BREAKING NEWS

Berita

HUT 1 Desember 2015 Papua Diperingati dengan Kekerasan NKRI

Oleh Yohanes Dogomo

Orang Asli Papua (OAP) memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan West Papua adil, wajib dan hak bagi OAP. OAP baik dari Merauke hingga Samarai memperingati kemerdekaan pada 1 Desember 1969. Ini dilaksanakan di mana-mana dan tidak salah karena dunia internasioanal sudah mengetahui bahwa West Papua sudah merdeka (SM). Tidak dibilangkan dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), karena mereka sudah tahu sejarah kemerdekaan West Papua.

Kenapa dan mengapa NKRI
memukuli, memenjarakan, menyiksa, dan membubarkan secara paksa OAP untuk mau berdoa? Sebenarnya, doa merupakan satu ucapan syukur kepada Tuhan atas pemberian nafas hidup, serta selebihnya memberikan lambang Bendera Bintang Kejora, lagu, dll bagi OAP. Hal apa yang menyebabkan ini? UUD 1945 NKRI alinea yang pertama itu berbunyi apakah? NKRI berjuang hingga merdeka dan dimuat dalam UUD 1945 adalah “Tuhan Yang Maha Esa”, itu benar atau salahkah? Saya pikir benar, tapi kenapa NKRI tidak turuti sesuai aturan UU yang ada di NKRI, malah buta terhadap UUD 1945. Sehingga, NKRI belajar dan pahami baik UU di atas itu.

HUT 1 Desember 2015 bagi OAP, diperingati dengan
kekerasan oleh NKRI terhadap OAP. Ini cukup signifikan dan tak manusiawi. Ketika orang sms bahwa, “Di Nabire beberapa orang ditangkap dan dibawa ke Porlesta, tapi beberapa jam kemudian dikeluarkan. Hal ini dilakukan saat doa di Taman Pahlawan Bunga Bangsa Papua (TPBBP), Oyehe, Nabire, Papua pada Selasa, (01/12/2015). Ini bukan demo secara kasar. Jelas dan benar OAP bukan bodoh, tapi pintar dan hebat karena memperingati HUT 1 Desember 2015 tanpa melakukan tindak-tindak kekerasan. Pastinya, yang mereka akan lakukan adalah doa. Tapi, kenapa sampai seorang Wartawan Majalah Selangkah (MS) saja yang mengambil kamera dihapuskan gambar-gambar yang sudah ambil tegas dari pihak keamanan TNI/POLRI Nabire. Kesempatan itu, pihak keamanan TNI/POLRI menanyakan surat perintah untuk mencari berita. Hal seperti ini aneh. Pasalnyakan, seorang wartawan menggantungkan kartu pers di depan dada dan menunjukkan identitas, tapi malah ditanyakan lagi. Masalah ini dimuat Tabloid Jubi Edisi Rabu (02/12/2015). Katanya, saat itu pun seorang wartawan, Topilus Tebai dimintai Hp oleh TNI/POLRI lalu diberikan dan untuk ditanyakan lebih lanjut kepada Pemimpin Redaksi Majalah Selangkah, tapi pihak keamanan menolaknya.

Saya bingung apa tugas dan tanggung jawab daripada seorang wartawan? Tugas wartawan adalah mencari dan mengumpulkan, serta menulis sesuai tanggung jawab yang diberikan oleh Pimpinan Redaksi (Pimred), dan memberikan informasi, mendidik, mengontrol, penghubung/jembatan, menghibur dan pengawasan. Sehingga, tiap hari wartawan harus melakukan tugas meliput berita di mana saja, kapan saja, dan apa saja. Kadang orang mengatakan tugas wartawan adalah "Jalan tada panas dan tahan lapar di perjalanan."

