Breaking News

Berita

Perjuangan (Menulis) Kini; Antara Ikhlas dengan Reputasi

Oleh Aten Pekei
Ilustrasi (foto: dok. penulis).
“Coretan kecil; untuk sa renungkan”

Di sebuah kampus ‘gado-gado’, ada dua orang sahabat, A dan B. Awalnya, mereka hidup dengan kasih yang besar di antara mereka. Namun, lantaran tugas dan tanggung jawab di kampus, mereka dipisahkan. Si A lebih mencurahkan aktivitasnya sebagai seorang yang peduli dengan kepentingan umum (sosialis). Sedangkan, si B hanya mencurahkan aktivitasnya pada urusan-urusan pribadinya bahkan hidupnya semata secara spontan demi masa depannya (reputasi).

Suatu waktu, sebuah bencana besar melanda masyarakat di daerah itu. Si A bersama beberapa rekannya berjuang mencari jalan keluar. Si A mencoba bergerak di sisi tulisan. Dia terus membangun hubungan dengan beberapa media massa dan online di daerah itu. Dia mulai mencoba mempublikasikan data dan fakta yang didapatnya di tempat terjadi bencana itu. Menurut A, ini adalah pekerjaan mulia.

Sementara, si B sibuk dengan ‘nilai-nilai angka’ yang didapatnya semester itu. Tanpa kasihan, si B berjalan menerobos kerumunan orang yang sedang membutuhkan pertolongan. Dia terus mengurus nilai-nilai itu.

Tiba-tiba, si B bertemu si A. Dengan keringat yang cukup, si A meminta pertolongan kepada si B. “Kawan, ko bisa bantu sa kah?” kata si A memohon, “Sa ada perlu dan butuh ko sekali, kawan.” Dengan tergesa-gesa si B menjawab, “Adoh… kawan, sa sibuk sekali ni. Ko minta bantuan sama yang lain sudah.”

Si A kembali memohon, “Demi… Kawan sa butuh ko sekali. Sa dengan teman-teman lain pusing sekali. Tong bantu-bantu saudara dong yang terkena bencana tu. Ko bisa bantu sa tulis tentang apa yang ko pikir dan lihat tentang bencana ini kah? Tong muat di media dan buang informasi ke luar supaya dari pihak terkait bisa datang bantu tong pu saudara-saudara ni. Bagaimana kawan?” Sambil menoleh si B menjawab, “Adoh… Kawan media itu apa eee? Trada untung. Tra penting juga mo. Lebih baik, sa kuliah dan kejar nilai saja supaya sa cepat selesai dari pada sibuk dengan masalah-masalah yang tidak kasih sa apa-apa ni.” Serta-merta, si A memohon dan mendesak si B, “Kawan, tolong sekali saja.”

Mendengar permohonan si A yang bertubi-tubi, si B siap menolong si B, namun hanya sekali saja.

Mereka kembali mengepos permasalahan tersebut. Si A bekerja dengan ikhlas. Sementara, si B juga terlihat bekerja. Tetapi di hatinya, reputasi sudah mendarah daging. Sambil bekerja, si B mensosialisasikan nilai-nilai angkanya tadi kepada masyarakat. Menurutnya, hal ini harus dilakukan demi hidupnya kelak. Akhirnya, si B terus bekerja bersama si A.

Dengan hasrat, si A menabrak ‘dinding-dinding’ di depannya. “Tangan Tuhan tidak mungkin datang tolong sa, kalo sa sendiri tidak berusaha,” katanya sambil mengumpulkan sejumlah data dan fakta korban bencana.

Dia terus memberikan informasi kepada publik dengan menulis dan memotret situasi masyarakat. Berkat kerja kerasnya itu, pihak terkait datang menolong para korban bencana tersebut. Satu per satu masalah teratasi walau rintangan dan tantangannya berat.

*) Penulis adalah pemula dan bekerja di Majalah Beko
Perjuangan (Menulis) Kini; Antara Ikhlas dengan Reputasi Reviewed by Majalah Beko on 20.28.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.