BREAKING NEWS

Berita

Di Mana Saja, Kita Bisa Berdoa

Oleh Maikel Mote
Bentuk penyembahan dan pemujaan Tuhan seperti ini yang saya lakukan di setiap hari Minggu, ketika memasuki tahun 2016, karena saya memahami bahwa Tuhan itu ada di mana-mana (foto: dok. pribadi).
Di dalam kehidupan ini, kita sebagai orang kristen percaya bahwa semua isi planet (bumi), urutan ke-3 susunan tata surya ini karya Tuhan. Pengetahuan itu kita kenali dalam ajaran ilmu religi, sehingga di dalam kehidupan ini, kita yakin dan percaya bahwa tak ada yang lebih berkuasa selain Tuhan kita.

Kita percaya, Tuhan adalah pencipta segala isi bumi dan kita tahu bahwa di mana saja kita berada, Tuhan selalu ada hidup bersama kita. Dan, kita pun selalu hidup beralaskan 10 hukum Tuhan yang kita kenal dalam ajaran ilmu religi.

Selain 10 hukum Tuhan yang kita turuti, Tuhan pun tidak pernah membiarkan kami hidup menyendiri sedikit pun. Kita sebagai orang Kristen merasa kuat hidup bersama Tuhan melewati beraneka rintangan, cobaan, dan godaan hidup di dunia fana. Dengan kesemuanya itu, sebagai rasa hormat sesuai keyakinan, kita selalu berdoa (memohon) kepada-Nya.

Pujian persembahan itu selalu kita terapkan sementara kita masih diberikan nafas hidup, entah di mana dan kapan saja sesuai selera kita. Misalnya, di gereja, di rumah, di sekolah, di kebun, di tempat kuliah (kampus), dan di jalanan, bahkan di hutan belantara. Hal  ini selalu kita lakukan, sebab agama mengajarkan kita bahwa “Tuhan itu ada di mana-mana”.

Semua itu bukti nyata bahwa kita percaya dan mengakui hanya Tuhan yang lebih berkuasa dalam kehidupan kita. Di konteks lain, bila kita lihat dalam kaca mata hidup, semua orang kristen selalu pergi dan melakukan ibadah bersama di hari Minggu dari rumah yang dianggap sebagai simbol rumah Tuhan yang kita kenal dengan sebutan gereja.

Tindakan ini faedah mendorong dan merealisasikan 10 perintah Tuhan kepada kita umat Kristen yang tertera terang pada poin ke tiga; “Kuduskan  Hari Tuhan”. Itu kewajiban. Sehingga, berdasarkan itu, umat Kristen selalu ke gereja untuk beribadah. Dan, orang Kristen anggap gereja sebagai tempat suci.

Tindakan seperti ini bukan hal asing atau sesuatu yang terbentuk melalui kontak batinnya agama dan budaya asing (luar), tetapi  ini keyakinan orang Kristen yang dipatuhi, dipegang, dan diwariskan dari sejak dahulu manusia pertama, Adam dan Hawa diciptakan oleh Tuhan.

Semua orang Kristen pergi beribadah di gereja untuk keselamatan roh. Selain itu, umat kristen beribadah juga untuk memohon kesuksesan dalam usaha apapun yang diinginkan, bahkan untuk mensyukuri semua berkat yang sudah diperoleh dan juga memohon ampun atas semua dosa yang telah dilakukan, entah sengaja dan juga secara tidak sengaja dalam hidup selama  6 hari yang sudah berlalu. Sehingga, orang Kristen menganggap gereja, simbol rumah Tuhan ini sebagai tempat suci dan tempat yang harus dilindungi, bahkan tempat  yang harus diwariskan terus-menerus ke setiap masa.

Namun, bila kita melihat kewajiban orang Kristen yang diterapkan di masa sekarang (modern) dan teristimewa untuk anak generasi muda yang dikaitkan dengan ketiga “Kuduskan  Hari Tuhan” dalam 10 perintah Tuhan itu, dalam penerapannya terlihat tidak dengan hati dan pikiran layaknya orang Kristen.

Padahal, yang sesungguhnya, semua orang Kristen pergi beribadah di gereja itu untuk menerima kabar gembira tentang Tuhan sesuai tema renungan ibadah di hari Minggu itu dan kabar gembira itu diterima untuk direalisasi dalam kehidupan di lingkungan keluarga dan di lingkungan masyarakat; di tempat kita berpijak.

Untuk Keselamatan Roh, Saya Mengambil Langkah Baru

Dengan afal anak generasi muda yang selalu tunjukkan di setiap hari Minggu, saya mengambil langkah baru untuk melakukan ibadah di hutan belantara.

Saya mengambil langkah ini karena saya memahami bahwa Tuhan itu ada di mana-mana. Sehingga, saya bergegas melakukan itu walaupun keselamatan itu ada pada hati dan pikiran kita, tetapi saya mengerti bahwa semua pikiran manusia itu bermula dari indera kita.

Apabila kita terus melihat afal yang dilihatkan oleh anak generasi muda di setiap hari Minggu itu, tentu saja kita akan tersihir dan memikirkan tentang itu, sehingga langkah ini saya pilih untuk keselamatan roh.

Di hutan Belantara, Saya Berdoa

Di hari Minggu pagi, saya bergegas ke hutan belantara untuk berdoa. Sebelum berangkat, saya siapkan tema dan bacaan Alkitab yang ada di kalender liturgi mingguan, Alkitab, Orasi Suci, dan Rosario yang saya harus bawa.

Usai persiapan dari rumah, saya keluar ke jalan raya dan terus berjalan karena perjalanan saya masih panjang.

Langkah demi langkah, saya tinggalkan beberapa rumah, bukit, dan gunung hingga tiba di tempat tujuan saya, hutan belantara.

Saya seorang diri di sana, di tengah pepohonan, dedaunan, dan semak yang belukar. Kicauan burung pun membisiki pendengaran, seakan menyambut kedatangan saya dan memandu matahari datang menyinari dunia.

Hutan terlindung, seakan masih perawan. Tempat itu aman untuk saya melakukan ibadah. Udara segar menyentuh pori-pori kulit tubuh.

Saya duduk beralaskan daun kering dan menikmati angin sejuk. Setelah beberapa saat hingga pikiran dan hati tenang, saya mengeluarkan bahan-bahan ibadah yang sudah dibawa tadi dari rumah.

Saya mulai mengambil sikap duduk untuk meditasi. Hati dan pikiran saya pun tenang. Saya menyiapkan diri untuk  berkomunikasi  dengan Tuhan. … Hingga selesai, saya kembali ke rumah tempat saya diami.

****
Di Mana Saja, Kita Bisa Berdoa Reviewed by Majalah Beko on 18.53.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.