Wartawan itu bukan orang gila. Wartawan itu bukan orang bodoh. Tapi, seorang wartawan dibekali dengan kartu pers dan Kode Etik Pers yang ditetapkan dalam UU PERS No. 40 Tahun 1999. Oleh sebab itu, saya pikir seorang TNI/POLRI maupun instansi, kantor, perusahaan dll, boleh melihat dan membaca tugas seorang wartawan dalam UU tersebut. Wartawan dipukuli tidak di Nabire, tapi pernah dimuat Media Koran Jubi, Edisi 9 Oktober 2015 Halaman 01, “Meliput Demo, Wartawan Ditodong dan Dicekik Polisi”. Dalam Koran Jubi, Pemred, Victor Mambor, mengatakan bahwa, “UU pokok Pers Tahun 1999 Pasal 4 Ayat 3 jelas menyebutkan, untuk menjamin kemerdekaan pers, pers nasional mempunyai hak mencari, memperoleh dan menyebarluaskan gagasan dan informasi.” Olehnya itu, seorang TNI dan POLRI harus tahu UU Pers dan lebihnya pada UUD 1945 yang ditetapkan NKRI ini. Tugas TNI dan POLRI adalah melayani, mengayomi dan menjaga keamanan, tapi hal itu menjadi kejadian belaka saja. Pasalnya, seorang wartawan diintimidasi dengan tindakan kekerasan secara terus-menerus di Papua ini oleh TNI/Polri.

Tidak hanya Nabire, tapi terhadap Mahasiswa Papua yang sedang kuliah di Jakarta, Semarang, Bali, dan sekitar
nya tidak diijinkan pihak keamanan untuk melakukan doa dan aksi. Mahasiswa tersebut diusir dengan alat negara, Gas Mata Air. Saya pesankan kepada NKRI bahwa HUT NKRI tiap 17 Agustus dilaksanakan dengan aman dan tertib, sehingga kalau bisa terhadap OAP juga jangan dilakukan tindakan-tindakan seperti binatang. Pepatah mengatakan bahwa “Jika kita menghargai orang lain, maka pasti orang lain juga menghargai kita.” Apalagi negara mempunyai UUD formal, malah menghancurkan aturan dan UUD yang ada. Sebaiknya, UUD NKRI yang seakan-akan tak berlaku UU tersebut dijaga pihak keamanan, entah itu menjaga nama reputasi NKRI dari sekarang, dll.

NKRI membubarkan doa HUT 1 Desember 2015 itu mungkin karena PT Freeport, sehingga pihak Pemerintah Provinsi Papua lebih bagus cabut Surat Ijin Kerja Perusahaan (SIKP), supaya kematian OAP berhenti. Pasalnyakan NKRI tidak menghargai OAP, di atas tanahnya sendiri saja dilakukan demikian. Kecuali, OAP mengambil kekayaan NKRI lalu boleh melakukan tindakan seperti itu, tapikan doa adalah HUT bagi OAP, bukan melibatkan/dipaksakan NKRI, sehingga wajar saja dilakukan doa dalam memperingati HUT Kemerdekaan Papua.

Oleh sebab itu, seluruh OAP yang ada di Papua
, Merauke hingga Samarai lebih bagusnya kembalikan ke Provinsi Papua dan Papua Barat, serta seluruh pakaian dinas ada yang dituliskan lambang NKRI. Mengapa dikatakan demikian? Karena Papua sudah merdeka sejak 1 Desember 1969 yang silam. Jelasnya, OAP tak mungkin susah dan menderita di atas Negeri Cenderawasih ini. Sumber Daya Alam (SDA) Papua sangat dan paling kaya, hanya saja NKRI dan Amerika Serikat (US) sedang merampas dan meraib kekayaan OAP itu. Sehingga, pantas dilakukan begitu terhadap OAP. Maka itu, sekarang kita orang Papua sadar diri dan menjaga diri penting, serta bertindak atas kebenaran yang dilakukan secara terus-menerus, karena Tuhan mengetahui keluhan dan keinginan OAP. Suatu saat akan terwujud, NKRI dan US akan sadar diri. Hari itu pun akan menderita, susah dan kaya mendadak menjadi miskin mendadak.

Kami, OAP tak mungkin takut dengan tindakan-tindakan NKRI kepada OAP. Mungkin kami takut kepada Tuhan, sehingga kebenaran demi Tanah Papua, OAP akan menegakkan keadilan dan kebenaran secara terus-menerus. Lebih bagusnya, NKRI angkat kaki dari Papua, karena NKRI dengan OAP jauh berbeda. OAP berambut keriting dan berbadan hitam, sedangkan NKRI berambut lurus dan berkulit putih.

*) Penulis adalah Anak Negeri Papua (AND) di Papua
HUT 1 Desember 2015 Papua Diperingati dengan Kekerasan NKRI Reviewed by Majalah Beko on 08.23.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.