Breaking News

Berita

Doa 5 Februari 1855: Tanpa Injil Orang Papua Tak Akan Berhasil Memimpin Bangsanya Sendiri

Oleh Neson Elabi
Patung Doa Tunggal Ottow-Geissler. Foto: Ist.
 “Dengan Nama Tuhan Kami Menginjak Tanah ini!" Itulah doa sulung pertama yang dipanjatkan oleh Ottow dan Geissler, kedua missionaris dan perintis pekabaran Injil pertama yang tiba di Pulau Kecil, Mansinam, di Teluk Doreh atau sebelah Timur Laut Manokwari, pada tanggal 5 Februari 1855.

Johan Gottlob Geissler dilahirkan pada tanggal 18 Februari 1830 di Langen-Reichenbach (Jerman). Pada usia 17 tahun, oleh ayahnya, ia belajar pada seorang tukang perabot di Berlin. Pada masa mudanya, dia suka belajar dan suka bergaul dengan teman-teman seusianya.

Dari Negeri Kincir Angin Menuju Batavia
Carl William Ottow dan Johan Gottlob Geissler meninggalkan keluarga dan sanak saudaranya dengan memulai perjalanannya menuju ke pulau ujung Timur dari bola dunia. Pulau yang dianggap kafir, serta penduduknya yang kanibal oleh orang-orang luar di kala itu.

Bagi Ottow dan Geissler, pekerjaan sudah dimulai sejak mereka berangkat dari tanah air mereka di Kota Berlin (Jerman), berjalan kaki, menuju Negeri Belanda (sekitar 700 KM). Pada tanggal 25 April 1852, Ottow dan Geissler sampai di Hemmen (Belanda), di mana mereka mulai menguasai dasar-dasar Bahasa Belanda.

Pada tanggal 25 Juni 1852, berangkatlah mereka dengan Kapal “Abel Tasman”, melalui tanjung Pengharapan hingga ke Batavia (Jakarta), setelah untuk terakhir kali mereka berdoa bersama para rekan mereka di Negeri Belanda. Pada tanggal 7 Oktober 1852, mereka tiba di Batavia (Jakarta).

Perjalanan Menuju Ternate
Karena Pemerintah Hindia-Belanda saat itu telah menetapkan bahwa para zendeling (Missionaris)  yang tidak berkewarganegaraan Belanda hanya diijinkan masuk ke Kalimantan, maka ijin yang diterima oleh Ottow dan Geissler dari penguasa di Batavia (sebuah pas), hanya berlaku sampai Ternate.  Akhirnya pada tanggal 8 Mei 1854, kedua perintis itu meninggalkan Kota Batavia dan menuju Kota Ternate. Dalam perjalanan menuju Ternate, di Surabaya, mereka berkenalan dengan Bapa Emde, penginjil yang terkenal itu, yang bersama dengan keluarganya telah mencapai hasil yang mengagumkan: disebutkan, sejumlah 1.500 orang telah memeluk agama Kristen oleh usaha keluarga ini.

Pada tanggal 30 Mei, Ottow-Geissler tiba di Ternate. Di Ternate, Mereka tinggal di rumah Pendeta J. E. Hoveker, yang sejak tahun 1833 menjadi pendeta jemaat Protestan yang kecil di situ. Pdt J. E. Hoveker banyak membantu mereka agar rencana ini tetap dilaksanakan. Ia mengumpulkan keterangan-keterangan dari para pedagang berbagai perusahaan yang dengan teratur mengunjungi Irian Barat, dan membicarakan rencana menetap di Irian ini dengan pejabat-pejabat yang bersangkutan di Ternate dan Tidore. Dalam Perjalanan hingga di Tidore, Ottow dan Geissler tidak membawa lebih dari pakaian saja dari Eropa.

Desas-Desus Penduduk, Rakyat Papua ditindas
Di  Ternate, Ottow dan Geissler bertemu dengan tuan Duivenbode, pemilik enam buah kapal sekunar yang digunakan untuk berdagang di kepulauan Maluku dan juga di Irian Barat. Dari sini, tampak terlihatlah oleh mereka, bahwa ada hubungan yang teratur dengan daerah masa depan mereka, walaupun hubungan ini banyak bahayanya.

Di Pulau Ternate, selalu beredar berita dan desas-desus yang disebarkan oleh para kelasi sekunar. Berkali-kali sekunar-sekunar dirompak, kelasi-kelasi dibunuh, tetapi karena awak kapal dipersenjatai, maka pada kedua belah pihak jatuh banyak korban.

