BREAKING NEWS

Berita

Mimpi Surgaku

Oleh Amos Degei
Ilustrasi. Foto: Ist.
Saya pasti sudah terbang, bila saya mempunyai dua sayap yang kokoh seperti burung Cenderawasih. Terbang ke dunia yang sudah dijanjikan Tuhan kepada Bangsa West Papua. Dunia yang aman dan dunia yang damai, dunia yang bebas dari segala penjara kekerasan. Itu dunia kita yang sesungguhnya. Dunia yang harus kita hidup dan di dunia itu kita kembangkan bakat dan karunia-karunia rohani yang sudah ‘dikubur’ dalam diri kita masing-masing.

Paragraf di atas ini yang saya pikir ketika secara natural, saya mulai bisa menciptakan bahasa sendiri sesuai pengetahuan yang dilihat dan sesuai pengetahuan yang saya rasakan selama beberapa tahun silam. . . .

****

Waktu sore menjelang malam, di hari itu, saya menyepi di ujung taluk di kota yang saya diami. Saya duduk harumi suasana malam bersama gulungan serta gelombang air laut. Di tepi pantai, satu jam saya tinggal duduk menghibur hati yang sarang pilu. Suasana itu saya lalui walau saya hanya seorang diri. Bisikan gelombang air garam itu masih menemani. Dan, Hamparan tepi pantai masih menjadi ilustrasi menarik.

Suasana dan tempat di hari itu menjadi istimewa bagi saya seorang; menyikapi ahlak para perisau yang sudah dan sedang menjadi raja dan menyihir kehidupan West Papua dari kehidupan kami di dunia yang damai, dunia yang tenteram, dunia yang makmur (sesungguhnya). Telinga ini sudah menjadi tuli dengan bisikan rentetan senjata yang selalu menjadi irama dalam kehidupan. Tangisan “kiut kiut” dan air mata darah anak negeri masih terus mengalir menyelimuti kehidupan di dunia kita.

Hidup terpuruk dan tertindas sudah mendewasa tanpa berkas cahaya yang datang menyinari dunia West Papua bangkit dan gemilang di atas negeri kita sendiri.

Usia saya sekarang 22 tahun. Bisikan tragedi masih menjadi sahabat hidup; penindasan, kebrutalan, intimidasi, perampokan, diskriminasi, dan pemerkosaan. Semua itu masih berderet dengan para bengis. Kehidupan saya sungguh seterpuruk dari “mimpi surgaku”. Surga di hati pilu, keluarga, dan surga untuk Negara West Papua.

Beralas lantai taluk beton tua, saya masih duduk. Iman masih menahan tubuh yang selalu diguncangkan oleh mereka. Waktu sudah melampau menjelang kotaku. Bisikan kendaraan roda dua dan kendaraan roda empat yang tadi berlalu lalang di sepanjang jalan itu sudah merendah.

Saya masih bersantai, duduk di taluk itu walau siklus hari waktu sudah gelap. Di momen sejenak ini, tubuh saya habis terkipas angin laut yang dingin. Angin yang dingin dan sejuk datang menyentuh kulit hingga menyentuh hati sarang pilu. Terasa saat itu, mimpi surgaku segera terwujud.

Terima kasih kepada Maha Kuasa, leluhur aktivis, moyang, alam, dan budaya, serta negara pendukung. Tetap semangat, engkau aktivis gerakan pencari cahaya hidup yang gigih.

****

Di sudut tempat parkiran, dekat persimpangan jalan, motor masih menunggu. Saya nyalakan dan kemudi melintasi jalan hitam hingga di rumah tempat saya diami.

* Nabire, 28 Mei 2016
Mimpi Surgaku Reviewed by Majalah Beko on 15.22.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.