BREAKING NEWS

Berita

Tuan Versus Tuhan

Oleh Aten Pekei
Ilustrasi (foto: dok. penulis).

# # #
“Trada yang menyahut saat sa panggil ko pu nama,” kata bocah ‘dilupakan’ yang masih mencari tuan asalnya itu.
# # #

Ini adalah sepenggal kisah seorang bocah yang sedang mencari tuan asalnya. Dialah seorang sahabat yang ‘dilupakan’.

***

Mentari kembali bersinar memulai kehidupan baru yang berkesan sama di atas tanah yang berlumuran darah kaum pemilik (korban ketidakadilan). Papua nama tanah itu. Mentari membangunkan bumi Papua dan isinya.

Bocah itu masih terbaring membisu; melepas lelah di saat alam Papua tak lagi bersahabat. Dia adalah seorang korban ketidakadilan (dalam bentuk kekerasan, diskriminasi, dan intimidasi) di antara saudara-saudarinya.

Hari berganti hari, ketidakadilan ini semakin ironis dengan menumpuknya pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia (HAM). HAM diinjak-injak, bahkan sengaja dilenyapkan para tuan, militer, dan sesama budak yang egois demi mengisi perut sehari.

Semua ini terjadi akibat sejarah korban ketidakadilan di masa lampau. Sejarah yang dimanipulasi dengan tindak tidak manusiawi demi (mencuri) kekayaan alam korban ketidakadilan yang melimpah. Sejarah ini masih menuntut keadilan pelaku di mata pemuka-pemuka hukum.

Ada tuan yang baik dan sebaliknya. Ada juga budak yang baik dan sebaliknya. Tuan yang baik mempekerjakan budak baik dan tidak baik. Tuan lalim dan tak bermoral juga mempekerjakan budak baik dan tidak baik.

Keadaan Papua semakin brutal.

Tiap hari adalah hari-hari yang sulit bagi si bocah dan korban ketidakadilan lainnya untuk berkarya; berekspresi sesuai bakat mereka. Ruang mereka sempit, bahkan tidak ada sama sekali untuk mengemukakan pendapat. Ada yang lebih brutal lagi. Rasanya, udara pun harus dibayar di tanah itu.

Setiap siang, daerah itu didominasi para tuan lalim dan tak bermoral didampingi berjuta budak, entah itu budak-budak baik dan tidak baik; militer dan sesamanya yang egois. Budak-budak tersebut dipekerjakan setiap hari. Sementara, sedikit saja tuan-tuan yang baik juga mempekerjakan budak-budaknya.

Biasanya, para tuan lalim dan tak bermoral, bahkan budak-budaknya berkedok. Mereka menggunakan nama Tuhan dan hukum sebagai tameng untuk melindungi tindak-tindak lalim dan tak bermoral mereka. Sesekali, mereka berpura-pura menyamai diri mereka dan membantu korban ketidakadilan demi mewujudkan maksud terselubung mereka.

Ada juga yang munafik. Mereka bersembunyi di balik rumah Tuhan. Mereka berusaha menyamai diri mereka dengan Tuhan. Sama dengan para tuan lalim dan tak bermoral beserta budak-budaknya, uang adalah Tuhan bagi mereka. Mereka lupa akan identitas mereka. Ajaran Alkitab menjadi nyata; rumah Tuhan dijadikan sarang penyamun.

Perpaduan antara budak-budak itu membentuk kubu-kubu tersistematik. Kubu-kubu tersebut dibentuk berdasarkan sendi-sendi kehidupan, seperti politik, hukum, pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lainnya. Kubu-kubu itu diciptakan untuk mematikan sendi-sendi kehidupan dan identitas para korban ketidakadilan.

“Yang benar dibenarkan. Yang salah disalahkan.”

Itulah bunyi hukum para tuan lalim dan tak bermoral beserta budak-budaknya.

Tetapi, kenyataan mengatakan lain. Mereka menginjak-injak dengan menjual-belikan hukum mereka sendiri.

“Yang salah dibenarkan. Yang benar disalahkan,” kata mereka, empunya hukum yang juga diikuti dengan tindakan nyata.

Mereka patut disebut serigala yang kehausan darah.

Mereka menyebarkan isu-isu adu domba di media massa yang menyembunyikan dan untuk menyukseskan tujuan mereka. Salah satunya melalui pembunuhan misterius berstigma ‘drakula’ dan ‘manusia bertopeng’. Hal ini membuat korban ketidakadilan semakin risau dan takut beraktivitas di atas tanah mereka sendiri. Tanah mereka bagaikan neraka.

Aneh tapi nyata. Ini benar-benar terjadi. Seakan, dunia terbolak-balik. Yang baik bisa saja menjadi tidak baik atau sebaliknya. Kepentingan sesaat demi mengisi perut sehari (uang) mengubah semuanya.

Bukan hanya itu saja. Mereka juga menciptakan konflik horizontal antar korban ketidakadilan. Satu per satu dilenyapkan, mulai dari perpecahan (konflik) keluarga, kampung, suku, dan kelompok.

Walaupun begitu, si bocah tidak mengindahkan para tuan bersama budak-budaknya. Dia hanya mempercayai seorang (tuan) revolusioner sejati. Dia terus mencari tuan asalnya itu.

“Reputasi… trus popularitas tra bisa hilang di antara torang sendiri.... Ko di mana? Sekarang, ko ada lihat kami kah tra?” kata hati bocah itu melihat penindasan sesamanya sambil meneteskan air matanya.

Setiap saat bocah itu mendahaga para tuan lalim dan tak bermoral beserta budak-budaknya; barangkali melawan kehendak sang tuan demi Tuhan.

“Hanya ada satu kata, lawan!” ucap bocah itu dengan nyaring sambil berpijak di sisi lain, “Lawan dengan cara masing-masing demi satu tujuan.”

Sementara, tangisan-tangisan hati kaum tak bersuara itu terdengar di mana-mana.

“Jangan rampas tanah kami!”
“Selamatkan hutan demi anak cucu kami!”
“Kami butuh tempat jualan yang layak!”
“Kami ingin bersekolah dengan pendidikan yang memanusiakan manusia!”
“Kami ingin berkesehatan baik!”
“Kami ingin kembali ke agama asal!”
“Kami ingin bebas dari... untuk…!”

Satu tangisan pamungkas mereka yang kian mendunia; “Kami ingin bebas dan menentukan nasib sendiri!”

Meski demikian, sendi-sendi kehidupan masih saja terabaikan dan kian terpuruk. Sesamanya yang egois masih saja kekosongan perut.

“Trada yang menyahut saat sa panggil ko pu nama,” kata bocah ‘dilupakan’ yang masih mencari tuan asalnya itu.


*( Penulis adalah pemula dan bekerja di Majalah Beko
Tuan Versus Tuhan Reviewed by Majalah Beko on 14.43.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.