Breaking News

Berita

Kisah Hidup Pejuang Budaya Asmat, Yanes Akanmor di Jakarta

Oleh Nomen Douw
Yanes Akanmor berpose bersama Presiden RI, Jokowi. Foto: Yanes Akanmor/Facebook.
Sejak tahun 2012, anak Papua asal Kabupaten Asmat, Yanes Akanmor ingin melanjutkan pendidikan di kota yang sangat jauh dari kampungnya, Asmat. Tekat yang menjadi prinsip utama dalam hati Yanes hanya satu; menjadi orang hebat, seperti orang lain. Tekad Yanes membawanya ke Ibu Kota Negara, Jakarta.

Setibanya di Jakarta, Yanes masuk di sekolah kedinasan yang terletak di Jakarta Selatan. Setelah melalui proses registrasi di kampus, ia mendaftar. Akhirnya, Yanes diterima sebagai mahasiswa di kampus tersebut. Yanes sangat kesulitan dalam menanggung biaya hidupnya di Jakarta. Yanes tidak punya ide yang harus ia andalkan untuk mencari nafkah hidup sehari-hari di kota Metropolitan, selain dia menggandalkan bakat memahat patung Asmat di setiap acara festival di Jakarta atau di acara lainnya.
Yanes Akanmor memahat patung. Foto: Yanes Akanmor/Facebook.
Yanes mempertahankan hidupnya di Kota Jakarta selama berbulan-bulan dengan modal hasil memahat patung asmat dan menjualnya di setiap sudut Kota Jakarta. Tanpa disadari, Yanes sudah memasuki semester empat. Di samping mencari nafkah sehari-hari, Yanes juga tidak lupa ke kampus demi mewujudkan tekadnya menjadi orang yang hebat. Untuk masalah biaya kuliah, dia sangat bersyukur karena ditanggung Pemda Asmat melalui surat rekomendasi. Hanya biaya hidup yang harus dicari Yanes.

Setelah dua tahun kemudian, mental Yanes semakin terbentuk untuk menghadapi kehidupan di kota besar sebagai Ibu Kota Negara. Tepat pada 5 Mei 2015, tiba-tiba Yanes mendengar ada acara yang diselenggarakan oleh Presiden Jokowi di Menten, Jakarta Pusat. Dengan senang hati, Yanes pun harus berangkat ke tempat acara tersebut dengan busana budaya Asmat (lengkap dan rapi). Di sana, ia menari-nari dan duduk sambil memahat patung. Seusai dari acara puncak tersebut, sambil memukul Tifa, Yanes menari-nari di tenggah para elit Jakarta yang hadir di acara tersebut. Setelah menari, ada seorang bapak yang namanya tidak disebutkan datang menghampiri Yanes dan membawa Yanes, lalu bertanya identitas Yanes. Bapa itu berjanji kepada Yanes, bahwa beliau akan menggundang Yanes di acara pentas budaya di Jakarta dan akan mengundangnya di salah satu stasiun TV. Setelah beberapa bulan kemudian, Yanes dipanggil bapa yang sempat berbincang dengan Yanes itu. Bapa itu mengatakan, Yanes harus menghadiri di salah satu acara yang diselenggarakan oleh Menteri Perindustrian di apartemen kementeriannya. Di acara itu, dihadiri banyak petinggi negara, termasuk Presiden Jokowi. Di sana, Yanes diberikan kesempatan untuk menampilkan tarian Asmat dan memamerkan hasil ukiran yang di pahat saat itu juga.

Banyak acara yang Yanes lalui melalui undangan. Karena semakin tampil di panggung dalam berbagai acara dan festival, Yanes mulai dikenal di seputar para elit negara di Jakarta dan berkat dari itu, saat ini Yanes dipanggil masuk bergabung bersama tim Jokowi sambil dia kuliah. Saat masuk di timnya Jokowi, Yanes banyak tampil melalui acara-acara yang diadakan, baik dari Pemerintah Pusat Jakarta, maupun di televisi swasta dari berbagai stasiun TV di Jakarta.
Yanes Akanmor berbusana adat Asmat di Jakarta. Foto: Yanes Akanmor/Facebook.
Saat ini, Yanes menjadi ikon budaya Asmat di Jakarta. Setiap ada festival di berbagai tempat di Jakarta, Yanes selalu diundang untuk tampil. Saat ini, Yanes sudah tinggal di Jakarta kurang lebih empat tahun. Yanes pun tidak lupa kuliah. Dia sekarang sudah semester enam. Tinggal setahun lagi dia wisuda dan akan kembali ke kampung halamannya untuk mengabdi dan membagikan apa yang didapatnya di Jakarta, sesuai perjalanannya selama kurang lebih lima tahun.
****
Ini salah satu kisah yang luar biasa dan perlu dicontohi oleh anak-anak muda Papua saat ini, karena Yanes dengan kerja kerasnya, dia mampu untuk menampilkan jati dirinya sebagai anak Papua yang berbudaya di mata nasional maupun di mata internasional melalui TV. Di lain sisi, Yanes melawan ego yang saat ini menjadi masalah besar dalam diri pribadi anak-anak muda Papua saat ini. Hal ini dalam arti, bahwa malu mengenakan pakain adat di muka publik, yang nyatanya selalu ada pikiran yang kurang membagun, sehingga perlu dicontohi kisah dari Yanes Akanmor yang telah menjadi pejuang budaya Asmat di Ibu Kota Negara.

Satu kata terakhir dari Yanes, ”Kita dilahirkan dalam budaya masing-masing. Oleh sebab itu, kita jangan pernah lupa budaya kita sebagai anak yang berbudaya. Ingat, bahwa di manapun kita berada, di situ kita perlu menjadi saksi bagi budaya kita masing-masing, karena budaya inilah harta orang Papua yang sebenarnya. (****)
Kisah Hidup Pejuang Budaya Asmat, Yanes Akanmor di Jakarta Reviewed by Majalah Beko on 19.34.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.