BREAKING NEWS

Berita

Menghargai Talenta Sebagai Karunia Kebebasan

Oleh Marius Moy Yumai

Foto: Dok. Penulis.
Saya mulai memimpikan sesuatu yang besar dalam diri saya ini. Namun saya bingung hal apa sebenarnya, hingga saya mau melakukan sesuatu yang besar yang mungkin dapat merubah keadaan yang ada pada saya, yaitu suatu semangat dan kekuatan untuk melengkapi kemampuan. Dalam hal tersebut meraih mimpi itu pun tidak ada, kemudian muncul pemikiran yang mungkin saya dapat terapkan dalam tindakan atau aktivitas saya.

Perantauan  hampir mencapai  target, namun satu hal yang tidak mungkin saya pahami agar dapat menaklukkan diri saya sendiri kadang terasa sangat berat, hingga saya mengeluarkan kata pujaan kepada sang pencipta. Satu hal itulah yang saya harus dapatkan agar saya dapat memimpikan mimpi itu.

Mimpi dan kesetaraan dapat diwujudkan dalam aktivitas selama Anda mau menjalani mimpi-mimpimu satu persatu, sehingga kamu dapat mencatat semuanya dalam keadaan kebebasan. Hal seperti ini dapat dijalani dalam tindakan nyata yang membuat orang lain mengikutimu dan mimpi itu dapat dirasakan oleh orang banyak di setiap tindakan keseriusan dengan niat memiliki.

Mimpi-mimpi yang ada ini milik siapa, sehingga begitu banyak yang datang untuk merebutnya. Suatu saat dalam keadaan yang sama, mimpi itu milik siapa, jika semuanya mau memilikinya. Mimpi orang asli yang direbut itukah yang kita harus merebutnya sendiri. Semua terasa memihak, tapi di balik itu, ada juga yang menjatuhkan dirinya sendiri karena salah memimpikan, ada juga yang menjatuhkan orang lain, sehingga hancur berantakan, sehingga mimpi itu akan terlupakan. Sehingga hari-hari saya ini terasa hilang entah dimakan apa. Kadang saya hampir menjerumuskan, putus asah dan dalam hal yang sia-sia yang tidak ada manfaatnya mungkin orang lain merasakan begitu hebat diri saya ini dan bisa melakukan hampir segala kegiatan, namun saya merasakan ketidakpantasan untuk memimpikan.

Talenta ini selalu ada, namun terasa biasa saja, tetapi entah kenapa hingga talenta yang ada pada saya, orang lain mengiginkannya. Dari mana saya akan dapat memperoleh mimpi yang nyata yang sedang diimpikan setiap orang. Namun, apakah mimpi ini pantas saya merebutnya dan jadikan mimpi nyata? Kadang saya memimpikan hal yang sering orang lain mimpikan, namun berbeda tindakan yang saya alami dari setiap mimpi yang saya jalani.

Mimpi yang sebenarnya yang harus dijalani itulah targetnya memang saya tidak dapat merebutnya, tapi saya siap mendukung setiap mimpi orang yang memiliki tindakan yang sama dalam mewujudkan tindakan nyata dalam mencari mimpi jati diri yang sejati. Mimpi ini kadang orang menggangapnya cuma sebagai mimpi biasa, tanpa menyadarinya, kemudian orang tersebut mengambil mimpi yang tidak setara dalam mewujudkan mimpi yang nyata. Dari semua itu, akan terasa hilang mimpi yang sebenarnya yang dimiliki oleh orang pewujud mimpi nyata.

Kita boleh mimpi yang lain, tapi jangan pernah melupakan mimpi yang sebenarnya, yang ada pada kita, yang kemudian mimpi itu akan membawa kita kepada mimpi nyata yang dapat membuat kesetaraan dalam mendapatkan generasi baru. Generasi ini harus memiliki mimpi yang lebih luar biasa lagi dalam bertindak dan sesuai dengan target setiap orang.

