat kampung yang selalu ada di kota. Mereka bukan warga yang datang karena ada program perpindahan penduduk dari desa ke kota (urbanisasi) dan juga program perpindahan warga dari daerah yang satu ke daerah yang lain (trans lokal). Kedatangan mereka ke kota kebanyakan dengan tujuan untuk bermain togel. Padahal, di kampung halamannya, mereka  juga datang dengan meninggalkan istri, anak-anak serta segala gaya hidup dan mata pencaharian tetapnya.
Setelah tiba di kota, gaya hidup dan mata pencahariannya pun dapat berubah dengan sekejap mata. Mereka yang sebelumnya adalah suka berladang atau berkebun, beternak memelihara babi, berburu, menangkap udang dan ikan ke danau, sungai, kali dan berdagang dalam komunitasnya sendiri, kini menjadi penjudi togel. Perubahan gaya hidup dan mata pencahariannya, terlihat karena mereka kini banyak yang jalan dengan segala kelengkapan yang dibutuhkan dalam bermain togel. Segala kelengkapan yang dibutuhkan adalah seperti; kaca mata, handphone, buku togel, kertas buram dan bolpen atau pensil. Bagi mereka yang tua, kaca mata digunakan untuk melihat. Handphone dengan berbagai merk yang canggih, mereka gunakan untuk saling bertanya tentang mimpi juga hasil perhitungan togel dari satu ke sesama penjudi togel yang lainnya. Buku togel, mereka gunakan sebagai panduan atau acuan untuk memastikan angka yang mau dibeli. Kertas buram mereka gunakan untuk menghitung atau pun mencakar angka-angka togel. Sedangkan , bolpen atau pensil mereka gunakan untuk menulis dan mencakar angka yang mau dibeli.

Di hampir setiap rumah, tiada topik pembicaraan lain yang dibahas, selain masalah togel. Pembahasan tentang masalah togel dibahas tanpa kenal waktu. Baik itu siang hari atau pun malam hari. Lebih dari itu, topik tentang togel ini,  biasanya ramai dibahas setelah waktu pengumuman pada malam hari. Topik-topik yang biasanya dibahas adalah mengenai penyesalan yang tak pasti. Penyesalan tersebut  bisa saja karena angkanya bolak-balik atau pun terjebak karena ajakan dan mimpi dari orang lain. Dengan pembahasan mengenai angka togel ini, biasanya membuat orang korban waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan tentunya uang.

Dengan adanya perjudian ini juga, telah dan sedang mengancam kebiasaan makan makanan pokok. Ancaman terhadap makanan pokok terjadi  karena sudah banyak bapak keluarga yang tidak  mau berkebun atau berladang.  Mereka tidak mau berkebun dan berladang karena memang mereka sudah tidak ada lagi di pedalaman. Sehingga, kebiasaan makan makanan pokok pun  sedang mulai luntur. Sebagai makanan pengganti, nasi menjadi makanan yang paling sering dikonsumsikan oleh warga saat ini.

Selain itu, hasil komuditi yang biasanya masyarakat pedalaman selalu hasilkan pun, sekarang sudah jarang ditemukan lagi. Sebut saja di Moanemani Ibu Kota Kabupaten Dogiyai yang konon dikenal sebagai pengahasil Kofi Arabika (Kofi Murni Moanemani), kini sudah mulai berkurang. Sehingga, kofi yang sekarang masyarakat setempat selalu  konsumsikan adalah Kofi Torabika, Kapal Api, ABC Mocca, Top Coffe, dan lain lain. Selain di Moanemani, Daerah Mapia yang dulu terkenal dengan penghasilan kacang tanah, kofi arabika dan noken anggrek pun sekarang sudah jarang orang yang memproduksikannya. Dulu, masyarakat dari Pedalaman Mee yang selalu berbondong-bondong ke Mapia untuk membeli kacang tanah. Akan tetapi, kini masyarakat Mee semuanya sudah sedang mulai berbelanja kacang tanah di Ibu Kota Kabupaten Nabire. Terasa dunia ini sedang terbalik, namun ini adalah realita yang sedang terjadi.

Jika Hari Raya Natal telah tiba, Masyarakat Mee sudah terbiasa dengan potong babi (ekina) dan kuskus hutan (woda/kedei) sebagai hewan kurbannya. Hewan kurban yang mereka biasa potong adalah hasil peliharaan dan juga buruan sendiri. Akan tetapi, sangat beda dengan saat ini. Saat ini masyarakat Mee jika Hari Raya Natal telah tiba hewan yang mereka biasa potong adalah babi (ekina) yang beli dari Masyarakat Toraja di  Kota Nabire atau pun belanja Ayam Kulkas dan Ikan Asing  dari kios dan toko yang ada di sekitarnya. Hal ini adalah realita yang sedang terjadi di seluruh pelosok Daerah Orang Mee tinggal, yakni; Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai.

