BREAKING NEWS

Berita

Senin Sore, Di Perumnas 3 Waena

Senin, 11-08-2014, Sore itu sekitar pukul 04.00, di putaran taksi waena saya berajalan di tangah kerumunan taksi waena berwarnah putih itu jurusan Ekspo, Waena, Perumnas 1 Perumnas 2 dan Perumnas 3 takkalah juga kendaraan roda dua juga amat membludak.

Sore itu saya lewat persis di depan pos Polisi perumnas 03 berhadapan dengan warunga makan padang yang banyak mencuri banyak perhatian warga itu setiap saat, saya berdiri persisi di samping Mesin ATM Bank mandiri itu, sambil berbincang-bincang dengan Alfa Rumpombo Ketua Asrama Nabire di Padang Bulan saat itu, ia bercerita banyak soal skripsinya karena besok ia akan ujian wah ia amat gembira tapi bagi saya dan dia tentunya tetapi. Sayang, di samping kami berdua tampak seorang lelaki asal Pegunungan yang hendak di pukuli oleh pihak keamanan “polisi” menggunakan rotan panjangnya 50 cm. Di tulang punggungnya. Ia di Pukul karena saat itu dia minum Minuman Keras, pemukulan eperti itu, seringkalai terjadi dimata saya, mereka bisanya di pukuli seperi binatang. Perbincangan kami berdua usai, lelaki yang miras  itu di arahakan untuk pulang.

Saya pamitan dengan Alfa lalu, pergi menyebrang jalan dan persis di depan tempat foto kopian kecil itu sampingnya terdapat tokomilik orang china, langkah saya terhenti sejenak di Persisi di depan warung makan Papua Bisa pemiliknya Hakim Bahabol. Saat itu Saya bertemu dengan Alo Yeimo saudara saya ia bertanya baru mau kemana? Saya mengatakan, “ah sa jalan-jalan cuci mata saja, sambil melihat cewek-cewek di sekita putaran taksi sini.” Ia, tertawa heheheheh, kenapa tidak laki-laki yang ko lihat. “Hehehe, ah bosan laki-laki itu kan sama-sama tho.” Uajar saya.

Saat itu memang harapan saya jadi nyata, karena Semua perempuan dari Sorong sampai Merauke bahkan perempuan dari luar Papua juga banyak berkeluyuran di Putaran Taksi Perumnas 3, Yah sekedar melihat mereka sepintas lalu, mata terasa legah kembali, walau hati tidak menerima dengan cara perempuan Papua zaman sekarang, yang mengubah rambut keriting menjadi rambut lurus, kemudian ada pula yang menggunakan celana sebatas paha, baju yang amat ketat, seolah olah mereka gunakan pakaian anak kecil seumuran SD dan sebaginya.

Sore itu tampak begitu banyak perempuan yang berkeluyuran entalah mau buat apa pasti hanya untuk sekedar hiburan di putaran taksi perumnas 03 itu. Alo sambil ketawa mengatakan kepada saya “Ah kenapa perempuan dulu yang ko sebut.”  Sa ketawa kecil-kecil hehehehkwkwk....! sambil melihatnya dan berkata, heheheh....! Kitakan lelaki tho masa lelaki mau suka sam lelaki tu hehehehe hanya sekedar cuci mata saja tho hehehe...mengulang kalimat diatas.

Sambil ia mengajak ngobrol ia mengajak untuk makan buah pinang  yang sedang ia kantongi, dia sendiri sedang menguyah buah pinang giginya memerah, tanganya ia plester karena terkena pintu mobil, kata dia. Sambil melihat ke arah saya.

 Tetapi sa justru,  melihat ke arah samping kiri dan kanan saya hampir semua lelaki Papua dari Sorong sampai Merauke ada di tempat itu, hampir sebagian besar mengunyah buah pinang sambil tertawa-tertawa, nada juga yang santai sambil ceritatera, ada juga menuggu taksi untuk menuju ke abepura, ada pula dari mereka yang bergandengan dengan cewek, semntara di toko-toko kios milik non Papua itu mereka sibuk melayani para pengunjung notabene orang asli Papua yang berbelanja di toko kios milik orang non Papua.

Sementara mama asli papua dari pegunungan itu sedang berjualan pinang di depan toko toko itu, tumpukan pinang yang mereka jual ialah pinang 1 buah seri di sertai dengan sisri kapur, setumpuk besar buah pinang harganya 30.000 semntara pinang 2 buah seharaga 2000 lumayan laris, sempar saya bertanya tanya kepad mama saat itu merek mengatkan yah perhari mereka bisa mendapaktan uang sebesar  200.000-300.000 perhari, itupun kalau pengunjung ramai, ujar mama asal yahukimo itu, dengan hasil dagannya ia bisa menyekolahkan anaknya hingga perguruaan tinggi, banyak mama di papua yang berhasil menyekolahkan anak anaknya dengan hasil dagangan buah pinang.