Di Ternate, Ottow dan Geissler  bertemu juga dengan penghuni- penghuni Irian Barat, tetapi orang-orang Irian ini sudah tidak ingat lagi akan tanah kelahirannya, karena sewaktu masih kanak-kanak mereka telah diculik dan dijual sebagai budak. Baru beberapa puluh tahun kemudian, budak-budak asal Irian di Ternate dan Tidore dibeli dan dibebaskan oleh pemerintah. Jumlah mereka waktu itu ada 5.000 orang.

Di balik angka mati ini, tersembunyi lautan duka: dalam perampokan besar-besaran dengan dalih mengambil upeti, puluhan orang Irian dibunuh dan ratusan ditangkap. Orang Tidore menganggap dirinya berhak menuntut kepada orang-orang Irian agar menyediakan budak, dan apabila tidak disediakan, mereka datang untuk "menghukum" kelalaian ini. Untuk membenarkan perbuatan mereka itu, mereka menuduh orang-orang Irian sebagai orang-orang yang biadab dan suka membunuh. Di Ternate, Ottow dan Geissler tidak akan mengetahui bagaimana sebenarnya sifat orang Irian.
Dari catatan-catatan yang ada, ternyata bahwa Ottow di Ternate telah mengajar: ia mengajarkan sejarah Alkitabiah. Pada waktu perpisahan, ia menulis: "Saya telah melanjutkan pelajaran kepada anak-anak itu sampai dengan Golgotha; di situ, saya harus meninggalkan kawan-kawan kecil ini; ya, apabila mereka sudah dapat merasa senang di situ, maka saya tidak mau membawa mereka lebih jauh."

Saat  itu, belum ada kepastian bahwa Ottow-Geissler betul-betul akan berangkat ke Irian. Di Ternate, banyak orang menyarankan supaya mereka tidak melanjutkan rencana ini melainkan pergi ke Seram.

Tetapi, Ottow dan Geissler tetap tidak mau mengurungkan niatnya. Mereka berpendapat bahwa adalah kehendak Tuhan mereka pergi ke kepulauan orang-orang Papua ini. Dan memang, orang-orang yang mengenal Irian pada zaman itu menilai bahwa "orang bisa langsung datang kepada tiap bangsa yang belum beradab, asal saja ia datang tanpa senjata, dengan pakaian yang sederhana, bertingkah-laku baik, sekali-kali tidak menjamah para wanitanya, yang tentunya dengan pertolongan Tuhan tidak akan dilakukan orang-orang ini.”

“Kebohongan Demi Kebaikan”, Bisa Berakibat Sebaliknya
Untuk memperoleh surat jalan itu, residen telah mengadakan percakapan pribadi dengan sultan. Karena sultan yang terakhir ini seorang Islam yang saleh, maka residen menyangka bahwa Sultan tentu tidak akan menyukai adanya dua orang zendeling (missionaris) Kristen di Irian Barat. Ia mengemukakan seolah-olah kedua orang muda tersebut, yaitu Ottow dan Geissler, adalah ahli-ahli penyelidikan alam.

Tentu saja, sultan sudah lama mengetahui identitas sebenarnya dari kedua orang penginjil itu, dan berkatalah Sultan, sambil tersenyum, karena "kebohongan demi kebaikan", ini bisa juga berakibat sebaliknya: "Ah, mereka itu kan penginjil,” dan di dalam surat jalan, yang diberikannya kepada mereka tanpa keberatan apa-apa, sultan tulis: “Pendeta atau penginjil". Kecuali ijin untuk masuk ke Irian dan menetap di sana, surat ini pun sedikit banyak memberikan jaminan kepada mereka akan perlindungan, karena di situ ditulis bahwa sultan memerintahkan kepada kepala-kepala desa "untuk memberikan perlindungan kepada para zendeling ini, dan apabila mereka kekurangan bahan makanan, harus dibantu pula."

Berlayar Menuju Pulau Paling Timur di Bola Dunia
Keberangkatan berlangsung tanggal 12 Januari 1855. Kapten kapal bersama dengan anak buahnya ditugaskan membantu para penginjil dalam segala hal, dan apabila para penginjil ini ternyata kemudian kecewa dalam pengharapan-pengharapan mereka, mereka bebas untuk kembali lagi ke Ternate dengan fasilitas yang sama.

