BREAKING NEWS

Berita

KNPB dan AMPTPI Konsulat Gorontalo Tolak “Seminar dan Konser Solidaritas untuk Papua”

Pertemuan antara aktivis KNPB dan AMPTPI (kanan) dengan PMII Kota Gorontalo (kiri) dalam menolak Kegiatan Seminar dan Konser Solidaritas untuk Papua - LY/Beko
GORONTALO, MAJALAH BEKO - - Komite Nasional Papua Barat (KNPB) dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Indonesia (AMPTPI) Konsulat Wilayah Gorontalo menolak “Kegiatan Seminar dan Konser Solidaritas untuk Papua” pada Hari Sumpah Pemuda oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Gorontalo.

Penolakan tersebut disampaikan langsung oleh beberapa aktivis KNPB dan AMPTPI kepada panitia pelaksana (panpel) seminar dan konser pada Selasa (25/10) pukul 16.00 WITA.

Sebelum penolakan disampaikan, panpel meminta aktivis KNPB dan AMPTPI membuat surat pernyataan sikap. Pernyataan sikap ini dibuat agar semua mahasiswa/i Papua harus turut serta dalam kegiatan tersebut. Tetapi, aktivis KNPB dan AMPTPI menolak tegas dengan membeberkan sejumlah alasan.

Alasan Penolakan

Pertama, pembentukan kegiatan tersebut tidak transparan dan tidak sinkron dengan tugas pokok PMII.

“Kegiatan tersebut untuk Papua, namun mahasiswa Papua belum pernah ketahui kalau PMII sudah membentuk panitia tentang kegiatan tersebut. Temanya solidaritas untuk Papua, tapi kegiatan inti yang diangkat di dalamnya adalah masalah Pasifik. Ini aneh,” beber Lukas Yobee, Juru Bicara (Jubir) KNPB Konsulat Gorontalo.

Kedua, seminar dan konser ini digelar tepat pada hari Sumpah Pemuda.

“Tanggal 28 Oktober adalah hari Sumpah Pemuda bagi Negara Indonesia, dan pada hari dan tanggal itu juga, Provinsi Gorontalo menggelar seminar dan konser untuk solidaritas Papua. Kalau dibilang solidaritas dan konser untuk Papua, berarti berbicara mengenai kebersamaan dan di dalamnya ada nilai-nilai khusus, dan sesuatu yang mendukung serta mengangkat untuk kami Bangsa Papua. Jika kami melihat kembali bersama tema yang teman-teman mengangkat di sini, nah, pertanyaannya adalah topik permasalahan apa yang nantinya teman-teman panitia akan angkat untuk kami Bangsa Papua pada tanggal 28 tersebut,” ujar Sony, aktivis AMPTPI Gorontalo.

Selain itu, tambah Sony, logo Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua dipakai sepihak dalam spanduk kegiatan.

“Logo Pemerintah Provinsi Papua ini pun panitia mengambil tanpa seijin kami dan tanpa seijin Pemerintah Papua. Ini sama halnya dengan panitia mencuri. Ada UU menjamin ini, akan tetapi panitia melakukan atas kepentingan negara, maka kami diamkan saja, sebab kami tahu pasti negara akan memihak panitia,” kata Sony.

Setelah membeberkan alasan penolakan, panpel tidak memberikan tanggapan pasti kepada Sony, dkk, selain kata “Iya”.

Kegiatan PMII: Bahan Pro Indonesia

Berdasarkan tanggapan dan pembicaraan panpel, KNPB dan AMPTPI Konsulat Gorontalo menduga, kegiatan PMII tersebut bermaksud mendokumentasikan kehadiran orang Papua sebagai bahan pro Indonesia di mata internasional.

“Temanya lain dan topik yang mereka (panpel, red) angkat di dalam kegiatan tersebut lain juga, yaitu tentang Pasifik pada umumnya. Tujuan utama mereka adalah hanya untuk mau mengambil dokumentasi saat kegiatan berlangsung dengan mahasiswa/i Papua yang kuliah di kota studi Gorontalo, agar dengan dokumentasi tersebut mereka mau membenarkan diri mereka sendiri dan mau memposisikan mereka di posisi yang benar di mata internasional dan yang berikutnya adalah untuk mau menjelekan nama baik kami punya tuan-tuan yang selama ini berjuang di tingkat internasional dengan menunjukan dokumentasi tersebut,” ujar Lukas.

Lukas menilai, kegiatan ini sebagai trik Indonesia yang kehilangan akal sehat.

“Berikutnya karena Indonesia sudah kehilangan akal dan ingatan serta logika mereka dengan adanya Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ke-71 di New York pada tanggal 20 sampai 29 September kemarin, yang mana dari tujuh Negara Bagian Pasifik mengangkat isu tentang masalah Papua di sidang tersebut,” tambah Lukas.

Tidak menutup kemungkinan, tutup Lukas, kegiatan ini juga berupaya meng-Islam-kan seluruh Indonesia, termasuk Pancasila.

Berdasarkan kesepakatan bersama, semua aktivis dan mahasiswa-mahasiswi Papua yang kuliah di kota studi Gorontalo memutuskan untuk tidak mengikuti kegiatan PMII tersebut, karena menurut mereka, orang Papua tidak pernah berjuang untuk Indonesia merdeka, apalagi merumuskan Sumpah Pemuda.

Undangan Kegiatan Seminar dan Konser Solidaritas untuk Papua - Panpel
Dituliskan panpel dalam undangan, seminar dan konser PMII dilaksanakan pada Jumat, 28 Oktober 2016 pukul 14.00 WITA sampai selesai di Auditorium Universitas Negeri Gorontalo. Seminar tersebut bertema “Politik Pemuda Indonesia: Menimbang Politik Kebangsaan dan Situasi Masyarakat Pasifik Indonesia”, sedangkan konser PMII bertema “Persaudaraan, Solidaritas, Kemanusiaan: Suara Damai untuk Papua Damai”.

(AP)
KNPB dan AMPTPI Konsulat Gorontalo Tolak “Seminar dan Konser Solidaritas untuk Papua” Reviewed by Majalah Beko on 15.49.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.