BREAKING NEWS

Berita

Mengejar Mimpi yang Dilupakan

Oleh Aten Pekei
Mengejar Mimpi yang Dilupakan. Foto: Penulis.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Inikah nasib saya? Inikah dunia saya? Apa yang bisa saya buat?... Apa yang saya buat dan genggam, tidak mudah untuk saya lepaskan. Saya ingin dan harus berlari. Jalan saya masih panjang. Saya tidak mungkin berhenti sampai sini!”
--------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ada sebuah kota yang dihuni orang-orang dengan kehidupan yang berbeda-beda. Ada yang menyamai diri mereka dengan orang yang menciptakan mereka. Ada yang seakan-akan diwajibkan untuk menghakimi sesama mereka yang lemah. Ada yang menghalalkan berbagai cara untuk mencoba menghilangkan “kunci” sang pencipta. Ada yang terlihat dengan reputasi baik lantaran kepentingan orang berdasi yang juga terlihat baik. Entah benar atau salah, mereka selalu dibenarkan di kalangan publik. Ada juga yang mengalami semua itu. Hal ini sudah membudaya di kota itu. Kota itu dikenal dengan “Kota Tua yang Dilupakan”.

Di sebuah persimpangan jalan kota tua yang dilupakan itu, hiduplah seorang bocah ingusan berjubah robek-robekan.

Dia hidup di dunia yang sangat berbeda dengan orang lain di sekitarnya. Hidupnya seperti sampah, beraneka tumpukan.

Dia direndahkan dan dikucilkan, bahkan dilupakan dengan sindiran-sindiran nihil lantaran dunianya yang terlihat kocar-kacir itu.

Setiap gelap malam tiba, dia selalu memandang tangannya dan merenung sejenak. “Inikah nasib saya? Inikah dunia saya?”, kata hatinya sambil menangisi hidupnya, “Apa yang bisa saya buat?”

Pikiran itu selalu menghantui dirinya.

Meskipun begitu, dia percaya bahwa orang yang menciptakannya di kota itu telah memberikan sesuatu yang spesial kepada dirinya untuk berkreasi.

Dia juga selalu memikirkan hal-hal yang tidak terpikirkan oleh orang lain.

Hingga suatu hari, dia mendapat tamparan keras dari mimpi malamnya. Mimpi yang mengharuskan dia untuk berkreasi sesuai tujuan hidup yang diberikan sang pencipta kepada diri yang membisu itu.

Dia mulai memungut dan mempelajari “ampas” karya orang lain yang berbiaya besar.

Dia mencoba membuat sesuatu yang berbeda dari ampas itu. Sangat sederhana, kecil, dan bertentangan dengan kehidupan kota tua yang dilupakan, itulah hasil karya si bocah itu.

Tanpa mempedulikan label orang lain, dia terus berkarya dengan apa yang dia punya. Dia selalu berkarya dengan tangannya sendiri. Tangan yang diciptakan untuk mencari dan menuntut keadilan dan kebebasan itu.

Dia lebih percaya dan suka terhadap apa yang dibuatnya sendiri. “Apa yang saya buat dan genggam, tidak mudah untuk saya lepaskan,” katanya sambil memandang karyanya.

Akibatnya, orang egois berambisi meremehkan dan memanipulasi hasil karyanya. Diperparah lagi, mereka terus berupaya membunuh karakternya dengan berbagai cara.

Bocah itu berusaha membela diri. Membela diri demi hasil karyanya untuk sesamanya yang membutuhkan.

Tak terasa, panas kian menyengat tubuhnya yang rapuh ditelan sang waktu.

Tangisan itu berlarut dan menjadi teman hidupnya.

Kadang terjatuh, tapi dia berusaha berdiri dan berkarya dengan sesuatu yang dia buat itu. “Saya ingin dan harus berlari,” kata hatinya sambil menahan detakan jantung yang kian meningkat, “Jalan saya masih panjang. Saya tidak mungkin berhenti sampai di sini!”

Dengan karyanya itu, dia terus mencari kunci sang pencipta yang masih dilupakan di kota tua yang dilupakan itu.

Untuk Saya Renungkan

*) Penulis adalah Pemula dan Bekerja di Majalah Beko
Mengejar Mimpi yang Dilupakan Reviewed by Majalah Beko on 23.25.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.