BREAKING NEWS

Berita

Lawan Mental Negatif: Berani Bangkit dari Hal Kecil

Oleh Daud Edowai
Daud Edowai. Foto: Dok. Penulis.
Segala Sesuatu Membutuhkan Proses dan Indah Pada Waktunya: Berani Bangkit dan Menghancurkan Mental Negatif Penyebab Kegagalan

“Tuhan Yesus terima kasih atas kesempatan yang Engkau limpahkan dan karuniakan untuk menulis sebuah renungan yang bersifat dorongan ini!”

Mari saudara-saudari, kita belajar bersama atau mengamati bersama dari hal kecil, karena hidup kita membutuhkan proses yang cukup lama. Kita manusia punya kelemahan dan kekurangan, maka kita tidak mungkin langsung menjadi manusia yang bermoral, tetapi hal-hal besar dimulai dari tahapan demi tahapan (proses) terus-menerus. Oleh karena itu, mari kita amati percobaan-percobaan hidup kita dalam hal-hal kecil dulu.  Jangan anggap hal kecil tidak berarti karena manusia punya dosa yang menyesatkan atau menggagalkan masa depan kita ada tiga hal: dosa malas mencoba, dosa malas melihat/membaca, dan dosa malas menulis.

Dalam Perjalanan Hidup, Mama Menggendong Kita Hingga Saat Ini dan Sampai Nanti Berakhirnya Hidup Kita.”

Apa yang kita buat dalam proses perjalanan hidup kita, di manapun dan kapanpun terus diproses dan diproses, entah kapan ada waktunya untuk berubah.

Ayah dan ibu berkomit mencari dan menemukan kami di dunia realita, di atas muka bumi ini. Saat kita tiba di dunia, apa yang kita rasakan? Kita tidak tahu satu hal pun. Kondisi dan situasi anak hanya ayah dan ibu yang tahu, mulai dari trik-trik atau gejala pada anak.

Apa yang ada dan terjadi pada kita pada waktu ibu melahirkan kita?  Siapa yang ingat tolong ceritakan! Kalau belum ada yang tahu, kita dituntut belajar oleh orang tua dalam bentuk prosesnya, sejak kapan dan di mana kita ada, serta kita datang dari mana. Mengapa saya ada di dunia dan mengapa saya dilahirkan sebagai manusia? Ketok diri Anda, maka harapan dan keluhan tentang Anda akan dibukakan.

Dunia ini adalah realita berdasarkan konteks manusia lokal dan diproses dalam perut atau di dalam kandungan mama kita. Mungkin beberapa lama yang diproses sampai kita terbentuk secara utuh dan serupa dengan manusia hingga kita dikeluarkan dari kandungan mama. Tetapi itupun masih ada di dalam  tahapan proses. Mengapa saya katakan demikian? Karena kita masih bayi dan tidak mengenal satupun yang ada di sekeliling kita. maka saya tanyakan, “Saya ada di mana, kapan saya dibesarkan, kapan saya lahir, dan kapan saya meninggal?” Sebenarnya, ini filosofi dan haluan manusia.

Sejak kecil, tidak ada seorangpun yang minta makan atau minum ataukah sesuatu barang  secara adaptasi langsung. “Tidak toh”.  Oleh sebab itu, tanyakan pada diri sendiri, berapa lama saya ada di dalam kandungan mama, berapa lama  saya ada di atas punggung mama dan bahu mama? Coba bayangkan proses perjalanan hidup Anda itu.
Okaii kouyako anikidii akatokodoo tekitaimaa miyogagoumataii mee kitouyogoko Aniya umitatokodoo. Nana pupu dimiko tegayake (Bahasa Mee).”

Waktu itu, kita belum tahu apa-apa, tetapi begitu banyak cara pembinaan yang mama berikan. Tujuannya untuk memelihara dan mendidik kita sampai besar melalui berbagai cara, sehingga kita pun mengetahui dan memahami kembali pada saat kita bayi. Kita mulai berbicara dan diteriak-teriak sembarangan, tetapi itupun bermakna besar. Mengapa saya katakan demikian? Itupun proses awal melatih diri dan membuka nalar atau suara untuk meringankan mulut juga. Oleh sebab itu, di situlah kita memahami atau mengetahuinya. Bukan itu saja, tetapi banyak  hal yang kita perlu pelajari dalam proses perjalanan sepanjang hidup kita. Bagaimana sistem untuk mengatur napas kita sampai ketika kita menemukan ”face” wajah kita untuk mengindentifikasi atau membuktikan diri atau membawa diri sebagai manusia yang sebenarnya. Artinya, “Sanyangilah diri sendiri. Saya ini saya. Kalau saya tidak sayangi saya, siapakah yang akan sayangi saya? Kalau bukan saya, siapa lagi?“ Ini bukan menjagokan ego, tetapi bagaimana caranya untuk menemukan diri saya yang sebenarnya dalam dunia ini.

