BREAKING NEWS

Berita

Penilaian Kaum Intelek Suku Mee Terhadap Pendidikan di Era Globalisasi

Oleh Akulian Gobai
Ilustrasi pendidikan. Foto: Ist.
Jangan komentar dan khwatir atas fakta dan kehadiran kata “era  globalisasi”, mengapa? Sebab, global adalah salah satu energi untuk pengujian skill (ketrampailan) dan potensi kita. Jangan salah prediksi dan berasumsi bahwa, zaman kontemporer adalah zaman yang penuh dengan segala keenakan dan inovasi-inovasi modern. Akan tetapi, sebuah penilaian oleh kaum intelektual suku Mee membuat kita termotivasi dan mampu berjuang dengan landasan hakekat pengetahuan kita masing-masing.

Hati-hatilah dengan langkah dan jejak kita, mengapa? Karena kehidupan kita ini menggambarkan seperti sebuah uap atau angin yang mudah hilang tanpa jejak dan atau bisa memasuki lubang dalam perjalanan hidup kita. Sebagai makhluk sosial yang mempunyai akal budi dan perasaan, jangan menghargai seseorang dengan kelebihan dan harta benda akan tetapi hargailah seseorang dari pikiran (dalam bahasa Mee : dimi) sebagai kakak atau bapa kita yang memotori hidup kita. Ibarat dipandang dipasangnya kaca spion mobil kiri dan kanan agar sebuah mobil tidak bisa masuk ke jurang atau jatuh. Inilah sebuah perspekstif yang dipandang dari kalangan kita sendiri.

Pemberian nilai yang diberikan orang lain kepada kita, dapat diukur berdasarkan tingkat pengorbanan dan usaha kita, bukan berdasarkan nilai nominalnya. Dalam penilaian pengetahuan akan inovasi-inovasi serta globalisasi yang sedang berbaur pada manusia ini, selalu dipengaruhi pola pikir kita yang baik, sehingga dalam waktu ke waktu dan hari ke hari kita mempertanyakan bahwa hal ini datangnya dari arah mana.

Pendiddikan adalah seluruh usaha mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan watak baik bagi setiap individu dan warga masyarakat yang menghuni muka bumi ini. Setiap manusia yang merasa dalam kehidupan aman, tenang, tabah, dan baik menanggapi bahwa sebagian dari pendidikan itu telah dikuasai dan dipahami dalam kehidupannya. Mari kita belajar dan melihat apa itu pendidikan.

Pada dasarnya setiap manusia adalah makhluk sosial. Makhluk yang wajib memfantasikan sikap kesadaran dirinya secara netral. Ketika manusia memiliki rasa percaya diri dan bisa merenungkan apa yang dilakukannya, maka segala kebutuhan, rancangan, dan program kerjanya akan nampak dan datang dengan sendirinya.

Manusia terdiri dari dua tubuh dan dua fikiran, kenapa dikatakan demikian? Ketika Tuhan Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan Allah sendiri, apa yang diciptakan manusia itu? Setiap kali kita lihat dan dengar tentang berita keselamatan pada saat aktivitas spirit di hari-hari tertentu bahwa manusia diciptakan dengan debu dan tanah. Setelah menciptakan manusia, sang Pencipta memberikan nafas kepada manusia ciptaan-Nya, sehingga manusia itu bersuara dan hidup. Dengan melihat kalimat di atas, bagaimana dengan pendidikan spiritual biologis atau jasmaniah pada setiap orang selagi menanti kedatangan-Nya dan selagi ada nafas hidup?

Maka itu, mari kita mempelajari dan melihat langkah-langkah dan metode untuk kita mengikuti suatu doktrin di berbagai aspek kehidupan kita.

1. Pendidikan Spritual
Pendidikan spirit merupakan suatu aktivitas yang dapat mempelajari, memahami, dan melayani subjek (individu) tertentu. Manusia adalah makhluk yang mulia dan berakal budi, serta makluk yang sempurna.

Sementara itu, menurut Fransiskus Ign. Bobii dalam buku “Herman Tillemans Awee Pitoo”, Bab I halaman 1 mengatakan bahwa, suku bangsa Mee mengenal dan mengajarkan tentang Hukum Kaboo Manaa (Ajaran Allah Yang Paling Dasar).

Pada zaman dahulu, segala sesuatu sangat signifikan dan berguna, sehingga kehidupan nenek moyang suku Mee hidup menuruti hukum yang ada. Hukum  tersebut dianggap sebagai pendidikan utama bagi mereka (leluhur suku Mee). Relasi kehidupan pun baik, kemudian garis sosial secara horizontal dan vertikal juga lancar. Mengapa? Sebab realitas lingkungan alam pikiran, alam transenden, dan simbol religi bagi mereka berguna dan bermanfaat. Oleh karena itu, zaman ini telah mengetahui pendidikan formal atau pendidikan tradisional.

2. Pedidikan Jasmaniah
Apa itu pendidikan jasmani? Hal ini dapat kita deskripsikan dan lihat pada letak masalah yang sering nampak di dalam kehidupan individu dan kelompok manusia yang berkaitan dengan pendidikan jasmani bahwa mengoreksi dan memprediksi kebudayaan kita yang telah lama ada bersama manusia Mee sejak dahulu.

Untuk itu mari kita membangun sikap saling membantu dan saling melengkapi segala kelemahan dan kekurangan, sebab manusia pada awalnya tidak luput dari kesalahan dan kekurangan.

Demikianlah langkah-langkah untuk dapat mengetahui dan memahami apa itu era globalisasi yang sedang beredar di muka bumi ini. Mungkin opini ini jauh berbeda. Namun, saya juga beragumen tidak sedetail mungkin. Sehingga, saya memohon kepada pembaca agar memberikan saran, revisi, masukan, dan kritik yang bersifat mambangun dan memotivasi bagi penulis demi kelancaran tulisan selanjutnya.

*)Penulis adalah mahasiswa asal Papua yang sedang studi di Manokwari
Penilaian Kaum Intelek Suku Mee Terhadap Pendidikan di Era Globalisasi Reviewed by Majalah Beko on 22.10.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.