BREAKING NEWS

Berita

Surat kepada Kawan

Oleh Yohanes Gobai
Ilustrasi (Dok. Beko)
Ijinkan surat ini mengutuk roh-roh gurita yang sedang gentayangan di dunia kita. Belum lama ini, kita dilahirkan di dunia ini oleh ibu kita. Dalam waktu yang sesingkat-singkat mungkin, saat ini, ada pada seusia kita hari ini. Rasanya hari tak seberapa lama. Tahun tak seberapa waktu. Kini, 365 hari adalah musim dingin di Inggris. Dahulu, musim dingin datang dalam waktu seminggu-sebulan.

Surat tak sempurna ini saya siratkan kepada semua kawan-kawan yang masih bersandarkan kepada kebenaran yang mengundang dan menguntungkan hal kepribadian saja, serta mencari jalan keselamatan untuk pribadinya. Seakan di dunia ini tanpa ‘aku’ yang lain, selain saya.

Di dunia ini, mati dan hidup adalah bukan misteri, sekalipun hal nyata yang tak mungkin bisa kita pastikan. Namun, setelah kita dilahirkan, kita sedang dikejar yang namanya kematian. Kematian pun sedang menjemput kita. Hidup dan mati adalah sekali. Kita tidak tahu setelah mati akan ke mana? Dan, setelah mati apa yang kita akan lakukan? Atau, adakah kehidupan baru di sana? Atau, kita masih melakukan sisa rencana kerja perjuangan kita setelah meninggal?

Manusia yang rapuh tak dapat nyatakan jawaban yang pasti. Yang pasti adalah hidup kita hari ini. Hidup kita ini nyata, kawan. Jangan kau berpura-pura ingin putar waktu yang lama dan ingin mengulangi kejadian yang sama. Hidup kita ini nyata. Kau dan kita harus sadari, bahwa hari ini teknologi moderen tak memihak kepada kita dan mereka. Dia juga ‘tak memihak kepada baik, buruk, rusak, miskin, kaya, dan sebagainya. Dalam nilai, fungsinya sama. Nilai tukarlah yang menjadi basis problem.

Hidup kita hari ini digantungkan kepada sebuah kertas yang tertulis berapa jumlah angka. Hari ini, manusia di negeri tercinta ini tak lagi memandang tanah dan air sebagai sumber kehidupan. Tanah dan air kini telah berubah menjadi uang. Seakan uang adalah sumber hidup atau mati? Akibatnya, sumber kehidupan hari ini digadaikan dengan iklan-iklan kapitalis.

Waktu tak bisa samakan dengan nilai uang. Waktu adalah waktu itu sendiri. Waktu juga tidak bisa digantikan posisinya dengan uang. Begitu pula sebaliknya. Kita disadarkan dengan slogan waktu adalah uang, atau waktu adalah emas. Itu kampanye gurita untuk menguras tenaga, fikiran, dan mengorbankan semua untuk uang.

Dampaknya, rasa sosialisnya semakin berkurang. Saya akan jadi hamba-hamba gurita tadi. Tak terhitung seberapa tenaga dan pengorbanan yang kita persembahkan. Hal itu tak ada nilainya bagi sang gurita. Kita akan merasakan puas, cukup, kenyang, dan rasa hormat dengan apa yang diberikan oleh tuan tadi. Apapun, sekurang-kurang porsinya, tak sama dengan waktu, tenaga dan pengorbanan kita kepadanya. Barangkali, hal rezeki yang berikan atas nama ‘ke-Tuhan-an. Mari, syukuri! Yah, wajar saja akan hal tak terpungkiri itu.

Pandang sebelah mata dari bentuk perahu perjuangan muncul dari nasionalisme yang tak tajam, kadang juga dangkalnya pemahaman ideologis. Maka, ideologis itu perlu dijiwai dalam setiap induvidu dan gerakan tentunya. Akibatnya, secara induvidu akan membawa dampak yang fatal ke dalam sebuah perahu tadi. Dan, secara induvidu terlepas dari perahu bersama. Dampaknya akan teruji di derasnya perubahan hidup nyata ini. Apakah akan terbawa arus pada perubahan yang ada dan sedang berlangsung? Atau, beranikah ia terbawa dalam deras yang dia ciptakan?

Di atas perdebatan yang panjang, setelah renungkan hal tentang hidup saya, ada  yang sangka tentang hidup ini bahwa hidup adalah sebuah pilihan. Tidak selalu. Hidup itu tantangan dan juga pilihan. Sepakat bila pilihan perjuangan kita dengan cara kita masing-masing atau bersatu, tampung idealnya dalam satu kantong, lalu berdialektik. Adalah dua fokus proses perjuangan yang hakikatnya satu, pencapaian yang satu, yakni merdeka. Tetapi, perlu dikerucutkan, bahwa merdeka secara hakiki menurut dua titik fokus adalah dua pencapaian yang beda. Maka, perlu dipertaruhkan dalam sebuah gelas berisi partikel lalu mix-kan, yakni apa bentuk aslinya secara dialektik dari materialnya.

Coretan dasarnya tra jelas ini mengangkat kesimpulan, bahwa untuk apa saya ada di arena ini? Hidup ini sekali dan mati pun sekali. Nasip anak cucu kita berdua akan digantungkan kepada siapa? Sebab, bangsa lain datang dengan model kontrak sodara. Ko stop sudah deng budaya meminta dan tuntunan dari hal yang tra nyata. Amunisi ini nyata. Pada posisi sasarannya, amunisi ini akan merobek jantungmu, kecuali mimpi basah di malam hari ini. (****)
Surat kepada Kawan Reviewed by Majalah Beko on 22.17.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.