BREAKING NEWS

Berita

Bupati Nabire Periode 2015-2020 Harus Kembalikan Kota Baru di Kabupaten Nabire

Oleh Yohanes Dogomo
Yohanes Dogomo. Foto: Dokumen pribadi.
Kabupaten Nabire adalah kabupaten yang tertua di antara kabupaten-kabupaten yang ada di bagian Mee Pago. Orang mengatakan Nabire adalah kota persaingan.   Kadang, bagi para calon legislatif (caleg), khususnya bupati mengatakan Nabire orang yang akan dicaleg Bupati kembalikan Kota Emas, dan Kota Gerakan Perubahan (GERBAN) Nun Biru dan Kota Baru yang ada, dan sudah ada dan bagaimana cara untuk meningkatkan dan mengembangkan guna mewujudkan.

Sementara ini, berbagai isu telah berkembangan di kalangan masyarakat dan pemerintahan mengenai caleg bupati dan wakil bupati periode 2015-2019. Isu yang berkembang tersebut antara lain: “Orang ini maju dan orang itu maju.”

Semua orang bisa caleg bupati dengan memenuhi syarat-syarat sesuai aturan yang ada di Negara Indonesia berdasarkan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dan aturan Komisi Pemilihan Umum (KPU) serta aturan Otonomi Khusus (Otsus).

Apabila terpilih menjadi bupati (kepala daerah), harus kembalikan pembangunan yang ada. Karena sebagai kepala daerah, tupoksi dan tanggungjawab diberikan dekonsentrasi dan masyarakat.

Untuk mau membangun harus ditata baik dan penempatan jabatan sesuai dengan jurusan. Selain itu, jangan memberikan jabatan berdasarkan sistem kekeluargaan, sukuisme, dan elit politik, karena selama ini, berbagai masalah terjadi dan daerah tidak dibangun dengan baik sesuai mekanisme dan prosedur yang ada di Pemerintahan Nabire dan di Papua.

Pembangunan di Nabire ada, ketika Drs. Anselmus Petrus You menjabat sebagai Bupati Nabire selama 2 periode (1994 – 2004). Pada masa ini, Nabire dikenal dengan Kota Emas, Kota Baru dengan moto “Gerakan Pembangunan (Gerban) Nun Biru. Kenapa bupati setelahnya dan para caleg baru tidak bisa seperti Anselmus Petrus You? Sebenarnya, semua orang bisa membangun daerah Kabupaten Nabire.

Sementara itu, Isaias Douw, S.Sos, Bupati Nabire periode 2010-2015 “membangun” Nabire dengan moto “Pembangunan Dalam Kasih”. Itulah yang telah dijalani Isaias hingga jabatannya berakhir.

Semua lorong atau jalan masuk diaspal hingga kelurahan dan distrik di daerah terpencil bisa diakses. Dinas perkantoran yang ada setengah tembok begitu menarik. Itulah figur jiwa yang membangun daerah dan  berhati membangun sebagai anak negeri Nabire.

Masyarakat yang ada di Kabupaten Nabire jangan sembarang memilih caleg Bupati Nabire periode 2015-2020. Masyarakat harus melihat latar belakang dan kehidupan caleg yang hendak dipilih. Jika salah pilih, berbagai masalah akan terjadi dan daerah Nabire tidak akan dibangun dengan baik.

Sementara ini juga, lingkungan pemerintahan Kota Nabire saja belum ada  perubahan, misalnya sampah selalu bertumpukan hingga membentuk bukit di depan Pasar Karang Tumaritis. Hal ini perlu mendapat perhatian khusus dari Pemerintah  Daerah  Nabire dan Dinas Kebersihan Nabire. Kinerja Dinas Kebersihan Nabire bisa dikatakan baik, tetapi salah satu langkah yang diterapkan adalah saat jam kerja pemimpin tidak mengontrol dan mengarahkan karyawan.

Selain itu, di Terminal Karang Tumaritis dan Oyehe selalu  dihiasi dengan aktivitas pemuda/i dengan meminum minuman keras, baik yang diproduksikan dari luar Papua maupun Papua. Kepala Daerah Nabire yang besok terpilih  harus diperdakan hal ini agar kondisi kota aman. Karena adanya pengedaran minuman beralkhol, banyak orang di Nabire meninggal. Ketika minuman minuman beralkohol hingga teler, timbul hubungan seks di luar nikah antara perempuan dan laki-laki yang berdampak pada penyakit HIV dan AIDS. Sehingga, angka kematian di Nabire lebih banyak dibanding dengan kabupaten lain, karena Kabupaten Nabire adalah kabupaten pintu masuk dan keluar minuman beralkhol.

Kapankah Kabupaten Nabire dijadi Kota Baru lagi? Setiap pemimpin dengan berbagai program kerja dan visi-misi itu hanya janji belaka saja. Oleh sebab itu, dalam pemilihan bupati periode 2015-2020, masyarakat Nabire jangan memilih berdasarkan ras, suku, dll. Tetapi, pilihlah secara demokrasi guna mewujudkan pembangunan yang baik di Kabupaten Nabire.

Konflik selalu ada di tanah Papua dengan adanya pemilihan presiden, DPRP, DPR, bupati dan desa. Oleh karena itu, caleg bupati Nabire periode 2015-2020 harus jalani sesuai dengan prosedur dan mekanisme yang ada di Negara Indonesia ini: Sistem Demokrasi.

Ketika masuk arena politik, para caleg dan masyarakat harus pahami sebaik mungkin tentang cara berpolitik. Jabatan jangan digunakan hanya untuk kepentingan pejabat saja. Biasanya korban dari hal ini adalah  masyarakat dan fasilitas pemerintahan, sepertinya di Kabupaten Dogiyai berbagai masyarakat korban dan luka-luka, serta beberapa kantor dibakar oleh salah satu kubuh. Hal-hal tersebut bukan kesalahan masyarakat, tapi pihak caleg bupati dan KPUD. (***)
Bupati Nabire Periode 2015-2020 Harus Kembalikan Kota Baru di Kabupaten Nabire Reviewed by Majalah Beko on 17.01.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.