BREAKING NEWS

Berita

Transformasi Sosial Masyarakat Deiyai: Nepotisme & Pembangunan Pedesaan (Perspektif Antropologi)

Oleh Akulian Gobai

Penulis (dok. penulis)


















Praktek nepotisme di pedesaan Kabupaten Deiyai adalah suatu hal kenyataan yang tidak dapat dibantah. Prektek itu terjalin kuat di dalam sistem budaya masyarakat Deiyai sendiri. Tetapi kalua di lihat dari kepentingan pembangunan pedesaan, praktek seperti itu membawa kearah kerugian, terutama kerugian dari kemungkinan kurang berfungsinya sistem pengawasan dari pelakasaan pembagunan pedesaan.

Secara Psikologis, tentu tidak akan mudah bagi kepala desa atau pejabat desa lainya untuk melakukan teguran kepada bawahannya yang berbuat kekeliruan dalam menjalankan roda pemerintah, selama bawahannya itu adalah kekerabatnya sendiri, dan begitu pula sebaliknya. Disinilah letak kelemahanya untuk menerapkan sistem pengawasan pada pemerintah desa yang berlandaskan nepotisme.

Jika ditinjauh dari kepemimpinan masa depan Kabupaten Deiyai, praktek nepotisme itu dapat menjadi penghalang yang serius bagi munculnya manusia Deiyai yang berkuaalitas untuk maju kedepan dalam memperkuat pemerintah pedesaan di lintas Kabupaten Deiyai, yang penuh dengan sumber daya alam. Kualitas yang dimiliki manusia pedesaan Deiyai, seakan tidak ada manfaatnya sama sekali karena terhalang oleh praktek nepotisme tadi, ketika hal itu dilakukan.  Pada hal pembangunan industry, dan ekonomi ASEAN yang dicita-citakan itu adalah suatu era yang membutuhkan manusia yang mempunyai kualitas secara individual, bukan manusia yang memperoleh kedudukan karena diuntung oleh adanya hubungan darah dan kekerabatan.

Kalua saja kenyataan ini tidak disadarai sepenuhnya dan tidak ada upaya untuk membatasi praktek nepotisme itu, saya dapat bayangkan kesulitan yang akan dihadapi oleh masyarakat dalam menyambut industry dan ekonomi ASEAN yang sudah berdiri di 3 pintu gerbang Kabupaten Deiyai. Pintu pertama adalah IYADIMI, pintu kedua UDADIMI dan pintu ketiga adala kAIIDIMI.

Oleh sebab itu, sudah waktunya para pejabat berwenang mulai memikirkan sarana yang dianggap ampuh untuk membatasi terjadinya praktek nepotisme itu. Kalupun dapat mengkikis habis sepenuhnya, praktek nepotisme dikalangan birokrasi pedesaan wilayah Kabupaten Deiyai. Dengan upaya itu, optimalisasi kualitas sumber daya manusia deiyai yang ada di pedesaan dapat dilakukan untuk menunjang pembagunan masyarakat Deiyai yang bersih menyatakan Motto Kabupaten Deiyai (DOU, GAI, EKOWAI).

Di tinjau dari Sosiologi-Antropologi, dapat di cermati bahwa di daerah maju kota besar seperti Jawa Barat Tanah Pasundan, praktek nepotisme di anggap bertentangan besar dengan tuntutan moral manusia.  (Hasil Live In Lian,2016/09/2016 Di Desa Cieceng Distrik Cikatomas Kab.Tasikmalaya.)

Oleh sebab itu, Deiyai yang sedang berupaya keras memacu diri untuk dapat menjadi masyarakt sejahterah seperti masyarakat daerah pasundan tadi, sudah sepatutnya secara berangsur-ansur berusaha mengkikis habis praktek nepotisme birokrasi. Karena hanya dengan itu kita dapat melangkah dengan aman menuju dan menanti Ekonomi ASEAN dan Industry.

Pada masa pemerintahan kini, yang tidak lama akan berakhir, amanat Rakyat Deiyai DPRD tidak banyak menunjukkan hasil dalam rangka untuk mengkikis habis praktis nepotisme yang merupakan rangkaian dari tindakan Korupsi dan Kolusi. Jangankan berkurang, sementara kabar anak-anak negeri dan rakyatnya mencurigai praktek nepotisme itu semakin menjadi pada masa pemerintahan Deiyai kini, bersamaan dengan korupsi.

