Breaking News

Berita

Mama Memelihara Anak Melalui Doa dan Kerja

Oleh Yepuni Giyai
Ilustrasi - Yunan Pekei.

















 “Ketika mama melahirkan anaknya dengan ‘menderita-mati’… Ketika saya di dalam kandungan mama, saya tidak tahu apa-apa.”

Ketika Anak Hidup dengan Mama

Setiap orang punya bakat dalam kehidupannya. Talenta (masing-masing) sudah Tuhan kepada kita. Tuhan siapkan itu kepada saya dan setiap orang di muka bumi.

Ketika anak dilahirkan, ada dengan ‘tanda-tanda khusus’ orang tua (mama) kepada anaknya, yang Tuhan sudah tentukan kepada kita.

Setelah mama melahirkan, kita dibesarkan melalui berdoa dan bekerja.

Dengan keras, mama mencari makanan. Keluar pagi dan masuk masuk malam setiap hari, itu soal biasa bagi kaum perempuan Papua sejati. Mama Papua terus melakukan ini hingga anak besar.

Setelah menjadi besar, anak yang membantu mamanya, mulai dari kerja, dan hidup keluar-masuk pun dengan mama. Hal ini jarang terjadi bagi anak-anak zaman sekarang.

Selain bisa melakukan aktivitas setiap hari, mama mengajak anaknya berdoa dan bekerja. Sehingga, hal ini menjadi kebiasaan anak untuk melakukan hal apa saja, karena anak dibina dari kecil.

Mama juga mengajar dan membina anaknya dari rumah, selain mendorong anaknya untuk masuk sekolah. Lebih lagi ketika di Sekolah Dasar (SD), sosok mama itu mengantar-jemput anaknya tiap hari. Itu dilakukan mama demi masa depan anaknya saja. Keuntungan bagi anak, sebenarnya.  

Kebanyakan terjadi; mama membiayai anaknya mulai dari SD sampai perguruan tinggi (selesai).

Ketika Anak Hidup di Tanah Orang

“Ketika anak keluar merantau di tanah orang untuk melanjutkan pendidikan… di tempat jauh dari kampung halaman…”

Selama pendidikan, anak mengalami manis dan pahit kehidupan yang dia jalani. Banyak, apalagi ketika teman anak tersebut selesai (wisuda)… Banyak cobaan datang untuk menjatuhkan proses pendidikannya. Dia lalui dengan sabar hati. Dia tetap sabar menghabiskan sisa perkuliahannya.

Mengapa seorang anak punya prinsip untuk harus selesai kuliah atau wisuda? Menurut saya, karena mama membiayai anaknya sangat besar. Ini menjadi teka-teki yang harus dipecahkan anak mengingat “waktu hidup bersama mama”.

Mama itu luar biasa. Ketika mama makan, dia selalu ingat anaknya sampai air mata jatuh, sehingga membuat mama tidak makan. Mama pikir, anak saya bagaimana, dia makan ka tidak.

…. Tapi, ketika kita utamakan Tuhan, semuanya akan baik. Kalau kita tidak utama Tuhan dalam segala hal, maka semuanya akan sia-sia dalam perjalanan.

Setelah Anak Selesai Pendidikan

Bagi sebagian anak, rasa sayang kepada mama itu pasti ada. Ini adalah kerinduan besar mereka sejak berpendidikan di tanah orang.

“Saya selesai dari perguruan tinggi ini, saya buat apa kepada mama?”

Ketika anak pulang ke kampung halaman, orang tuanya pasti terlihat sudah ‘menurun’, beda saat dahulu.  

Anak yang baik akan mulai melihat kembali kedua orang tua, khususnya mama yang sudah berkorban banyak demi dirinya. Mungkin juga hal ini dilakukan karena rindu keluarga.

“Apakah saya bisa melakukan hal-hal baik kepada kedua orang tua, demi membalas semua air mata mereka?”

Anak yang patuh akan berpikir, mengapa kedua orang tua ini sudah tua? Saya harus membalas kebaikan mereka terhadap saya, apalagi saya sudah mengalami semua ‘kepahitan’ selama bersekolah.

“Dia punya hasilnya juga akan kita tuai masing-masing pada waktunya.”


*) Penulis adalah mahasiswa di Unipa
Mama Memelihara Anak Melalui Doa dan Kerja Reviewed by Majalah Beko on 01.45.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.