BREAKING NEWS

Berita

Pengembangan dan Pemanfaatan SDA serta Pelestarian Budaya Akan Membenahi Nalai-Nilai Religi Deiyai

Oleh Akulian Gobai
Ilustrasi. Foto: Dok. Penulis.
 1. Ekonomi Kerakyatan Aspek Antropologi Pariwisata di Kabupaten Deiyai
Antropologi pariwisata pada umumnya berbicara tentang dua hal pokok, yakni keunikan dan keindahan. Berawal dari kedua hal tersebut merupakan motivasi yang baik dan bermanfaat bagi para antropolog, peneliti dan para pekerja sosial, serta dinas terkait, dalam hal ini Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata yang ada di setiap daerah. Pelestarian kearifan lokal  dan pelestarian lingkungan alam setempat  sangat menentu dalam ekonami kerakyatan, lebih khususnya aspek pariwisata. Aspek Pariwisata di Kabupaten Deiyai sangat menarik dan indahnya panorama di sekitar wisata Danau Tigi dan alam sendiri terbentuk pulau-pulau yang unik dan indah. Sehingga, wisata Danau Tigi merupakan sasaran pencapaian tujuan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat setempat (pemilik lokasi).

Indahnya wisata Danau Tigi dapat diprogramkan dan diusulkan ke pemerintahan daerah melalui dinas terkait agar masyarakat, Lembaga Adat Masyarakat (LMA), kepala desa, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan pemerintah menyepakati bersama guna membuka wisata Danau Tigi demi menjaga lingkungan alam  dan mengembangkan pertumbuhan ekonomi bagi masyarakat. Selain itu, memfasilitasikan semua kebutuhan yang dibutuhkan dalam pembangunan wisata bagi fasilitator untuk menjaga solidaritas masyarakat  dan lembaga-lembaga supaya tidak terjadi konflik dan pertengkaran di antara pihak-pihak yang berperan penting dalam wisata tersebut.

Wisata Danau Tigi merupakan peluang yang besar, dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat dan pemerintah untuk  menyejahterakan masyarakat setempat dan pada umumnya, yakni dunia pemerintah, peneliti, perusahaan, pedagang, pengusaha dan wisatawan yang akan mengunjungi.

Kabupaten Deiyai merupakan pemekaran dari kabupaten induk Paniai dimekarkan pada tahun 2009, sehingga sampai saat sekarang belum ada pembangunan aspek pariwisata. Memang sudah tersedia lingkungan alam setempat di keliling Danau Tigi, namun tempat yang layak membuka wisata itu, hanya satu-satunya yang terbaik dan unik adalah Pulau Duamo.

Pulau Duamo terletak di tengah-tengah Danau Tigi tersebut. Pulau ini menurut versi orang Mee secara tidak langsung dan detail adalah milik marga Pekei, sebab marga Pekei yang pertama kali menemukan Danau Tigi pada zaman primitif. Dari tempat itulah penyebaran marga Pekei muncul. Maka itu, apabila pemerintah ingin mau membuka wisata harus berbicara baik-baik dengan marga Pekei.

Program Ekonomi Kerakyatan aspek Pariwisata bagi masyarakat Deiyai sangat menguntungkan karena melihat fakta yang ada bahwa, ketika masyarakat mencari ikan, ada banyak orang yang suka memancing dekat Pulau Duamo karena mereka mendapat ikan banyak. Selain nelayan ikan, ada pula yang menjual pasir danau dan batu untuk pembangunan.  Ada yang biasa menjual akar-akar danau serta tumbuh-tumbuhan yang hidup dalam danau seperti, lumut-lumutan yang berguna bagi masyarakat  yang biasa dibuat jadi ramuan tradisional dan lain-lain.

2. Lestarikan Upacara Kematian Tradisional Aspek Antropologi Budaya

Upacara kematian tradisional menurut cerita nenek moyang orang Mee merupakan suatu upacara yang mengandung banyak makna dan bermaanfaat di dalam sistem-sistem adat istiadat, sehingga melalui upacara muncullah suatu kesan-kesan kehidupan. Kesenian ini merupakan bagian dari budaya suku Mee, salah satunya adalah upacara kematian ini. Demikian pula, ada upacara tertentu lain yang dimiliki oleh suku Mee dan pada umumnya setiap suku bangsa yang ada di bumi ini mempunyai nilai-nilai budaya masing-masing.

Tidak heran bagi suku Mee bahwa upacara kematian ini lazim dilakukan turun-temurun dari nenek moyang. Hingga saat ini pun masih berlaku, walaupun banyak perubahan nilai-nilai budaya yang unggul dan berkualitas, tetapi upacara ini merupakan sistem kesenian tradisional yang telah melekat bersama setiap individu manusia Mee. Dipandang dari aspek lain, manusia merupakan seni, sehingga upacara kematian dan upacara ritual lain pun juga dapat dilakukan dan dikembangkan, dilatih dan dapat dikreaktifkan melalui lembaga-lembaga adat maupun dinas terkait. Mengapa?  Karena lembaga dan dinas terkait ini merupakan suatu potensi cocok untuk melestarikan dan mendayagunakan kebudayaan yang ada.