Yang harus disadari oleh setiap orang Papua, terutama Meepago, yaitu talenta yang sudah ada pada kita sejak kita bayi. Mari kita sadari dan hargai talenta pemberian Tuhan, lalu kita kembangkan pada hari-hari kosong, sehingga dengan itulah kita dapat menghargai  suatu pemberian Tuhan. Pentingnya penyadaran diri kita terhadap talenta yang Tuhan berikan kepada kita untuk dikembangkan dalam menghapus segala kesia-siaan waktu yang kita jalani. Manfaat yang dapat kita ambil dari talenta itu iyalah mengisi hari hari yang kosong, sehingga kita tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan di mana kita berada. Jika kita tidak menyadari diri kita terhadap talenta yang Tuhan berikan, maka mari kita lihat kasus ini.

Seorang mahasiswa setelah menyelesaikan kuliah dan sesampainya di Papua dia menunggu pendaftaran baru PNS, apalagi peraturan sekarang pendaftaran di buka lima tahun sekali. Selama ia menunggu pendaftaran PNS, apa yang  akan dia lakukan dalam waktu kosong, kalau dia tidak menyadari talenta yang ada di dalam dirinya itu harus dikembangkan?”

Talenta pemberian Tuhan pun dia sia-siakan, tanpa ada rasa yang timbul dari dalam diri bahwa talenta itu adalah pemberian Tuhan yang seharusnya dikembangkan dalam waktu kosong, tanpa menyia-nyiakan. Mengapa orang Mee yang sudah selesai dari perguruan yang tinggi harus berfokus pada satu titik yaitu “jabatan? Karena kita (Mee) belum semuanya menyadari talenta yang ada pada diri kita masing-masing yang  harus dikembangkan, sedangkan talenta itu satu kegiatan nyata  yang pasti yang Tuhan berikan dari sejak kita bayi, kemudian kita tinggal fokus dan sabar jalaninya.

Seketika kita tidak mendapatkan suatu jabatan atau gagal dalam suatu test birokrasi,  apa yang akan kita kerjakan dalam mengisi waktu kosong, sedangkan jika talenta yang ada pada kita tidak dikembangkan dalam waktu waktu kosong? Dengan demikian, kita tidak menghargai talenta yang Tuhan berikan. Pasti kita merasa sunyi dan binggung dalam waktu-waktu kosong, kemudian yang ada di otak kita mencari suatu keramaian (teman),  jika kita tidak pandai menempatkan diri di saat itu, maka kita pasti akan dipengaruhi oleh lingkungan tersebut. Lingkungan mempengaruhi kita dan terjerumus kepada hal-hal yang negatif, karena kita tidak menghargai talenta pemberian Tuhan dan mengejar satu titik yang dapat merusak begitu banyak hubungan yang tidak sehat dalam masyarakat, dan mengejar suatu jabatan (birokrasi). Mana kekompakan masa kuliah dulu? Apakah ini yang dapat merekrut masyarakat dalam keadaan yang aman dan damai?

Pengaruh lingkungan itu karena kita tidak menyadari dan menghargai talenta pemberian Tuhan. Itulah yang membuat hari-hari selama penantian test terasa kosong, sehingga menimbulkan banyak pikiran dalam diri. Sehingga, tidak ada hal yang akan dia lakukan, maka bergabung pada orang yang tidak jelas (terminal yoka, uwoo naii yoka : Bahasa Mee) yang dapat menimbulkan suatu hal yang negatif  (ketagihan) yang mungkin dapat merusak diri (body) dan akhirnya akan merenggut nyawa. 

Kadang perebutan dalam birokrasi dapat memutuskan suatu hubungan yang sudah ada sejak masa kuliah yang penuh dengan keakraban, persaudaraan yang dibangun. Mari kita lihat kelapangan saat ini, kadang kita berkumpul dan melaksanakan suatu diskusi yang membahas begitu banyak masalah-masalah hangat yang sedang terjadi. Pada saat masuk dalam perebutan dalam dunia birokrasi/politik, malah kita sendiri pula yang saling menjatuhkan dan saling menginjak. Pada saat inilah talenta itu mulai berbicara,Bagaimana dengan saya-saya ini utusan Tuhan yang harus kalian jaga dan kembangkan agar kalian tetap utuh dan hubungan kalian tetap akur seperti masa kuliah,”  kata talenta.