Saya kembali berpamitan dengan alo untuk melanjutkan perjalanan saya ke depan gapura uncen, tempat Mahasiswa uncen memalang kampus dan berorasi menyampaikan aspirasinya, tidak hanya uncen di depan gapura uncen juga menjadi titik sentral bagi KNPB oragnisasi gerakan Papua Merdeka yang menjadi media bagi masyarkt Papua untuk menyampaikan aspirasi Papua, atas kekeliruan sejarah di Papua, saya hanya berjalan mengenag tempat itu karena banyak saya belajar menulis dari tempat itu tak lama kemudian saya kembali ke depan gereja adven hari ketuju jemaat waena, dang mengamati sekolah gratis saat itu di.

Belajar Dari Merka Yang Tak Bersekolah

Saya sering mengatakan mereka adalah inspirasi dan tulang punggung orang Papua, dalam melakoni bidang usaha sekalipun mereka berjualan pinang,  dan hasil bumi lainnnya, seperti, sayur mbingga daun ubi, kopingga daun buah jipang, jagung bakar, ubi jalar, petatas, kacang tanah, buah labu, pisang dsb.

Saya tergiur dengan jagung bakar dan kacang bakar yang di jual oleh mama mama Papua itu, saya tidak membelinya, karenasa tra pu uang, saya meliht sore itu perisis pukul 05.30 WP saya mengamati akativiata mama mama itu, mereka menanti para pembeli, ada juag yang memencet tombol HP entah menelpon dan ad yang bermain game, ada yang mengendng anak anaknya, ragam aktifitas mama mam itu menanati siapa yang akan datang  hasil jualannya.

Banyak mahasiswa yang berbelanja barang dagan milik mama mama Papua saat itu, karena pasar itu dekat dengan kos kosan, dan asrama milik para mahasiswa, di depan pasr mama itu terdapat warung makan, tempat foto copyan, penjilid, wah asyik ada pelajaran berharga dari mama- mama yang berani bersaing membangun ekonomi kerkayan bagi orang Papua yang di katan terbelakang, tertinggal ini, disitu saya belajar pelajaran ekonomi dimana saat mereka melakukan transaksi jual beli, disitu juga saya belajar bagagimana setia menuggu, tabah rendah hati, dan lainnya kita sekalian bisa memaknai peristiewa harian para pedagang asli Papua itu.

Mata saya sedikit perih, melihat aktifitas itu air mata tak terbendung, sa berpalaing dari arah mama amam itu kemudian saya melanjutkan perjalan singakt sore itu, saya kembali lagi ke arah gapura uncen sambil mengusik airmata yang berjatuhan di pipi, lalu sa menoileh ke arah toh buku lamadi de lamato, tampak sepih, di depan tokoh buku itu terlihat mahasiswa mahasiswi Papua yang sedang bercerita keseharian merka di kos entlah denan pacar mereka dan lainnya, tokoh buku tampak hening sayagunakan sedikit kesempat untuk melihat buku buku budaya sosial politik yang di jual di tikoh buku tersebut.

Lamadi pemilik tokoh buku itu pun tampak serius katanya pada saya selamat soere adik, sore kaka ujar saya, saya hanya mau melihat buku buku kakak, okey silahkan adik. Ujarnya.  Kemudian saya hendak masuk dan melihat buku buku yang memang baik dan relefan di baca oleh mahasiswa tetapi sayang jarang mahasiswa yang hendak mengunjungi saya bertanya kepadanya, kaka seberapa banyak pengunjung d tokoh buku ini kemudia lamadi mengaktan ah ade sa tra butuh banya orang yang datang ke sa pu tokoh buku ini merkea mereka yang merasa penting meraka akan datang untuk mengunjungi ujar lamadi megapa demikian tanya saya yah karena hari-hari sunyi siapa yang mau beruhkan pasti mereka datang mengunjunginya. Kok kaka setia yah, iaya saya setia biar kesetiaan saya ini akan dinilai oleh, generasi saya uajarnya optimis. Terimakasih kakak ujar saya.

Sambil menyodorkan uang 30 ribu rupiah untuk membelibuku berjudul Kamus Jurnalistik, yah sesuai dengan jurusan saja, mau dan tidak saya harus beli untuk pertanggung j
awabkan, sesuai dengan jurusan yang saya lakoninya di kampus stikom.

Satu satu mahasiswa berdatang membeli, teh kota, alberrt Tatogo teman saya juga mengunjungi saya dan ia melanjutkan perjalanananya ke abepura, okey kawan sa jalan dulu ee ia kawan hehehehhe, ada juga yang menggengdong anak dan berceriterea di depan saya keluar persisi pukul 06.20 persis di teras toko buku itu saya berjumpa lagi dengan pemuda 3 mereka duduk sambil menguyah buah pinang sa bepamitan dengan dorang yo kam 3.
 Saya pulang sekita pukul 07.00 saya melihat mama mama paua itu masih berjualan, saya buru buru pulang karena harus kembali ke kos saya yang letaknya di Perumnas 1 Dalam, saya melefting taksi dan naik menuju Kos, yang seringkali saya sapanya dengan Istana Inspirasi untuk menuliskan perjalanan singkat saya ini semoga kita sekalian meresapinya sebagai manusia Papua yang HIDUP. (Akapakabi)
Senin Sore, Di Perumnas 3 Waena Reviewed by Majalah Beko on 14.35.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.