Mereka bahkan menulis, bahwa telah membeli bahan makanan untuk kira-kira satu tahun, karena: "di sana tidak ada apa-apa, kecuali babi dan burung". Yang terakhir ini tentu saja tidak benar, tetapi umbi-umbian dan sagu yang merupakan makanan utama penduduk di sana kadang-kadang memang sukar didapat saat itu.

Uniknya, bahwa orang-orang Kristen di Ternate membayangkan kehidupan di Irian sebagai petualangan yang romantis. Seorang guru bahkan memberikan ijin kepada anak lelakinya, Frits, yang masih berumur 12 tahun, untuk ikut dengan kedua orang perintis itu. Ottow-Geissler  menerima usul ini, dan mereka menulis bahwa mereka punya rencana untuk mengambil anak ini nanti sebagai guru.

Sehari sebelum keberangkatannya, Ottow menulis, agaknya untuk menenangkan hatinya sendiri dan hati para pembaca: "Keadaan di sana tidak segawat yang diperkirakan orang. Kalau orang-orang itu kita perlakukan secara bersahabat, 'maka sudah pasti mereka pro kita". Tetapi, tenang sekali pun ini tidak, karena ia menambahkan: "Tuhan yang perkasa, dengan siapa Daud menghadapi Goliat, kini masih hidup; Ia telah membersihkan batu-batu yang paling berat dari jalan kami dan membuat keadaan harus menjadi baik.”

Tiba di Mansinam
Bulan Januari 1855, mereka berangkat dari Ternate dengan menumpang kapal layar “Ternate”. Ketika matahari terbit, bayangan gunung Arfak mulai nampak dan teluk yang tenang diiringi nyanyian ombak menghantarkan perahu layar Ternate yang membawa kedua utusan Injil di teluk Doreh, Manokwari, di mana satu tujuan akan di labuhkan. Hutan yang membisu lagi menyeramkan dan Pulau Mansinam yang menjadi saksi pijakan kaki para hamba-Nya untuk pertama kali, “Dengan nama Tuhan, kami menginjak tanah ini.“ Demikianlah Doa sulung Ottow dan Geissler ketika tiba di tepi pantai Pulau Mansinam tanggal 5 Februari 1855.

Tatangan Baru, Tiga Kali Salah Memilih Pohon
Tujuan kedua penginjil ini tercapai. Injil Tuhan telah mencapai tanah kekafiran, namun tantangan mulai terasa. Tak ada seorang pun yang menyapa mereka. Mereka hanya seorang diri, berada di dalam kepercayaan itu. Orang lokal menganggap kedua orang ini berasal dari dunia lain (dunia aibu) karena kulit mereka putih.

Ottow dan Geissler adalah utusan tukang, mereka mulai bekerja, dengan menanam tanaman yang dibawa dari Ternate. Untuk pekerjaan bercocok tanam, dibutuhkan tanah yang subur, sedangkan Mansinam berbatu dan kurang subur. Sehingga, mereka harus ke daratan Kwawi, yang jauh nya 1–2 jam perjalanan menggunakan perahu. Ottow dan Geissler berusaha membuat parahu itu sendiri karena tidak ada orang kampung yang mau menyapa mereka. Setelah tiga kali salah menebang pohon yang tidak dapat dijadikan perahu, orang kampung mulai merasa kasihan, lalu menjual sebuah perahu kecil untuk kedua penginjil itu.

Ketika Geissler berbicara mengenai orang mati pada hari Minggu, orang-orang kampung sedikit mengerti maksudnya, mereka juga memiliki kepercayaan bahwa orang-orang yang telah mati satu saat akan bangkit membawa kebahagiaan. Ottow dan Geissler mengajarkan mereka tentang “Iman Berdasarkan Pendengaran.”

Dari Mansinam ke Kwawi, Sekolah Gadis Ditutup
Dalam pekerjaan yang meletihkan, Geissler mendapat luka di kakinya dan berkembang menjadi luka borok (kudis dan berbau). Dua tahun kemudian, yaitu 1857, Ottow menikah, sedangkan Geissler kondisinya semakin memburuk. Ia menulis surat kepada tunangannya di Jerman bahwa ia kuatir tidak akan pernah bertemu lagi. Dalam tahun itu juga, Ottow dan Geissler harus berpisah. Geissler tetap di Mansinam dan Ottow membuka lahan penginjilan baru di Kwawi.

Geissler kemudian menikah dengan seorang wanita kristen dari Ternate. Dari hasil pernikahan ini, mereka dikaruniai anak–anak dan mereka adalah pemilik kubur–kubur pertama dari suatu pekerjaan sending di tanah ini.