Soalnya talenta ini pemberian Tuhan dan dengan cara kembangkan itulah kita dapat menghargai Tuhan.

Kasus Nyata:
“Di Nabire, dalam kondisi saat ini, terdapat 50 sangar seni rupa dan terapan. Dari 50 sangar tersebut, terdapat 5 sangar milik buna yokaa, yaitu tarian yospan  dan ukiran.  45 sanggar lain milik iyoo woya, yaitu sanggar tanaman hias, lukis, pahat, ukir, dan sangar tarian dari Jawa. Yang dipertanyakan itu adalah mana sanggarnya orang Mee?  Apakah kita mati di kreatifitas? Kita sebagai orang asli Papua (Mee) harus tahu bahwa menurut peraturan Mendagri dan Imendagri lewat dana otsus terhadap  uang sanggar itu ada dan ditahan oleh daerah, karena tidak kepedulian pemda kabupaten. Kenapa kita pada saat mau meminta dana untuk sanggar saja susah sekali, sehingga harus pakai proposal. Apa  yang salah dengan kami orang asli Papua? Adakah pemimpin yang peduli terhadap mengembangkan kreatifitas kita orang asli Papua? Sedangkan iyoo woyaa dengan keahliannya yang mungkin sedikit dilihatkannya dalam bentuk sanggar rupa dan terapan pemerintah sangat perhatian hal tersebut. Mungkin karena kita kejar hal yang besar, yaitu birokrasi (jabatan), sehingga harus melupakan talenta yang sudah ada sejak kita keluar dari dalam rahim mama. Iyoo woya mereka datang dengan tangan yang kosong dan pergi kembali ke darah untuk menghabiskan apa yang mereka dapatkan dari daerah kita (Meepago), dengan membawa emas. Hal seperti itulah yang menahan mereka, sehingga mereka dapat merendahkan kita. Oleh karena itu, mari kita menghargai Tuhan dengan cara talenta yang Tuhan berikan yang sejak kecil yang menyangkut inovasi dan kreatifitas yang Tuhan berikan ini, kita harus kembangkan agar dapat membendung pendatang dari segi seni terapan dan seni rupa ini, agar penjajahan dari segi ini dapat kita lawan. Dan dengan talenta yang ada pada kita inilah yang harus dapat membebaskan kita dari jajahan.

Mari kita hargai talenta yang sudah ada sejak kita bayi, karena Talenta itu pemberian dari Tuhan yang sudah pasti. Kalau kita sudah hargai talenta dan kita kembangkan di hari-hari kosong kita, maka kita sudah menghargai pemberian Tuhan, kemudian apa yang kita inginkan, Tuhan pun akan berikan kepada siapa saja yang telah menghargai talenta.

Waktu-waktu kosong itulah, kita dapat terjerumus dari lingkungan yang negatif datang mengacaukan pikiran dan kita sebagai manusia yang lemah akan iman dan terjerumus ke dalam hal-hal yang berbau negatif. Dengan mengisi waktu-waktu kosong dengan talenta itulah kita dapat menjauhkan hal-hal yang dapat merusak tubuh kita.

Dengan cara itulah kita dapat bebas dari hal-hal yang berbau negatif, yang dapat menghancurkan banyak orang asli Papua yang cepat putus asa karena tidak ada lagi jalan yang dirasakannya. Oleh karena talenta itu, kita dapat menemukan banyak inspirasi, kreatifitas dan bahkan inovasi yang dapat membebaskan kita dari kerusakan jasmani dan rohani dalam diri kita. Sodara-sodaraku, salam juangku aturkan dengan hati iklas. (****)
Menghargai Talenta Sebagai Karunia Kebebasan Reviewed by Majalah Beko on 16.15.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.