Breaking News

Berita

Segelas Obat Hitam

Oleh Deserius Goo
Ilustrasi. Foto: Beko.
Dalam sebuah rumah kumuh yang beralas karton dengan atap yang berlobang, keluar ribuan kata yang menjadikan sebuah cerita yang tak akan pernah dilupakan. Berbagai kata yang menjadikan sebuah cerita luka dan duka semakin meraja lela di seluruh penjuru rumah kumah yang dihuni oleh orang tua berkumis putih.

Tungku api di dapar itu masih menyala besar. Di sebelah tunggu api itu, terlihat jelas dengan kilat seorang tua beramput putih sedang asik menjalarkan petatas di tunggu api. Di ruang tunggu, para pemuda itu masih mengukir kata-kata yang manjadikan sebuah cerita yang dirasakan sekian lama. Cerita luka dan duka itu masih bersahabat bersama mereka yang sudah dari tadi mangambil posisi di ruang tamu yang kumuh itu.

Situasi derita itu masih kami rasakan. Luka dan duka itu masih membekas bersama-sama kami setiap hari. Tangisan dalam hati kami masih menjadi makanan sehari-hari dalam perjalanan hidup kami. Kapitalisme, kolonialisme, dan militerisme memang biadap.

Segelas kopi hitam masih bersama kami dan menjadi obat penghibur dalam cerita derita duka dan air mata. Duka masih berlanjut di negeri kami. Kebanyakan orang yang hidup di negeri ini semakin kontrominasi bersama kesenangan sesak, dan mengumpulkan harta dunia yang dibayar oleh perusak-perusan dan penguasa itu.

Rintil-rintik hujan sedang menutupi jagat raya di luar rumah yang kami singgahi. Awan putih telah menutupi gunung-gunung yang menjulang tinggi. Dalam rumah kumuh itu, di ruang tengah, hanyalah terdengan suara-suara bisingan dari teman. Bagimana mau keluar? di luar juga masih ada serigala yang ke sana kemari mencari mangsanya.”

Keheningan di tengah gerimis hujan saat serigala semakin galak mencari mangsa. Hanya sebuah gelas yang berisi air hitam itu masih menjadi sahabat. Dalam sebuah keheningan itu, tangan ini bergetar mencoret sebuah buku harian.

Segelas Kopi Hitam
Siang di bawah atap yang berbolong.
Masih terdengar suara-suara tangisan negeri.
Menemani kicau burung Cenderawasih.
Gerimis cepat datang kala itu.
Dalam raung kelabu.
Dapur itu masih menyala api.
Terlihat sang guru tua dengan penuh tanya.
Hidup tak ada arti bersama iblis di dunia.

Suara-suara tangisan hilang di bawah waktu.
Suara-suara derita seakan tak ada arti.
Kata-kata semakin tidak ada artinya.
Kami hidup dalam kemusnahan.
Iblis semakin meraja lela di negeri ini.

Aaaa, sayang….
Di mana akan ku huni?
Aku semakin diborong sang serigala galak itu.
Tuhan…. Rumah dan halaman ini milik siapa?
Walau berasumsi dalam dunia sadis.
Di sini, kami tetap ada.
Segelas kopi masih bersahabat.
Segelas kopi masih menguatkan.
Tuhan selalu hidup.

Malam masih berlanjut dengan pembunuhan-pembunuhan kilat. Korban di sana-sini. Kain hitam masih saja bertambah, diikat di setiap jalan yang saya lewati. Entah siapa pelakunya, masih belum bisa diungkapkan oleh penegak-pengak hukum. Kepolisian masih juga bersembunyi muka di balik kejadian-kajadian menyejutkan itu. (****)
Segelas Obat Hitam Reviewed by Majalah Beko on 09.22.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.