Breaking News

Berita

Janji adalah Utang

Oleh Yepuni Giyai
Penulis - Dokumen penulis
Kata janji adalah ucapan yang menyatakan kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat, seperti hendak memberi, menolong, datang, bertemu banyak. Tetapi, seringkali, tidak satu pun janji yang ditepati sepanjang kehidupan di masa yang sedang dijalani, masa yang sudah dilalui, dan masa yang akan datang.

Kata janji merupakan suatu perkataan ketidakpastian, tidak ada jawaban baik terhadap mereka yang sudah lama berjanji untuk mewujudkan pembicaraannya dan orang-orang yang sudah berjanji sebelumnya. Kalau sudah janji, berarti seharusnya ditepati waktu.

Utang ada karena janji. Tidak mungkin tanpa janji utang itu ada. Tetapi, utang merupakan kata lain dari belum pasti. Dengan kata lain, utang ada ketika janji tidak ditepati dari sebelumnya.  

Persetujuan antara dua pihak (masing-masing) menyatakan, saya akan serahkan semua harta dan kekayaan kepadamu agar kamu dapat menerima dan menggenapkan kata perjanjian.

Pada kesediaan dan kesanggupan untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu, janji jangan diingkar, karena perjanjian telah mendasari selamanya kepada kita.

Ada syarat pada ketentuan yang harus dipenuhi. “Rumah ini diserahkan kepada adiknya, tanpa apa-apa supaya dia tinggal di dalamnya dengan aman, dengan perjanjian yang dinyatakan kepada dia, untuk menerima dia sebagai bagian yang mau diberikan,  kerena saya yang membangun dan saya melihat juga untuk dia tinggal dengan senang dalam rumah itu.”
         
Kata menuntut adalah kewajiban. Saya wajib untuk meminta kepada dia, karana sebelumnya sudah ada perjanjian antara saya dan dia atau pihak lain. Hal ini biasa dilakukan untuk mencukupi kekurangan dan memuaskan diri si penuntut agar permintaan sebelumnya digenapi.

Meminta dengan keras berakibat fatal. Hati-hati dalam melakukan permintaan karas. Contohnya dalam keluarga: setengah saja dilengkapkan supaya dipenuhi pihak penuntut sebagai kepala keluarga yang bertanggung jawab di dalamnya demi keselamatan anak-istrinya dalam menagih utang. Itu haruslah demikian, karena suami adalah pemimpin dalam keluarga. Dia yang mengatur di dalamnya.

Baik maupun tidak baik, semua kekurangan harus ditanggung suami. Dia harus rela berkorban demi keluarga. Kalau kebutuhan tidak mencukupi dalam keluarga, biasanya isteri menuntut, pasti ada keributan, karena sebelumnya, suami tidak memenuhi kebutuhan dalam keluarga.

“Agar keluarga hidup dengan baik tanpa keributan, suami harus bertanggung jawab. Itu harus, ya dan tidak sebagai kepala keluarga”

Kasus lain: utang yang telah lampau digugat untuk dijadikan perkara dalam pengaduan ke pengadilan. Pihak yang dirugikan atau tertipu berusaha keras untuk mendapat hak atas warisan orang tuanya. Segala sesuatu akan dilakukan, usaha, berdaya juang, karena janji adalah utang. 

Minta adalah perkataan agar diberikan atau mendapat sesuatu. Contohnya, seorang anak merengek-rengek dibelikan mainan demi kepuasan diri si anak. Anak akan meminta bapa atau mama untuk (tanggung jawab) memenuhi permintaannya karena sudah terikat dalam keluarga.

Selain keluarga (dalam rumah tangga), hal ini biasanya terjadi di lingkungan sekitar (tetangga). Semua karena ada ikatan, mengenal satu sama lain, sebelum meminta sesuatu kepada orang lain.

Ada kasus lain. Para pemikat mengisi daftar kenal guna meminang atau melamar seorang gadis. Sudah banyak pemuda yang melakukan hal itu, tetapi tetap saja ditolak si gadis. Dia hanya membutuhkan lelaki idamannya.

“Kata janji membawa ke maut, karena janji yang tidak pasti”

Selain itu, di sebuah daerah dilanda tanah longsor. Bencana alam ini banyak memakan korban jiwa. Ketika saya di situ, apa yang akan saya lakukan? Saya harus membantu atau tidak? Muncul pertimbangan; saya harus membantu mereka, karena mereka juga pernah membantu saya pada saat saya kekurangan. Atau masa bodoh. Saling membantu satu sama lain itu harus. Saling mengasihi antara saya dengan dia, karena kita memiliki perasaan sama.

Janji harus ditepati, walau badai datang menghapus janji. Ketika badai tiba, penepati janji sejati akan melawan badai. Setelah berjuang melawan badai, perahu akan tiba di pantai seberang dengan selamat.

“Kalau tuan sudah janji,  tidak boleh lagi ada kata terlambat membalikan kepadanya. Dia menunggu setiap hari”

Menyambut, mengambil, mendapat, menampung sesuatu yang diberikan, dikirimkan, mengesahkan, membenarkan, menyetujui (usul, anjuran), meluluskan atau mengabulkan permintaan”

Memang, ternyata benar-benar terjadi di dalam keluarga maupun di luar keluarga, perjanjian memang banyak.

Saya merantau di tanah asing. Selama saya berpendidikan, banyak janji. Tidak tahu saya sudah berjanji atau tidak. Kenapa kalau sudah janji harus dikembalikan? Karena di balik janji, ada utang yang menuntut janji.

*) Penulis adalah mahasiswa, sedang studi di Unipa, Jurusan Teknik Komputer
Janji adalah Utang Reviewed by Majalah Beko on 14.01.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.