Kita dapat dipelihara oleh mama dan bapa, jadi mari kita kembali melihat beberapa segi kehidupan kita nantinya, apa yang terjadi dan apa yang saya bisa lakukan di atas Tanah Papua ini. Kita harus merenungkan dalam proses perjalanan hidup ini.

Sejak kecil, kita bisa makan sedirikah atau tidak? Mama yang kasih makan. Coba mari kembali melihat sudut pandangnya hidup kita Bangsa Papua dan berpikir dari awal proses perjalanan  yang  cukup jauh ini, apa yang kita alami, baik dan buruk cobalah yang melatarbelakangi diri dari segi aspek kita masing-masing. Apakah pada saat waktu kita kecil, seketika saya dan saudara mulai melatih diri untuk berdiri, bukan untuk langsung berdiri, tetapi mungkin orang tua dan kakak yang melatih saya dan saudara untuk harus bisa berdiri.  Kita berdiri dengan berbagai cara yang mereka pakai untuk saya dan saudara bisa berdiri sendiri, tetapi tidak mungkin kita bisa berjalan langsung, berdiri dan jatuh, berdiri, jatuh dan berdiri, berulang-ulang. Sama pula dengan kita dalam organisasi maupun pendidikan dan perjuangan kita. Coba hingga kita menemukan diri sendiri yang bermoral bagi Bangsa Papua.

Sebelum beraktivitas awalilah dengan doa-doa, karena doa adalah pedoman atau kompas hidup manusia dalam proses penjelajahan dalam menghendaki tujuan hidup. Umpamanya makan atau minum, sebelum menikmati makanan tersebut, kita harus berdoa kepada Dia yang punya segalanya, yaitu Sang Pencipta atau Ugatamee (Bahasa Mee) yang tersembunyi atau tidak kelihatan itu. Doa adalah salah satu aspirasi yang disampaikan kepada Ugatamee supaya Dia yang tersembunyi akan menjawabnya dan mengabulkannya sesuai dengan kerinduan kita masing-masing.

Saat ini menjadi kesempatan buat kita untuk berubah dan belajar dari hal-hal kecil, sebelum terjun ke hidup kita. Jangan sampai kita dihambat atau ketinggalan oleh hal-hal kecil. Dalam dunia ini, ingat hal-hal apa yang perlu kita latar belakangi sebelum terjun ke dunia kerja atau dunia usaha. Kita perlu menemukan diri kita sendiri dalam dunia ini. Ini yang mengancam kita dengan mental buruk, artinya umpamanya kita mengadakan salah satu kegiatan dari pembinaan spritualitas, sebelum memulai kegiatan, kita harus membuka atau mengawalinya dengan doa. Oleh sebab itu, jangan kasih kesempatan memeliharanya yang justru membawa mental buruk bagi kita. Bukan hal itu saja, tetapi mungkin banyak hal yang mengancam kita. Penyebab dari itu, kita jangan memihak dan terjerumus dengan mental buruk itu, karena apa?

Dunia ini sulit dibuktikan dan sulit ditemukan wajah manusia yang sebenarnya. Memang manusia itu manusia, tetapi mengapa ada yang kaya-raya dan mengapa ada yang miskin? Di mana perbedaannya atau di mana garis perbatasan antara kaya dan miskin? Hidup yang sebenarnya ada di mana? Mencari dan mencari adalah proses kapan saja dan di mana saja, tak ada indikator satupun. Sampai akhirnya, hidup berakhir nantinya, kecuali manusia membatasinya dengan kondisi biologisme individualisme.

Kesimpulan
Pertama; untuk melatih diri Anda dan saya berangkat dari hal-hal kecil terhadap apa yang Anda lihat, entah dari samping kiri, kanan, depan, dan belakang itu. Kedua; sebelum saya melangkah antara satu langkah dengan satu langkah lain, yang sebelah dan menyebelah itupun harus ada proses antara satu kaki dengan satu kaki, niscaya tidak mungkin tidak segala sesuatu mengharuskan kita untuk terjun menuju puncak hidup kita. Harus dari bawa naik “bottom-up”. Tak mungkin! Semuanya dari atas turun “top-down”. Yang perlu untuk digaris bawahi adalah dari bawah naik, bukan dari atas turun. Ibarat tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam alam (flora) itu menyegarkan, ketika ada hujan turun dari atas untuk membasahi dan membuat tumbuhan bersemangat dan bermekarlah semua tangkai bunga. Sama  halnya dengan  berkat Tuhan yang mengalir dari atas.

*) Penulis adalah Mahasiswa Asal Papua yang Sedang Kuliah di Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (Unipa) Manokwari
Lawan Mental Negatif: Berani Bangkit dari Hal Kecil Reviewed by Majalah Beko on 17.36.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.