BREAKING NEWS

Berita

Kami Bisa Hidup Tanpa Sawit, Tapi Kami Tak Bisa Hidup Tanpa Dusun Sagu

Oleh Wilzson Mobalen
Penulis - Dok. penulis
Hutan dirusak, sagu dihancurkan demi penanaman seribu hektar kelapa sawit. Hati teriris, sedih, dan marah ketika melihat hal itu telah, sedang, dan akan terjadi.

Suku Moi di wilayah kepala burung (Sorong), sangat dekat dengan dusun sagu mereka. Mengapa dikatakan demikian? Dasarnya adalah filosofi mereka; Hutan dan dusun sagu adalah ibu bagi mereka.

Dusun sagu memberikan semua yang suku Moi butuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Satu pohon sagu, ketika diolah dapat memberi tepung sagu yang akan mencukupi kehidupan sehari-hari bagi suku Moi.

Pohon sagu juga dapat menghasilkan makanan berupa; ulat sagu yang kaya akan protein dan ujing sagunya dapat dimakan, sangat bergizi.  Apabila sudah membusuk, akan ditumbuhi jamur sagu yang kaya akan vitamin dan bebas dari zat kimia.

Selain itu, ketika sudah membusuk dan kering akan menjadi pupuk kompos dan memiliki buah yang bisa dikonsumsi. Daun sagu juga sangat berguna. Ketika dijahit, daun sagu digunakan sebagai atap rumah dan bisa dijual sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat suku Moi.

Pelepah sagu digunakan sebagai tempat pengolahan sagu dan apabila kering, dijadikan sebagai alat untuk palu air atau menguras air.

Juga, kulit sagu atau gagar sagu sangat berguna sekali. Gagar sagu dapat digunakan sebagai alas lantai rumah dan dapat dijadikan sebagai karya seni lain.

Pohon sagu sangat multifungsi bagi suku Moi.  Suku Moi akan melindungi hutan dusun sagu dan budaya agar tetap ada dan menghijau dalam proses hidup.

Masyarakat Tanam Sagu, Tanah Tetap Basah

Ketika masyarakat adat suku Moi menanam sagu, tanah tetap basah dan terhindar dari kebakaran, karna masyarakat melakukan (kegiatan) proses penanaman sagu tidak menggunakan sistem monokultur. Penanaman ini menggunakan metode-metode sederhana yang sangat ramah lingkungan.

Berikut metode-metode tesebut: tidak menebang semua tumbuhan yang berada di lahan yang akan ditanami sagu, tidak meratakan lahan yang akan ditanami sagu, tidak menutup dan menghambat saluran air yang mengalir di lahan yang akan ditanami sagu, membiarkan tanaman lain tumbuh dengan bebas bersama dengan tanaman sagu yang ditanam, tidak merusak ekosistem yang ada di lahan tempat masyarakat menanam sagu, tidak menggunakan zat kimia, dan bebas dari pencemaran lingkungan.

Perusahaan Tanam Sagu Beroperasi: Tanah Kering dan Mudah Terbakar

Dampak yang nyata penanaman oleh perusahaan adalah tanah menjadi kering, ekosistem tergangu, dan mudah mengalami kebakaran. Sistem yang digunakan perusahaan dalam membuka lahan dengan sistem monokultur. Hal-hal demikian diuraikan pada kalimat berikut.

Penerapan sistem ini, yakni: hutan ditebang hingga gundul, tanah diratakan, tanah kering dan sangat berpengaruh kepada keseimbangan ekosistem, pelepasan karbon yang sangat banyak dari hutan dan tanah tanpa memperhatikan dampaknya, lebih cenderung (mudah) terjadi kebakaran hutan dan dusun sagu, menggunakan zat kimia sebagai perangsang pertumbuhan, lingkungan tercemari dan cenderung berdampak pada keseimbangan ekosistem dan manusia yang mendiami wilayah suku Moi, ujungnya menghabiskan hutan, flora dan fauna, serta mengurangi sumber-sumber mata air.

Pemerintah Daerah Sorong Raya harus memahami filosofi dasar suku  Moi: Dusun dan hutan  merupakan mama bagi kehidupan mereka.

Suara hati mengungkap; “Hai kaum penguasa, sadarlah terhadap manusia lain. Hargai dan hormatilah tatanan hidup suku Moi yang bergantung kepada dusun dan hutan mereka. Hanya satu kata yang terucap, jaga dan lawan mereka yang ingin merusak dusun dan hutan masyarakat adat suku Moi. Semoga!

*) Penulis adalah Anak Jalanan Sorong
Kami Bisa Hidup Tanpa Sawit, Tapi Kami Tak Bisa Hidup Tanpa Dusun Sagu Reviewed by Majalah Beko on 18.44.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.