Pelaksaan otonomi daerah yang berbasis pada tingkat desa dan dana desa 100.000.00, di perkirakan akan semakin tidak mudah untuk mengkikis habis praktek yang menghabiskan itu, terutama karena semakin terbukanya pelbagai kesempatan untuk melakukan praktik tersebut. Hal ini saya melihat dan kenyataan bahwa relasi-relasi sosial yang menyatu dengan relasi sistem kekerabatan yang dapat menjadi ajang praktik nepotisme semakin kuat. Hanya dengan sistem control dan pengawasan yang memadai lalu, dapat mencegah, membagun, melestarika potensinya alam untuk berlangsungnya praktik itu dalam kehidupan masyarakt dan alam Deiyai yang kami cintai.

Aku dan anda memandang beberapa tahun terakhir ini, gelombang kritik terhadap model dan pendekatan pembagunan yang dilakukan dikabupaten Deiyai, semakin deras waktu ke waktu. Upaya pembagunan yang dilalukan selama 3 tahun silam ini, walaupun atas nama kepentingan manusia dan pembagunan daerah, tetapi dalam strategis dan metodologi pelaksanaanya lebih banyak terfokus pada Politik Dan Kepentingan Manusia Itu Sendiri.

Membangun manusia dan daerahnya yang menjadi tujuan utama dari pembagunan itu seolah terlupakan dengan pendekatan seperi hal diatas itu. Perbagai kegiatan kemahasiswaan, dan artikel, opini serta hasil pengamatan para penguasa birokrasi sendiri, menunjukkan bahawa model pembagunan seperti itu telah dan sedang membawa dampak negatif pada kelas soaial Deiyai bahkan kepada alam deiyai, Dampaknya seperti, togel, mabuk, dadu, dan dampak terbesar itu penjualan tanah adat kapada pemodal. Hal-hal demikianlah yang kita rasakan dan saksikan selam 4 tahun ini.  Akibatnya adalah dengan semakin mundurnya kualitas lingkungan hidup manusia seperti danau Tigi, Pembongkaran Tempat Keramt, Penembagan Hutan dan peramoasan hutan lindung.

Tiga Komponen Pembagunan Masyarakat Deiyai Kedepan
Menurut saya, terdapat tiga komponen penting menjadi Rekomendasi, yang harus dan wajib dilibatkan dalam perencanaan dan pembinaan masyarakat pedesaan, oleh pemerintahahan melalui dinas terkait, yaitu:

1. Perencana VS Perencanaan
Perencanaan adalah mereka yang secara teoreti atau intelek yang mengembangkan konsep, strategis dan metodologi, yang diandalkan dalam upaya mencapai tujuan pembinaan masyarakatnya sendiri.

2. Pengubah VS Perubahan
Perubahan ini umumnya adalah petugas yang berusaha menterjemahkan ide dan pikiran pada perencanaan itu kepada masyarakat yang menjadi sasaran pembinaan. Para perubah, ini umumnya adalah  kaaki-tangan perencana, yang berasal dari masyarakat desanya atau diluar masyarakat desa itu yang di jadikan sasaran. Sedangakan masyarakat yang menjadi sasaran pembinaan dalam unsur penerima gagasan.

3. Pemberi VS Penerima Gagasan
Umumnya mereka (masyarakat), menunggu dan seringkali bersifat pasif. Sehingga ketiga unsur ini saling terkait dalam rancangan program, visi-misi yang di rancangkan oleh manusia pecinta Negeri Deiyai.

Demikian Sebuah catatan harian di sela-sela dinamika sejak tahun 2013 hingga tahun 2016, ketika saya mendaki daerah deiyai, dan pada suatu hari saya dan 3 orang kawanku sebagai pecinta negeri deiyai, mengelilingi  dipinggir Danau TIGI PEKU sambil mengamati potensi alam dan lapisan manusia deiyai sebagai ciptaan Tuhan.  Semoga..!


*) Penulis adalah Mahasiswa Anak Negeri Deiyai, Sedang Menekuni Bidang Antropologi di UNIPA Manokwari-Papua Barat
Transformasi Sosial Masyarakat Deiyai: Nepotisme & Pembangunan Pedesaan (Perspektif Antropologi) Reviewed by Majalah Beko on 10.13.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.