BREAKING NEWS

Berita

Perjalananku yang Memberikan Makna Hidup

Oleh Yolanda Giyai

Pada bulan Juli 2015 di kota Nabire, aku dan Hero ingin menikmati liburan kami di Yaro 2. Kami menikmati indahnya pemandangan pedesaan kota Nabire itu. Liburan ini akan menyenangkan bagi kami. Hero  menjemputku di rumah pukul 9 pagi. Kami langsung pergi menuju tempat tujuan yang telah direncanakan itu. Di pertengahan jalan, Hero bertanya,Apakah kamu pernah melihat atau pergi ke bendungan?” Jawabku,  “Tidak pernah. “Kalau begitu, kita pergi saja ke bendungan agar kamu dapat mengetahui dengan jelas bendungan itu letaknya di mana dan bendungan itu seperti apa.Kata Hero. “Benarkah? Ayo, kita ke sana, terima kasih sayang.” Kataku dengan bahagia. Sebelum kami memasuki kawasan bendungan, kami melihat pemandangan yang sangat indah karena banyak sawah yang masih terlihat hijau. Para petani juga  sibuk melakukan pekerjaan mereka.

Saat tiba di bendungan, aku sangat terkejut melihat bendungan tersebut. Bendungannya sangat besar dan menakutkan. Banyak  batang pohon tergenang di atas air yang sangat deras. Aku melihat di sekitar bendungan ada banyak orang yang sedang rekreasi dan berfoto-foto menikmati pemandangan yang indah itu. Bendungan itu dikelilingi oleh gunung yang penuh dengan pepohonan yang hijau, sehingga membuat orang yang datang terkesan menarik.

Setelah melihat dan menikmati pemandangan bendungan, kami melanjutkan perjalanan menuju Yaro 2. Saat kami dalam perjalanan, tiba-tiba di sebuah tikungan, kami melihat ada seorang yang ditabrak. Kami langsung berhenti dan mendekati lelaki yang jatuh itu. Kami melihat di seluruh tubuhnya penuh dengan darah. Yang lebih parah lagi, telinganya mengeluarkan darah secara terus-menerus, sehingga membuat kami menjadi takut. Walaupun takut, kami harus membantunya membersihkan darah di seluruh tubuhnya itu. Saat kami sedang membantunya, tiba-tiba keluarga dari lelaki yang jatuh itu lewat dan berhenti karena melihat saudaranya yang tertabrak. Tanpa menunggu lelaki yang tertabrak itu, mereka segera membawanya ke puskesmas terdekat untuk diobati.

Setelah lelaki itu dibawa, aku dan Hero melanjutkan perjalanan kami. Kami berjalan terus melewati beberapa jembatan hingga pada satu jembatan yang bisa dikatakan ukurannya lumayan besar. Tiba-tiba, terdengar bunyi motor yang akan mogok. Aku dan Hero terkejut mendengar suara tersebut. Kami kira motor orang lain yang akan mogok, tapi sayang aku dan Hero salah. Ternyata, motor kamilah yang mogok. Kami segera turun dari motor. Hero mencoba untuk menghidupkan motor. Motor dihidupkan, tapi tidak menyala. Akhirnya, mau atau tidak mau, aku dan Hero harus mendorong motor kembali. Kami berharap agar ada bengkel yang buka di sekitar kompleks itu. Kami berjalan sambil mendorong motor tersebut, namun tidak ada bengkel yang di buka sekitar daerah itu. Kami mendorong motor kembali hingga di Wanggar. Kebetulan di Wanggar ada bengkel yang masih dibuka. Aku dan Hero segera membawa motor menuju bengkel yang dibuka itu. Karena tidak membawa uang maka, aku dan Hero hanya menitipkan motor di bengkel. Kami akan mengambil kembali setelah motor itu diperbaiki.

Aku dan Hero melanjutkan perjalanan kami, tetapi dengan jalan kaki karena tidak membawa uang. Kami mencoba untuk menghentikan kendaraan yang lewat, namun tak ada satu pun motor, mobil dan truk yang berhenti. Aku dan Hero berjalan menikmati indahnya pemandangan sore yang sejuk di Wanggar.  Kami berjalan hingga di SMP Negeri 2 Wanggar. Ada seorang yang memanggil namaku, “Sarah mau ke mana?” katanya. Aku mencoba menjelaskan kejadian yang kami alami kepadanya. Lalu, ia menawarkan untuk kami mengikutinya. Kami senang karena ada tumpangan. Saudaraku berkata,Saya tidak bisa mengantar kalian sampai di rumah, karena bensin saya sudah merah.” Jawabku, “Aduh tidak apa-apa saudaraku. Ia mengantar kami hanya di SP 1. “Terima kasih  saudara karena telah mengantar kami berdua.” Kata Hero. Aku dan Hero melanjutkan perjalanan ke kota. Tak terasa, kami tiba di rumah teman di Perumahan Pemda Nabire, Jayanti. Hero memutuskan untuk pulang, sedangkan aku menginap di rumah temanku, Sinta. “Akhirnya aku dapat beristirahat juga. Aduh sangat melelahkan juga perjalanan hari ini.” Kataku kelelahan.

Bagiku, perjalanan hari itu sungguh indah, namun juga sangat melelahkan.  Walaupun tempat yang kami ingin kunjungi tidak sempat kami kunjungi. Aku sangat bahagia. Walaupun pulang jalan kaki, aku dapat mengetahui bendungan itu berada. Mungkin bagi orang-orang tempat yang ku kunjungi itu tidak istimewa dan tidak bagus. Namun bagiku, semua itu indah karena rasa penasaran akan bendungan itu. Aku juga senang karena dapat membantu orang yang membutuhkan bantuan. Bukankah ini berharga baginya, jika saat tubuhnya penuh dengan darah dan harus dibantu. Mungkin ini membantu mewujudkan pikirannya yang tak bisa disampaikan. Kejadian itu memberikanku sebuah makna yang sangat berharga. Hidup itu harus saling membantu satu sama lain. (****)
Perjalananku yang Memberikan Makna Hidup Reviewed by Majalah Beko on 18.36.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.