BREAKING NEWS

Berita

Anda OAP, Berhentilah Lakukan 5 Hal Ini!

Oleh Neson Elabi
Ilustrasi - Google (ist.)
Papua itu unik dan kaya. Kaya akan suku-bangsa, sosial-budaya, sumber daya alamnya, kaya akan keindahan alam laut dan gunungnya yang tidak ada duanya, sehingga disebut “surga kecil yang jatuh ke bumi” yang patut disyukuri. Namun di balik keindahan dan kekayaannya itu, ada saja ulah-ulah yang merusak dan mengancam kelestarian alam dan budaya  Papua, terutama tindakan-tindakan dari Orang Asli Papua (OAP). Berikut  adalah tindakan-tindakan OAP yang mengancam alam dan budaya Papua, yang penulis uraikan:

1. Akankah Anak Cucu akan Melihat Cenderawasih di Bumi Papua?

Ilustrasi - DestinAsian
Papua adalah salah  satu pulau yang unik dan kaya, karena satu-satunya  pulau yang memiliki dua “surga kecil” di bumi. Apa kedua surga  yang dimiliki oleh Papua itu?

Surga kecil  yang pertama adalah Papua  disebut surga kecil yang jatuh ke bumi karena keindahan dan kekayaan alamnya  yang melimpah.  Surga kecil kedua yang ada di pulau paling Timur Indonesia ini adalah karena memiliki Burung Surga (Cenderawasih), sehingga Papua memiliki dua surga kecil di bumi. Namun sayangnya, surga kecil yang kedua menuju ambang kepunahan karena maraknya perdagangan dan perburuan liar  burung Cenderawasih.

Data WWF Papua yang dilansir melalui laman compas.com  menyebutkan,  pada tahun 1900-1930an, penjualan Cenderawasih mencapai 10.000-30.000 ekor per tahun. Sedangkan, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua  pada maret 2012 menyebutkan, dalam satu lokasi konservasi ditemukan antara 2-3 ekor burung Cenderawasih per kilometer persegi, yang menurun dari tahun 2000-2015 ditemukan 10-15 ekor setiap kilometer persegi. Hingga saat ini, jumlah burung Cenderawasih semakin menurun karena maraknya perdagangan dan perburuan liar.

Akankah anak cucu akan melihat langsung bagaimana rupa indahnya yang menawan? Akankah anak cucu akan melihat tarian Cenderawasih jantan menarik perhatian wanita secara langsung? Ataukah anak cucu akan melihat dalam cerita dan  kisah-kisah yang akan kita tinggalkan nanti?

Maka, bagi OAP yang memperdagangkan burung surga, berhentilah berburu dan menjual-belikan Cenderawasih. Biarkan dia hidup di alamnya sendiri.

2. Jangan Mewariskan Air Mata, tapi Mata Air Kepada Anak Cucu

Ilustrasi - Google (ist.)
“Tanah Papua, hutan Papua, dan alam Papua  diberikan oleh Tuhan kepada orang  Papua, kepada orang-orang yang berambut keriting dan berkulit  hitam, supaya mereka hidup di atas tanah mereka, memanfaatkan hutan mereka  dan mewariskannya kepada anak cucu  mereka.

Namun, kini untaian kata di atas hampir menjadi sebuah rangkaian kata saja. Banyak tanah dan hutan di Papua kini dijual hanya untuk kepuasan sesaat. Sebagian besar hutan dan tanah di Papua perlahan-lahan bergeser kepemilikannya. Dulu milik kita, sekarang menjadi milik mereka dan mungkin nanti, kita akan  membelinya dari mereka yang dulunya pernah milik kita, karena kegiatan menjual tanah di Papua marak terjadi. Maka, OAP berhentilah menjual tanah dan hutan, karena hutan dan tanah bukan hanya milik kita, tapi milik anak-cucu  yang akan datang. Jangan sampai kita wariskan air mata kepada anak cucu. 

3. Jangan Terus Bermimpi Menjadi PNS, Belajarlah Sedikit Berwirausaha

Ilustrasi - Google (ist.)
Sebagian besar OAP kini bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan sebagian besar pula anak-anak Papua yang  sudah lulus kuliah kini meganggur karena hanya  menunggu pembukaan pendaftaran Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dari pemerintah. Padahal, suatu bangsa atau negara dikatakan maju apabila minimal  2% dari total jumlah penduduknya berprofesi sebagai wirausaha. Andaikan  jumlah penduduk asli Papua kini 2 juta jiwa, maka dibutuhkan minimal 40 ribu wirausahawan Papua atau  setara 1000 Wirausaha setiap kabupaten, jika dibagi rata.

Maka, bagi anak asli Papua yang masih studi, berhentilah terus  bermimpi menjadi PNS. Belajarlah sedikit menjadi wirausaha, karena jika semakin  banyak  OAP bergelut di bidang kewirausahaan, semakin besar pula peluang OAP mengelolah SDA Papua.

4. Belajarlah dari Burung Bangau, Setinggi-tinggi Dia Terbang, Hinggapnya Pasti di Kekubangan

“Setinggi-tingginya bangau terbang, hinggapnya pasti di kekubangan”

Mungkin pepatah di atas secara tidak langsung menasehatkan  kepada OAP, khususnya yang merantau atau menuntut ilmu di luar Papua bahwa ke manapun merantau, harus pulang ke kampung halaman, karena tidak sedikit juga OAP yang merantau dan kemudian tidak pernah pulang.  

5. OAP Jangan Melupakan Nasehat Ayah Pertama, Walaupun Kini Bersama Ayah Kedua

Ottow - Geissler "Dengan Nama Tuhan, Kami Injak Tanah Ini" - Ist.
Papua itu bagaikan anak tunggal dari dua ayah yang berbeda. Ayah pertama Papua  itu orangnya tinggi dan besar. Dia menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam perjalanan untuk menyelamatkan anaknya yang menuju  maut. Dia pertama kali menginjakkan kaki di sebuah pulau kecil yang bernama Mansinam di Manokwari  pada 5 Februari 1855 dengan mengucapkan doa sulung “Dengan Nama Tuhan, Kami Menginjak Tanah Ini”. Itulah doa dari sang ayah pertama ketika bertemu dengan anaknya.

Setelah berjalan beberapa tahun, sang ayah kedua datang dengan alih-alih dan mengaku, Papua adalah anak bungsunya dan mengusir sang ayah pertama. Ketika itu, Papua yang masih kecil dan terpaksa diadopsi oleh sang ayah kedua secara terpaksa hingga saat ini. Papua dibesarkan dalam rumah tangga yang penuh kekerasan oleh ayah kedua. Namun, kini sang anak mulai sadar, bahwa dia mempunyai ayah pertama, dan mulai teringat nasehat ayah pertama.

Bagi OAP, berhentilah melupakan nasehat ayah pertama, karena  nasehat ayah pertama itu adalah Injil yang hidup. Maka, kini OAP bisa memimpin dirinya sendiri, jika berdiri di atas Injil.

Itulah 5 hal yang penulis uraikan dan harus dihentikan OAP. Semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca sekalian. JJ

*) Penulis adalah Mahasiswa Papua di Malang
Anda OAP, Berhentilah Lakukan 5 Hal Ini! Reviewed by Majalah Beko on 12.49.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.