Pengakuan dari istri dan anak-anak yang ditinggalkan oleh suami-suami yang sedang ramai di kota pun sangat bervariasi. Ada istri-istri yang mengaku bahwa kami adalah janda (ini/iniko miya bagee). Selain itu, ada juga yang mengaku bahwa, suami atau bapak kami sedang berkumpul kebo dengan Wanita Idaman Lain (WIL) di kota. Tidak tahu, siapa wanita idaman mereka di kota. Entah itu, perempuan luar Papua alias paha putih atau Perempuan Asli  Papua  dari daerah lain. Ada juga istri-istri yang mengaku bahwa suaminya mungkin sedang sekolah di kota. Oleh karena itu, jangan heran jika banyak istri-istri juga yang ambil keputusan untuk mau mengikuti Program Keluarga Berencana (KB). Selain itu, ada lagi istri-istri yang selingkuh dengan Pria Idaman Lain (PIL). Jika, hal-hal demikian terjadi, sebaiknya kita mau salahkan siapa lagi?. Semuanya itu, terjadi hanya karena banyak sekali bapak keluarga yang tinggal berbulan-bulan bahkan tahun di kota yang dekat dengan bandar perjudian togel.
 
Hal yang paling mengerihkan lagi adalah karena hanya masalah togel nyawa manusia pun pernah melayang. Salah satu contohnya adalah Kasus Dogiyai Berdarah yang terjadi pada tahun 2011 silam.  Kasus tersebut adalah bermodus penembakan oleh oknum polisi terhadap tiga warga sipil yang terjadi di Dogiyai. Peristiwa tersebut bermula saat aparat kepolisian menggerebek lokasi penjualan judi togel di Komplek Pasar Moanemani Ibu Kota Kabupaten Dogiyai. Selain nyawa manusia, banyak harta benda juga yang hilang sekejap, antara lain; kios-kios milik pedangang, sebuah Gedung Gereja Kristen Indonesia (GKI), Sebuah Masjid,  rumah-rumah warga setempat,  ternak dan tanaman pun habis karena peristiwa  tersebut. 

Padahal, sebenarnya Suku Mee adalah salah satu suku besar yang ada di Tanah Pedalaman Papua. Suku ini juga memiliki nilai-nilai budaya yang diwarisi sejak zaman nenek moyang. Nilai-nilai budayanya adalah termasuk gaya hidup dan mata pencaharian warga. Selain itu, suku besar ini juga memiliki pandangan hidup atau pedoman dalam hidupnya. Pandangan hidup atau pedoman hidup (way of life) dari Suku Mee adalah seperti yang dikemukakan oleh seorang pastor asal Suku Mee yakni; Pastor Dr. Neles Kebadaby Tebay, Pr., yang dikutip dari Pekei (2008:180). Isi dari pedoman hidup Orang Mee di Pedalaman Papua tersebut antara lain; Pertama: dimi akauwai awii, yang artinya “jadikan pikiran sebagai kakakMu, Kedua; dimi pito awii “jadikan pikiran sebagai pelita atau obor” dan Ketiga; dou (melihat), gai (berpikir/refleksi), ekowai  (bekerja) dan ewanai (menjaga apa yang sudah kerjakan).

Oleh karena itu, sesungguhnya Masyarakat Suku Mee di Pedalaman Papua hendaknya bersyukur karena telah memiliki pedoman hidup (way of life) yang diwarisi sejak zaman nenek moyang. Pedoman hidup tersebut berfungsi sebagai daya penyaring (filterisasi) terhadap semua budaya yang datang dari luar. Ibarat sebuah komputer yang memiliki antivirus. Komputer yang memiliki antivirus, ia akan otomatis mengsken  segala virus yang kiranya akan mengganggu. Oleh karena itu, mulai saat ini Masyarakat Suku Mee di Pedalaman Papua tidak perluh mengkambinghitamkan orang lain atas perbuatannya sendiri. Dan, jika hal itu terjadi maka, sebenarnya kita sedang menyanggal Tuhan yang telah memberikan akal budi untuk menetapkan pedoman hidup Orang Mee tersebut.

Salam perubahan…!!!     *)Penulis adalah Alumnus dari  Program Studi Bimbingan dan Konseling (Psikologi), Universitas Cenderawasih Jayapura Papua tahun 2012. Menaruh Perhatian pada Masalah Pendidikan dan Kebudayaan di Papua.       

Perjudian Togel sedang Mengancam Gaya Hidup dan Mata Pencaharian dari Masyarakat Suku Mee di Pedalamam Papua Reviewed by Majalah Beko on 21.36.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.