BREAKING NEWS

Berita

Tangisan Hati; Masalah Akhlak, Biar Kami Cari Sendiri, Urus Saja Moralmu

Oleh Akulian Gobai
Foto: Beko.
Setiap saat pembunuhan terjadi. Tangisan terdengar di tanah ku, Papua. Tanah yang penuh dengan madu dan air. Ibarat burung Nuri yang bernyanyi di tengah-tengah hutan. Nuri yang sementara menunggu hujan.

Banyak fenomena negatif secara halus maupun kasar dirasakan melalui panca idera penulis di mana-mana, bahkan orang asli Papua (OAP) lain. Mungkin, pembunuhan ini merupakan budaya asli atau budaya penambahan Papua. Ketika penulis melihat latar belakang kehidupan dan mengingat kembali doktrin kultur dan asas religi Papua, tidaklah demikian. Sehingga saat ini, penulis mengingat kembali atas pengimplementasian kasus-kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) secara tidak manusiawi di Papua.
 
Penjualan ‘game’ Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kepada kelas sosial OAP dijual murah-murah, terutama dan utama penjualan ‘game’ kepada pemerintahan, perusahaan, peneliti dan dinyatakan kepada OAP di setiap pelosok. ‘Game’ yang NKRI jual secara tidak sadar kepada pemerintah adalah pemberian otonomi khusus, otonomi plus, program KB, penambahan baal, transmigrasi dan ABRI masuk desa, dan lain-lain. Kami telah mengerti. Tujuanmu adalah mematikan mentalitas, karakteristik, dan loyalitas pelayanan pemberdayaan masyarakat yang sedang menderita di atas negerinya sendiri.
 
Pemekaran-pemekaran dimekarkan oleh NKRI sendiri, tanpa mengetahui dan menyetujui OAP sendiri sebagai pemilik tanah adat. Ini budayamu. Budaya yang engkau buat, sedang merancang, akan melaksanakan, dan kelak tubuh subur. Kau menyusui dengan senang.

NKRI tidak berjalan sesuai koridor dan mekanismenya. Perjalanan NKRI sudah diketahui para pembela keadilan dan Tanah Papua. Sudah tahu, ketika NKRI melangkah untuk memberlakukan prinsip-prinsip jahat dengan nalurimu menggunakan sumber daya alam (SDA). Jangan ambisi kekayaannya OAP. Jangan engkau kirimkan berbagai macam ‘gula-gula’ dan ‘manisan-manisan’, serta ‘game-game’, seperti ‘ayam-ayam putih’ (pornografi). Engkau katakan, ‘ayam putih’ itu akan menambah pendapatan hasil deerah. Hal itu tidak masuk akal. Kau pikir di Papua tidak ada SDA-kah? Stop! Stop!

Pada tanggal 19 dan 20 November 2015 lalu, NKRI mengirim kapal putih, di dalamnya, diisi dengan ilmu-ilmu jihat, ilmu hitam dan ilmu lainnya itu untuk apa? Apakah OAP bersalah di matamu dan wajahmu? Atau teriakan penderitaan OAP itu engkau anggap teriakan babi di kandangkah? Sejak pemimpin NKRI, Joko Widodo, datang mengunjungi Papua Barat pada bulan Juni 2015 lalu, dalam ungkapannya, di media Cahaya Papua halaman 2, termuat tentang teriakan OAP terkait Papua. “Itu artinya bahwa dengan realitas yang ada di wilayah kepala burung itu bukan mereka meminta merdeka. Tetapi, mereka minta kesejahteraan masyarakat,” kata Jokowi. Adakah HAM di Papua?

Sudut-sudut desa dikuasai oleh ‘perusuh’. Jeritan warga menambah kisruh. Kebruntalan semakin kukuh. Sekelompok barit bermobil bajak kian tangguh. Berlari bayang dalam gumpalan hitam. Teranglah melintasi jurang curam. Timah panas telah menghantam. Terhenti langkah di hadapan sungai jeram. Napasnya berlomba dengan detik jantungku. Butiran bening mengalir sendu. Kepalanya rebah di pangkuanku. Jasadnya meringkup dan membeku. Sangat lembut kapas bertebaran sekuntum mawar lepas dari untain. Ada lagi manis cinta dalam belaian.

Akhir kata, dengan tangisan hati; masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu. Urus saja akhlakmu dan peraturan sehat yang kami mau.

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua, Sedang Studi di Unipa, Manokwari, Papua Barat
Tangisan Hati; Masalah Akhlak, Biar Kami Cari Sendiri, Urus Saja Moralmu Reviewed by Majalah Beko on 22.07.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.