Banyak pekerjaan Injil harus dikerjakan selain di Mansinam, maka Ottow pindah dari Pulau Mansinam ke Kwawi, daratan Manokwari untuk membuka lahan pekabaran injil di sana. Sedangkan Geissler tetap melanjutkan pekerjaan penginjilan di Mansinam.

Di Kwawi, Nyonya Ottow membuka “Sekolah Gadis” di rumahnya, namun akhirnya ditutup karena adat setempat tidak memperkenankan anak gadis belajar bersama dengan anak pria. Banyak pekerjaan dikerjakan dalam kondisi yang serba kekurangan.

Tujuh Tahun Berlalu, Hembusan Nafas Terakhir Tanpa Melihat Hasil
Awal november 1862, Carl Ottow sakit keras beberapa hari, dan akhirnya pada tanggal 9 November 1862, ia menghembuskan nafas terakhirnya, kemudian dikuburkan di halaman rumahnya di Kwawi. Tujuh tahun lamanya ia bekerja, tanpa melihat hasil kerjanya. Belum ada seorang Papua yang mau menerima Injil. Berikut adalah harapan dan doa Ottow sebelum hembuskan nafas terakhirnya: “Meski pun saya tidak melihat hasil kerja saya, namun saya berharap dapat bertemu dengan satu orang Papua di Sorga kelak.” Ottow mempunyai pengharapan di tengah kesulitan dan tantangan yang ia selalu hadapi. Pengharapan hidup dan kerjanya itu tertulis dengan indah di atas nisannya di Kwawi, yang berbunyi, ”Berbahagialah orang yang percaya meskipun tiada Nampak, (Yohanes 20:29b).”

Masih Adakah Harapan Bagi Orang Papua Menerima Injil
Tahun 1861, Mansinam diserang wabah cacar. Akibatnya, 1/3 (seper tiga) penduduk meninggal. Geissler, dalam khotbahnya menjelaskan bahwa ini adalah suatu hukuman dari Tuhan, karena orang Mansinam tidak mau dengar Injil. Namun, rakyat tidak peduli dan tak mau mendengarnya. Mereka menganggap bahwa itu adalah roh para moyang yang membalas dendam. Jadi mereka harus dirikan Rumsram (Rumah untuk meyembah berhala mereka ) dan membuat patung-patung roh.

Dalam kehidupan yang serba sulit dan sakit, Geissler membagi-bagikan makanan kepada semua orang dan ini membuat penduduk Mansinam terkesan. Tanggal 18 April 1863, para sending dari Belanda tiba di Dore. Nyonya janda Ottow sudah berangkat ke Ternate sehari sebelumnya, karena akan melahirkan.

Membangun Gereja Pengharapan di Tengah Kehancuran
Tahun 1864, terjadi gempa bumi yang hebat. Kampung dan rumah-rumah para sending rusak. Terpaksa para sending harus tinggal di pondok-pondok darurat, sehingga semuanya jatuh sakit. Mereka harus berangkat ke Ternate untuk berobat. Keadaan sungguh-sungguh sangat buruk, karena pekerjaan ini akan dihentikan. Selain gempa bumi, wabah cacar melanda Mansinam dan Manokwari, namun Geissler tetap bertahan walaupun kadang ia ragu, apakah orang Papua masih mau menerima injil? Dalam krisis tahun 1864 itu, ia mulai membangun gereja, yang dinamakan “Kerk der Hopen” (Gereja Pengharapan), yang dapat menampung 300 orang, walaupun saat itu paling banyak orang masuk gereja di hari Minggu hanya 30 orang saja, dan ketika gedung itu hampir selesai datang angin dan badai yang menghancurkan dinding dan setengah atapnya. Peristiwa ini hampir merenggut nyawa Geissler.

Wabah dan penyakit, serta berbagai tantangan yang dialami para pekerja sending tahun 1861–1864, datang lagi krisis yang paling buruk dari sebelumnya, gempa bumi, wabah cacar, dan penduduk memberontak para sending. Mereka bereaksi karena ada kabar Geissler akan cuti, kapal akan tiba di Doreh tiga bulan lagi. Penduduk meneruskan rencana mereka mendirikan Rumsram (kuil-kuil pemujaan atau rumah iblis), mendirikan patung-patung. Melihat kondisi ini, Geissler mengirim surat dari Mansinam, katanya: “Untuk meratapi kedegilan dan kedurhakaan rakyatku, penduduk Mansinam, hatiku berdarah, dan sedih bila ku lihat bagaimana mereka mencela dan memijak-mijak injil itu yang selama 14 tahun telah didengarnya. Rupanya, mereka seolah-olah bersepakat untuk tetap hidup dengan adat-istiadat kunonya yang penuh dosa itu.“

