BREAKING NEWS

Berita

7 Hal Yang Hanya Dialami Orang Papua di Tanah Rantauan

Oleh Neson Elabi
Nelson Elabi. Foto: Dokumen Penulis.
1. Salam-Sapa, Walaupun Tak Kenal
“Hitam Kulit, Keriting Rambut” adalah anugerah Tuhan yang paling indah bagi kami, orang Papua (OP).  Hitam kulit, keriting rambut menjadi modal berharga bagi kami, orang Papua di tanah rantauan.

Bagi kami, anak-anak papua yang merantau di tanah Jawa atau beberapa kota lainnya di luar Papua, enggan lewat tanpa sapa ketika bertemu dengan sesama saudara kami, orang Papua, entah itu kami bertemu di jalan, kampus, dan tempat “ngopi” atau di mana saja.
Salam-sapa, "Kipo Moti". Foto: Ist.
Berjabat tangan dan bersalam-salam atau hanya sekedar membunyikan klakson atau melambaikan tangan dari atas sepeda motor, ketika kami menjumpai sesama orang Papua, menjadi suatu  kebiasaan dan kebanggaan tersendiri bagi kami orang Papua di tanah  rantauan.

Walaupun bisa dikatakan di tempat asal kami (Papua), mungkin kami berbeda suku, adat, bahasa, kampung, atau tidak saling mengenal, bahkan bermusuhan, namun salam-sapa dan senyum antara kami, orang Papua di tanah rantauan inilah yang membuat kami, orang Papua bersatu dan saling akrab di tanah rantauan.

2. Sulitnya Mencari  Tempat Tinggal (Kos/Kontrakan) di Tanah Rantauan
Sulitnya mencari tempat tinggal (kos atau kontrakan) adalah hal utama yang kami, orang Papua rasakan di tanah rantuan. Hal ini disebabkan oleh persepsi sebagian masyarakat lokal terhadap kami, orang Papua tidak bisa diatur. Hal ini akibat ulah yang  dilakukan hanya satu atau dua orang Papua. Penilaian semacam inilah yang lengket pada kami, orang Papua di tanah rantauan, padahal tidak semua orang Papua semacam itu.
Kost. Foto: Ist.

3. Filosofi “Hari Ini Untuk Hari Ini, Besok Akan Ada Harinya Sendiri”
Filosofi “Hari ini cukup untuk hari ini, besok mempunyai harinya tersendiri” ini akan Anda jumpai di hampir semua kehidupan orang Papua. Kami, orang Papua mempunyai berbagai kebiasaan. Jika mempunyai uang, kami tidak tertahan untuk mentraktir teman-teman, bahkan menghabiskan uang tersebut dalam tempo yang singkat. Sebabnya, orang sering menganggap kami, orang Papua boros. Namun ini adalah kebiasaan dan bawaan kami, orang Papua.

4. Laptop, Kamera, dkk Menjadi Solusi Saat Terkena Infeksi Saluran Keuangan (ISK) 
Bagi orang Papua di tanah rantauan yang mempunyai laptop, kamera,  dan barang berharga lainnya menjadi solusi saat terkena infeksi saluran keuangan (ISK). Menggadaikan laptop, kamera, dan barang lainnya menjadi sandaran terakhir bagi kebanyakan orang Papua. Gadai barang adalah suatu hal yang menjadi kebiasaan bagi kami, orang Papua yang merantau.
Saat Infeksi saluran keuangan (ISK) datang. Foto: Ist.

5. Sirih-Pinang Bagaikan Peribahasa “Dimana Ada Gula Di Situ Ada Semut”
Sirih-Pinang adalah salah satu kebutuhan yang terpisahkan dari kehidupan orang Papua. Beberapa daerah mengunyah sirih-pinang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang lanjut usia di Indonesia. Namun, berbeda dengan masyarakat Papua. Bagi masyarakat Ras Melanesia yang mendiami pulau paling  timur Indonesia itu mengunyah sirih-pinang menjadi kebutuhan bagi hampir semua kalangan, terutama bagi kalangan muda.

Selain dipercaya untuk memperkuat gigi, sirih-pinang menjadi salah satu makanan penyambutan tamu di beberapa suku di Papua.
Pinang. Foto: Ist.
Sementara itu, bagi orang Papua yang merantau, sirih-pinang bagaikan peribahasa “Dimana ada gula, di situ ada semut”: di manapun orang Papua merantau, di situlah budaya mengunyah sirih-pinang akan dibawa.

6. Satu-Dua Berulah, Semua OP Disamakan
Bagi kebanyakan masyarakat lokal, orang Papua sering dinilai berdasarkan fisik atau penampilannya. Hal ini diperkuat dengan ulah beberapa orang Papua yang bertentangan dengan etika dan budaya lokal di tanah rantauan.  Akibat ulah beberapa orang ini, masyarakat lokal menganggap semua orang Papua sama. Persepsi semacam ini adalah hal yang keliru, karena tidak semua orang Papua yang merantau memiliki tingkah semacam itu.

7. Noken Papua Menjadi Sapu Tangan Liburan
“Liburan pulang nggak?” Kalau pulang, aku pesan Noken ya.” Kebanyakan semacam ini sering dihadapkan terhadap kami, orang Papua dari teman-teman yang berasal dari non Papua. Noken Papua memiliki suatu ketertarikan tersendiri, sehingga menjadi identitas bagi kami, orang Papua. Noken terbuat dari bahan alami dan tradisional, sehingga banyak diminati oleh banyak orang.
Noken. Foto: Ist.

*) Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Planologi di ITN Malang
7 Hal Yang Hanya Dialami Orang Papua di Tanah Rantauan Reviewed by Majalah Beko on 10.56.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.