BREAKING NEWS

Berita

Melindungi Hasil Tanaman dan Peternakan Asli Meepago

Oleh Petrus Douw
Foto: Dokumen Penulis.
“Tulisan ini penulis persembahkan kepada kaum intelektual dan SKPD  bersangkutan, yang sedang berkembang tanpa melihat keadaan manusia Mee, dalam kontek melindungi sumber daya alam (SDA) dan manusianya.”

Salah satu buku, “Kibarkan Sang Bendera Makanan” oleh Nason Pigai adalah edisi terbaru yang diluncurkan tahun 2015. Buku tersebut menjadi salah satu pedoman penting yang dipegang oleh suku Mee, secara umum Papua, demi manusia dan tanah. Buku tersebut dijelaskan secara menyeluruh bersangkutan dengan melestarikan lingkungan alam demi untuk keutuhan umat manusia. Selain itu, menjelaskan integritas suku Mee dalam etimologi filosofi. Bagian ini dijelaskan demi mempertahankan hasil-hasil budidaya makanan, minuman dan peternakan.

Melestarikan SDA Meepago sangat penting, yang menjadi satu agenda untuk melindungi dan melestarikan alam, serta  hasil-hasil budidaya perkebunan dan peternakan lokal. Hal ini harus menjadi satu perhatian khusus, yang tentu ditangani oleh pemerintah setempat dalam konteks dinas  terkait. Selain pembatasan untuk mengatur dan mengelola sebagai daerah otonomi, harus  Peratuan Daerah (Perda) diperkuat melalui usaha-usaha pemerintah Meepago yang dapat mencerminkan perlindungan terhadap alam dan manusianya.

Dinas terkait harus menjalin kerja sama guna mencapai hasil yang maksimal atas perlindungan alam dan manusia, yang terdiri dari hutan, air, budidaya tanaman lokal dan peternakan. Tentunya, hal ini menjadi satu rekrutan yang melibatkan masyarakat Meepago mengerti dan ada niat untuk bekerja membudidayakannya pula. Kenapa harus ada perhatian khusus dari dinas terkait? Kurang lebih 5-10 tahun belakangan ini, telah membawa perubahan yang sedikit buruk dalam kemajuan manusia Mee melestarikan SDA, termasuk perkebunan dan peternakan. Hal ini dikaji dari segi perkebunan dan peternakan, pedagang non-Papua mulai menjual hasil-hasil panen yang didatangkan dari luar Meepago. Sekalipun tanaman yang dijual tersebut sudah ada di Meepago.

Mengantisipasi orang Mee yang mendominasi di Meepago menjadi ketergantungan dalam memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Yang termasuk menjadi kebutuhan pokok selama ini adalah mulai dari makanan, sayuran, dan lauk-pauk.  Pada tahun 2008, Kabupaten Paniai, Deiyai dan Dogiyai melalui pedagang non-Papua, mulai menjual ikan asing, ayam potong (es) dan daging lain yang tentu digunakan dengan pengawet atau formalin.  Kabupaten Paniai, Deiyai, Dogiyai adalah basis penjualan ikan, ayam dan jenis daging asli lain. Selain itu, berupa daging babi dan sapi yang sejak dulu sudah dibudidayakan di Meepago. Sedangkan, khusus untuk sayuran pula demikian.

Gerakan yang memulihkan melalui rekonsiliasi kebudayaan Mee dan segala SDA, serta manusia sangat penting didukung,  serta terlibat pula. Hal ini memulihkan melalui pengertian yang disumbangkan oleh salah satu dosen Antropologi, Bapak Andreas Goo tentang “Meeologi”. Pengertian ini menjadi satu pedoman khusus yang mengkaji segi kehidupan manusia Mee di Meepago.

Para intelektual Mee yang berdomisili di wilayah Meepago sangat penting untuk terlibat dan mengambil bagian dalam misi “Meeologi” yang dikaji melalui rekonsiliasi, agar penjelasan singkat yang dituliskan di atas ini mampu mengendalikan, membatasi dan menjadikan Meepago sebagai lingkup versi budaya Mee.

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di FKIP Uncen Jayapura - Papua
Melindungi Hasil Tanaman dan Peternakan Asli Meepago Reviewed by Majalah Beko on 18.33.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.