BREAKING NEWS

Berita

Yakobus, si Kreatif di Balik Gunung

Tak ada listrik, tak ada komputer, tak ada video game. Itulah keadaan Yakobus dan teman-temannya di sebuah dusun kecil di Pegunungan Papua. Bagi mereka kekurangan barang-barang itu bukan masalah. Bahkan mereka belum mengenalinya. Mereka sangat riang bermain di bawah pepohonan dan menikmati indahnya alam di sekitar rumah mereka. Udara yang sejuk, sungai-sungai yang jernih bak kristal serta kicauan burung yang merdu membuat mereka betah.
Perumahan warga di dusun itu tak lebih dari sepuluh. Rumah-rumahnya masih beratap ilalang. Di pekarangan rumah-rumah itu ditanami dengan talas,ubi jalar, tebu dan sayur-sayuran serta tanaman obat-obatan. Rumah dan taman ada pagarnya sehingga hewan-hewan liar atau ternak tak dapat merusak taman-taman yang ada. Hal ini membuat tumbuhan dalam taman itu tumbuh subur ketimbang kebun-kebun  mereka yang lain yang masih jauh dari rumah.
Orang tua Yakobus sangat sibuk dengan pekerjaan di kebun. Mereka menanam, mencari bibit dan memanen hasil kebun untuk kebutuhan kelurga. Sebagian hasil panennya dijual untuk melengkapi kebutuhan mereka yang lain. Sementara tugas Yakobus dan teman-temannya adalah mengumpulkan kayu bakar, menyediakan air minum dan memberi makan pada ternak mereka.  
Di waktu luang mereka sering bermain. Seperti kejar-kejaran, bermain kelereng dari biji-bijian dan permaian tradisional yang lainnya. Saat malam hari sebelum tidur, mereka sering mendengar cerita dari orang tuanya. Cerita dongeng, mitos, atau legenda. Yakobus dan teman-temannya sangat senang dan tertarik untuk mendengarkan cerita-cerita itu. Bahkan saat orang tuanya bercerita mereka seakan-akan membayangi yang sesungguhnya.
Ketika Yakobus beranjak umur enam tahun, orang tuanya menginginkan Yakobus sekolah. Orang tunya ingin anaknya harus memilki pekerjaan yang berbeda dari orang tuanya. Mereka menginginkan agar Yakobus menjadi pribadi yang dapat membuat tersenyum pada banyak orang. Saat itu Yakobus diantar ke sokolah. Yakobus juga sangat senang dengan niat dan nasihat orang tuanya.
Letak rumah Yakobus dan sekolahnya sangat jauh. Ia dan teman-temannya harus berjalan melewati sungai-sungai dan lereng-lereng gunung. Setiap pagi ia harus pergi ke sekolah. Ia tak peduli pada embun dan dingin pagi yang sangat menusuk kulit. Bagi Yakobus dan teman-temannya itu adalah tantangan terkecil yang harus dilewati. Semangat mereka yang membara membuat mereka tersenyum.
Di sekolah, Yakobus bertemu dengan teman-teman baru. Ia juga harus berkenalan dengan guru-gurunya. Namun, bahasa indonesia membuat Yakobus garuk kepala. Ia harus belajar bahasa indonesia untuk bermain dan berinteraksi dengan teman-teman serta guru-gurunya. Di kampung Yakobus dan teman-temannya menggunakan bahasa daerah sebagai  bahasa pengantar. Sementara di sekolah bahasa daerah mereka tidak terdengar bahkan tidak berlaku. Kecuali berkomunikasi dengan teman-temannya saat jam pulang.
Bahasa indonesia menjadi suatu kendala bagi Yakobus. Nilai-nilai pelajaran lainnya juga sangat tidak memuaskan. Kecuali matematika, ia masih bisa berhitung. Pelajaran matematika memberi sedikit pencerahan baginya. Pelajaran itu menjadi motivasi bagi dirinya. Sementara teman-temannya mencemoohkan dia sebagai anak yang “idiot”. Ia tak berkecil hati atas ejekan itu namun ia lebih bersemangat.
Suatu saat di kota mereka diadakan sebuah perlombaan. Perlombaan ini menguji kreatifitas anak. Dimana anak-anak di setiap sekolah diminta untuk membuat sebuah permainan baru. Permainan yang tak pernah dijual di pertokoan. Banyak anak yang mendaftar untuk mengikuti perlombaan itu. Yakobus merasa ingin mencoba untuk mengikuti perlobaan itu. Ia mendaftarkan diri mewakili sekolahnya bersama teman-temannya yang lain.
Pada saat perlombaan ia berada pada daftar paling terakhir. Banyak siswa dari setiap sekolah yang mencoba membuat permainan namun tak pernah berhasil. Kini tibalah saatnya untuk si Yakobus. Ia maju dan membuat sebuah permainan yang ia ketahui dari dusunnya. Ternyata ia sukses. Ia membuat sebuah permainan yang memang tak dapat ditemukan di pertokoan.
 Ia menjuarai pelombaan itu. Ia membawa nama baik bagi sekolah mereka. Sebuah kehormatan bagi guru-gurunya dan teman-temannya. Sekolah mereka mendapat sebuah penghargaan dari walikota. Dan si Yakobus diberi piagam penghargaan sebagai pemenang. Ternyata si Yakobus yang “idiot” itu punya potensi diri yang spesial. Mulai saat itu ia bukan si “idiot” dari balik gunung. Guru-gurunya dan teman-temannya sangat mengagumi Yakobus. Ia membuat mereka tersenyum kegirangan.
*Jhoni 
Yakobus, si Kreatif di Balik Gunung Reviewed by Majalah Beko on 22.42.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.