Bagaimana awal memulai upacara kematian? Melihat realita yang ada,  awalnya di antara mereka yang mengalami situasi duka cita, dapat melatih lagu tradisional yang bernyanyi menuju bermakna kematian, agar melalui nyanyian dapat merasakan rasa kerinduan dan memuaskan makna kematian tersebut. Di pertengahan  menyanyi, ada pula orang lain menangis atas kematiannya, kemudian di antara mereka juga ada yang menyampaikan kata-kata kesedihan, kerinduan dan mengingat cerita/kisah hidup ketika dia masih hidup.

Bentuk upacara yang kadang diragakan oleh kelompok upacara kematian adalah berbentuk bulat dan di kelilingi dan di dalam bulatan terdapat mayatnya lalu mayat tersebut dibawakan ke tempat kuburun yang telah siapkan atau digali. Setelah sampai ke tempat kuburan dan sebelum dimakam, diharuskan untuk menyanyi sebagai upacara kematian. Usai pemakaman pun upacara tersebut dilakukan sampai kembali ke rumah atau tempat duka tersebut.

Upacara kematian berfungsi untuk meragakan dan melatih sebagai nilai estetika budaya  yang telah ada, sehingga dapat digeneralisasikan oleh masyarakat setempat dan kepada lembaga-lembaga adat yang ada.

3. Pribumi  Papua Memiliki Jiwa Sosial yang Tinggi Aspek Spiritual Tradisional

Dari manakah timbul jiwa kasih ini? Tentu saja dari lubuk hati yang paling dalam, jika dipandang dari agama kristen, kasih itu penting dan bermakna yang sangat tebal bagi kita orang Papua. Kasih ini hukum yang utama dan terutama. Kita mengetahui kembali suatu perumpamaan yang dahsyat, yakni ketika anak manusia (Yesus) menyerahkan diri di dalam dunia yang fana demi saya dan Anda.  Jadi, saya pikir kasih itu boleh-boleh saja. Tapi kasih itu,  harus pada tempat dan situasi yang tepat, seperti pada situasi yang kritis.  Pada saat orang lain benar-benar membutuhkan bantuan, misalnya jika ada yang mau sekolah, atau ada yang sakit. Tapi kita tidak boleh kasih dari usaha kita. Kita sedang berusaha sesuatu, kalau kita mengambil dari usaha yang sedang kita lakukan, maka usaha kita akan mati.

Kebanyakan orang tidak mau dikatakan mereka malas.  Apa tanggapannya dalam hal ini?  Ya, dikatakan malas itu tampaknya dilecehkan, tetapi begitulah apa adanya. Misalnya, kalau saya dikatakan  malas,  ya saya terima saja. Mengapa? Karena saya tidak bisa lihat diri saya sendiri melalui panca indera. Itukan  mungkin orang lain melihat dari sisi lain.  Kita orang Papua harus berani dikoreksi orang lain. Tetapi, lain kalau soal dikatakan tolol.

Mengapa dikatakan demikian? Kalau orang katakan orang Papua itu tolol, sejauh mana dia mengajari  orang Papua, lalu  berapa lama dia bertahan dan katakan orang Papua itu bodoh? Mengajari, mengajari dan mengajari sampai jangka waktu yang lama dan yang bersangkutan itu mengatakan orang Papua itu bodoh,  maka bisa masuk akal.  Jadi intinya orang katakan orang Papua itu malas, ya,  dapat diterima. Tetapi,  jika ada yang mengatakan orang Papua bodoh, itu tidak dapat diterima.

Tumbuhkan identitasku dengan tradisi. Bagaimana menumbuhkannya? Langkah awal penumbuhan tradisi yang ada di budaya dalam. Apa yang dijembatani untuk dapat tampak di depan?  Salah satunya adalah kesadaran fikiran sehat dan akal sehat, adalah merupakaanugerah Allah yang misteri bagi setiap makhluk sosial. Syarat-syarat yang dipersiapkan sebelum menjadi diriku yang unik, maka kita dapat memfantasikan ciri khas yang merupakan simbol budaya dan adat istiadat adat yang ada pada diri kita masing-masing.

Tanpa mengikuti dokma-dokma, doktrin-doktrin dan asas-asas dasar  tentang tata hidup, meliputi kasih, cinta, jujur, damai, kesabaran, kemurahan, dan ketabahan yang dimiliki  oleh setiap insan manusia atau pada umumnya suku bangsa atau norma kebudayaan.  Banyak orang Papua ingin membunuh diri atau menghilangkan nyawanya sendiri, misalnya gara-gara cinta, gara-gara hak ulayat tanah dan sengketa  yang lainnya.

Apakah bunuh diri itu hukum adat?  Bunuh diri adalah membunuh jati diri, pikiran, nyawa, jiwa, generasi, dan segalanya yang dikuasakan oleh-Nya. Apa sebab dan akibat? Menurut mitos leluhur orang Mee, awal muncul pemikiran  negatif.  Mengapa? Setiap manusia melahirkan pemikiran negatif, tujuannya membunuh diri. Secara tidak sadar, fenomena yang terjadi di kalangan sosial hanya karena kritik-mengkritik, membaca kelemahan orang  lain, tidak mengikuti kehendak diri, maunya mengikuti pengaruh lingkungan sosial dan banyak strategis yang nampak secara spontan.

 

*) Penulis adalah Mahasiswa yang Sedang menempuh ilmu di Jurusan Antropologi Budaya, Fakultas Sastra dan Budaya, Unipa Manokwari.
Pengembangan dan Pemanfaatan SDA serta Pelestarian Budaya Akan Membenahi Nalai-Nilai Religi Deiyai Reviewed by Majalah Beko on 12.37.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.