Breaking News

Berita

Akan ke Manakah Sistem Bahasa Ibu Tiap Etnis di Papua?

Oleh Akulian Gobai
Ilustrasi (Ist.)
Mengapa penulis memberikan topik “Akan ke Manakah Sistem Bahasa Lokal / Ibu Tiap Etnis di Papua?” Sebab, berbicara bahasa, berarti berbincang kebudayaan yang melekat pada penuturnya atau jati diri individu sosial, dan ungkapannya berhasil nyata yang telah diwujudkan atau dinyatakan pada manusia itu sendiri, sehingga hasil itu menjadi miliknya melalui belajar. Bahasa adalah pintu masuk utama dan terutama bagi  makhluk sosial yang digunakan merupakan awal masuk untuk mengenal, mengetahui, memahami, menunjukkan dan merasakan sesuatu di dalam keluarga, kelompok, kerabat dan pada lingkungan sosial. Bahasa adalah sistem lambang  yang berbentuk asas unsur-unsur  bunyi ucapan manusia dan digunakan  sarana interaksi antara manusia. Penulis akan kaji dari segi perpektif antropologi linguistik.

Setiap suku memiliki bahasa. Bahasa itu terdiri dari susunan kata-kata yang disusun oleh simbol, sehingga bahasa merupakan susunan berlapis-lapis simbol bahasa, karena simbol berasal dari bunyi, ucapan, yang dibentuk oleh sebuah kebudayaan. Maka, bahasa merupakan komponen budaya yang sangat penting yang mempengaruhi penerimaan dan perilaku manusia, perasaan kecenderungan manusia untuk bertindak, mengatasi dan kata lain mempengaruhi kesadaran aktivitas gagasan manusia.

Papua terkenal dan terpopuler karena bahasa. Bahasa-bahasa ibu di Papua semakin punah dan semakin hilang, mengapa? Menurut penulis ada 2 faktor yang menjadi faktor utama, yakni faktor internal dan eksternal.

Faktor internal adalah orang asli Papua sendiri tidak mau belajar kepada tetua yang masih hidup, tidak ada pelatihan atau kursus di setiap kampung, kurangnya mata pelajaran muatan lokal di setiap SD se-tanah Papua, dan kawin campur. Inilah faktor intern menurut pengamatan penulis.

Faktor ekstern; masuknya warga asing, metode yang diterapkan melalui pendidikan formal, kehidupan multikultural, pemekaran kabupaten, distrik sampai pemekaran kampung. Inilah yang terjadi di tanah Papua pada masa kontemporer ini. Sering kali, para peneliti akademisi turun penelitian di setiap ujung bumi tanah Papua terkait kebudayaan (Etnografi Papua). Sehingga, hasilnya menjadi  perdebatan antara mahasiswa dan dosen pada ruang dan waktu tertentu. Kenapa melakukan perdebatan? Karena, ketika melihat data, sangat terkesan dalam arti dialeknya, folklornya dan simbol bunyi ucapannya sangat terpengaruh pada budaya etnis tertentu.  Data  tersebut dipublikasikan melalui berbagai cara, entah melalui media sosial, media cetak, media elektronik, tapi tidak ada pemerhati netral,  yang ada hanya mencari nafkahnya sendiri.

Pemerintah adalah salah satu tolak ukur untuk melihat fenomena-fenomena tersebut. Namun, pemerintah memegang 3 prinsip yang dianggap sebagai bapa dan mama bagi mereka sendiri. Tiga prinsip tersebut, yakni, korupsi, kolusi dan nepotisme.  Kata “Menjadi tuan di tanahnya sendiri” ini hanya mencari gula-gula politik. Stop menggunakan kata  “Menjadi tuan di tanahnya sendiri”. Penutur kata tersebut adalah orang yang menjual jati diri terhadap  Allah,  alam dan mata manusia Papua.

Pada tahun 2012 lalu,  para akademisi Universitas Papua (Unipa), khususnya dosen-dosen Jurusan Antropologi, melakukan riset di Kabupaten Teluk Wondama. Ternyata terdapat salah satu suku di Kabupaten Teluk Wondama memiliki bahasa yang hampir punah. Kebetulan ada nenek satu di antara suku tersebut. Hanya nenek tersebut yang bisa menggunakan bahasa lokalnya. Selain nenek itu, sesama etnis tersebut tidak bisa menggunakan atau pengguna bahasa lokalnya. Sehingga, data sebagian telah diambil pada kesempatan itu. Akhirnya, para peneliti kembali menjadikan hal ini sebagai bahan acuan bagi pengguna, peminat,  pelajar dan semua yang ingin memiliki dan belajar sebagai bahan renungan untuk dapat dilestarikan berdasarkan hal tadi. Untuk mengantisipasi fenomena di atas, suku-suku lain di Papua penting mempelajari bahasa ibu sebagai jati diri etnis sendiri.

Penulis menangis ketika memandang fenomena sosial yang terjadi, kenapa? Karena, tidak ada manusia Papua yang membangun di bidang kebudayaan secara adil terkait  nilai-nilai kebudayaan, sistem-sistem budaya, dan simbol-simbol budaya. Di Papua, telah hadir Lembaga Masyarakat Adat (LMA) yang memiliki aspek ekonomi oke. Tapi menurut pandangan Antropologi Budaya, LMA dapat menghilangkan kebudayaan yang asli dan kuat. Pandangan lain penulis terhadap lembaga tersebut; LMA adalah kaki tangan dan disetir  koloni besar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan tujuan merampas dan membunuh manusia Papua di atas negerinya sendiri.

Jika kita melihat dan buktikan tupoksi utama, LMA mengatur dan mengatakan seputar unsur-unsur kebudayaan, mulai mata pencaharian, sistem bahasa, organisasi sosial, sistem pengetahuan alam, sistem Kesenian, sistem religi dan sistem peralatan hidup.

Masalah infranstruktur di Papua, semakin hari, semakin cepat dibangun secara lancar. Sayangnya, kebudayaan kita ke depan, lebih khusus sistem bahasa tadi. Generasi Papua zaman kini banyak yang menggunakan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia dianggap sebagai bahasa ibu. Sementara, bahasa asli atau lokal tak terlihat diungkap. Kalau mendengar saja bisa, itu pun ada kelompok-kelompok, yakni kelompok lahir-besar kota, lahir-besar Jawa, lahir-besar Manado, Sulawesi, Kalimantan  dan pulau nusantara lainnya.

Kenyataan seperti demikian menjadi pertanyaan bagi penulis dan pembaca, siapa yang akan mengajar, melestarikan, memupuk dan caranya bagaimana? Kemudian, langkah selanjutnya bagaimana ?  

Penulis menyarankan, pemerintah daerah memfasilitasi dan mendistribusikan dana kepada sarjana-sarjana sastra dan budaya bekerja sama dengan dinas sosial dan kebudayaan yang ada. Di samping itu, para guru Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menegah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK) perlu meningkatkan mata pelajaran muatan lokal, lebih khususnya bahasa ibu setiap etnis. Para peneliti juga perlu menggali sistem bahasa itu dengan sebaik mungkin, agar para sarjana-sarjona kembali menerapkan ilumunya di kampung halamannya berdasarkan keterampiran yang dimiliki. Selain itu, lembaga-lembaga swasta perlu membuka kursus bahasa lokal di setiap kampung.

*) Penulis adalah Mahasiswa Suku Mee,  sedang menempuh ilmu di Jurusan Antropologi, Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (Unipa), Manokwari, Papua Barat
Akan ke Manakah Sistem Bahasa Ibu Tiap Etnis di Papua? Reviewed by Majalah Beko on 13.01.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.