Breaking News

Berita

Papua Hidupku: Hidup antara Hitam dan Putih

Oleh Yohanes Giay
Yohanes Giay. Foto: Dokumen Penulis.
Kalau kita masuk ke suatu ruangan tertutup tanpa penerangan sama sekali, kita tidak akan melihat apa-apa. Apapun yang terdapat dalam ruangan tidak akan kelihatan wujudnya, semuanya hitam pekat. Namun ketika kita membawa masuk sedikit cahaya, satu lilin kecil misalnya, akan kelihatan samar-samar isi ruangan. Makin besar cahaya di ruangan, 1 bola lampu 500 watt misalnya, akan makin jelas kelihatan apa saja yang ada dalam ruangan tersebut. Singkatnya, terang berfungsi bagi manusia agar mampu melihat, mengenal dan membedakan obyek di sekitar kita. Idealnya cahaya di mana pun, mencukupi sehingga memungkinkan manusia mampu mengidentifikasi apapun yang ada di sekitarnya. Ibarat mau membedakan warna, cahaya mesti cukup bagi manusia untuk melihat jelas kontrasnya fenomena-fenomena dalam kehidupan kita ini, harus nampak hitam atau putih misalnya, bukan abu-abu.

Tuhan Yesus antara lain menginginkan kita berfungsi sebagai penerang (Matius; 14-16). Terang yang dimaksud oleh Tuhan Yesus pun amat gamblang, yakni perbuatan baik seperti apa yang mesti kita tampilkan, sehingga mampu menerangi kegelapan?

Kehidupan masyarakat saat ini amat kental dengan perilaku buruk, ketidakadilan, diskriminasi, intimidasi, iri hati, kebencian, kemunafikan, balas dendam, pementingan diri sendiri, korupsi, suap dan sejenisnya adalah contoh perilaku gelap yang amat mudah kita temukan di mana-mana. di tempat kerja, kampus, sekolah, jalan raya, warung, pasar, rumah dan mungkin pula di gereja, perilaku gelap itu mudah kita temukan. Tidak tertutup kemungkinan, perilaku kita pun justru menampilkan warna abu-abu, bahkan hitam pekat.

Cara mudah agar kita tidak mudah melakukan perbuatan gelap adalah menghindari pihak-pihak yang menampilkan perilaku gelap dalam kehidupannya sehari-hari. Namun, bukan itu yang Yesus harapkan dari kita. Yesus justru menghendaki cahaya kita menerangi kegelapan dan itu hanya mungkin terjadi bila kita dengan cahaya Yesus masuk ke dalam kegelapan.

Telandankanlah sportifitas, kelemah-lembutan, kesabaran, kejujuran, empati, keadilan, dan sejenisnya, di mana pun dan kapan pun kita berada. Jadilah putih bersih, jangan abu-abu atau hitam. Dengan demikian, kita benar-benar dapat berfungsi sebagai terang bagi dunia. Selamat menerangi kegelapan. Tuhan Berkati.

*) Penulis Adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Universitas Brawijaya Malang
Papua Hidupku: Hidup antara Hitam dan Putih Reviewed by Majalah Beko on 08.17.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.