Masa Perbaikan dan Penaburan
Masa perbaikan dan penaburan benih injil ini diawali dengan meninggalnya Carl Ottow  pada 9 November 1862. Nyonya Ottow meninggalkan Mansinam menuju Ternate tanggal 17 April 1863, karena hendak bersalin.  Kedatangan Utusan zending dari Negeri Belanda dengan Badan Zending UZV (Utrecthse Zendings Vereniging), yang tiba di teluk Doreh Manokwari tanggal 18 April 1863, membawa kekuatan. Para pendeta yang datang ini telah dilengkapi dengan pengetahuan pertukangan dan latar belakang theologi yang baik. Pdt. Jaesrich yang telah belajar Bahasa Numfor membantu Geissler di Mansinam dalam ibadah-ibadah dan keteksasi tiap hari di Mansinam dan Kwawi.

Para utusan memiliki keahlian di berbagai bidang, sehingga memudahkan kontak dengan masyarakat sebagai sasaran penginjilan. Beberapa anggota masyarakat dapat diambil menjadi “anak piara“ sebagai cikal bakal hasil penginjilan, seperti Timotius Awendu dan Petrus Kafiar yang kemudian hari menjadi guru di kampung halamannya sendiri, walaupun sudah dua puluh lima tahun bekerja dengan sekuat tenaga dan setia.

Dalam masa penaburan benih injil di tanah ini, tidak sedikit pengorbanan yang dialami oleh para pelopor Injil di tanah Papua. Banyak korban jiwa dan materi, namun jumlah orang yang bertobat dan percaya barulah dua puluh dua orang. Anda dapat bayangkan betapa sulitnya orang Papua pada saat itu untuk percaya.

Aku Akan Kembali Secepatnya
“Hatiku berdarah, dan sedih bila ku lihat bagaimana mereka mencela dan menginjak-injak injil itu, yang selama 14 tahun telah didengarnya, mereka seolah-oleh telah bersepakat untuk berkeras hati dengan adat-istiadat kunonya yang penuh dosa itu." Demikian Geissler dalam suratnya yang terakhir dari New Guinea Barat, untuk meratapi kedegilan dan kedurhakaan rakyatnya, penduduk Mansinam.

Pada tanggal 11 Juni 1870, meninggallah “Sang Rasul” dan di atas kuburnya diletakkan sebuah batu dengan tulisan J. G. G. Sudah pasti tidak ada uang yang cukup untuk memahat namanya pada nisan yang baik. Namun namanya lengkap tertulis pada kitab kehidupan “Johann Gottlob Geissler"; “Walaupun orang yang berakal budi datang, tidak akan pernah pernah berhasil memimpin bangsa ini. Bangsa ini akan memimpin dirinya sendiri.” (Ottow-Geissler).

Demikian dengan kehadiran kedua hamba Tuhan. Ini benar-benar menggugah hati semua orang Papua, dan keduanya dijuluki sebagai “Rasul Orang Papua”. Tanggal 5 Februari 1855 kini dinyatakan dalam diri dan kehidupan orang-orang Papua patut dirayakan setiap tahun sebagai hari Pekabaran Injil di Tanah Papua.

161 tahun kemudian, rahasia terbuka. Terang dan harapan, dosa nenek moyang kita telah diampuni. Gereja Tuhan telah berdiri satu setengah abad lebih. Ini adalah kemurahan dan berkat Tuhan, maka kita yang ada dan hidup di atas tanah ini mempunyai tugas yang mulia, yaitu terus menjaga dan mewartakan Injil Kebenaran Allah, “agar semua orang harus tahu siapa Yesus”. Namun, orang Papua telah jauh dan meninggalkan Injil. Karena itu, orang Papua harus kembali kepada Injil Kristus. Tanpa injil Kristus,  orang Papua tidak akan pernah berhasil memimpin  bangsanya sendiri.

Sumber: 
___Di Rangkum dari "AJAIB DI MATA KITA" Oleh: Dr. F.C. Kamma
___ http://regional.kompas.com/read/2014/12/25/
___ catatan-sejarah-gki-di-tanah-papua.html

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Jurusan Planologi ITN-Malang
Doa 5 Februari 1855: Tanpa Injil Orang Papua Tak Akan Berhasil Memimpin Bangsanya Sendiri Reviewed by Majalah Beko on 19.39.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.