BREAKING NEWS

Berita

Teman Jadi Musuh, Musuh Jadi Teman

Oleh Freed Auwati Maday
Penulis - Dokumen penulis
“Saya membuat tulisan ini karena ada teman saya pernah telepon saya. Sebagian kata saya petik dari hasil diskusi dengannya,  Paulus Auwe yang kuliah di Kota Manado. Topik diskusi sama dengan judul tulisan ini.”

Kadangkala, kita (manusia) berfikir secara emosional dan tidak pernah menerima musuh secara baik hati, baik itu dalam hal apa saja. Tetapi, kita belum sadar dan paham secara manusiawi untuk menerima musuh dengan baik, serta ada banyak cara yang harus kita gunakan untuk menghilangkan kebencian atau musuh terhadap teman atau sahabat kita; untuk kewibawaan dan kharismatik, supaya tidak ada permusuhan di masa depan dan digantikan dengan ikatan tali persaudaraan, terutama seperjuangan ataupun sekeluarganya sendiri atau sahabat, baik itu dalam organisasi, perkuliahan maupun dalam ikatan.

“Teman baik atau sahabat baik dapat berubah menjadi musuh terburuk kita.“ Pepatah ini sangat benar. Pada beberapa titik dalam hidup, kita pasti merasa dikhianati atau dimusuhi oleh orang-orang dalam kehidupan kita, baik itu dalam kehidupan sehari-hari bersama teman kuliah, maupun teman atau sahabat dalam keluarga (sekampung).

Kadangkala, teman kuliah atau keluarga kita jadi musuh karena dipengaruhi oleh orang-orang sekitar kita. Hal ini juga dipengaruhi akibat perkembangan kuliah, pergaulan dalam berorganisasi, pergaulan dalam kuliah antara satu sama lain, maupun pergaulan dalam kekeluargaan yang baik atau maju pesat. Musuh mencari jalan keluar untuk menghancurkan ikatan, organisasi, pergaulan, maupun tali persaudaraan antara satu sama yang lain hingga permusuhan itu terjadi. Contoh besar yang pernah terjadi di berbagai organisasi-organisasi  perjuangan Papua Merdeka, baik itu dalam Aliasi Mahasiswa Papua (AMP), Komite Nasional Papua Merdeka (KNPB), maupun Organisasi Papua Merdeka (yang biasa disebut OPM) ataupun dalam organisasi lain.

Hasil permusuhan atau pengkhianatan ini terasa sakit, mengganggu, frustrasi, marah dan kadang-kadang (bahkan) ingin sekali membalas dendam kepada orang-orang yang menjual nama baik kita, maupun dalam nama baik organisasi. Ini adalah perasaan yang persis dialami semua orang.

Di lain waktu, kita telah terbiasa diperlakukan baik oleh teman terbaik kita. Tiba-tiba, di suatu titik, mereka memperlakukan kita menjadi buruk. Kita (mungkin) tidak pernah menyangka hal seperti itu terjadi dan benar-benar sulit untuk menerimanya. Teman terbaik kita dapat mengkhianati kita melalui banyak cara. Bahkan, kita dapat melakukan hal yang sama, baik itu sengaja maupun tidak sengaja. Sebenarnya, ini adalah hal paling umum yang cenderung dilakukan oleh orang-orang pembalas dendam. Balas dendam mungkin manis pada awalnya, tetapi seiring dengan berjalannya waktu semakin menyakitkan kita. Orang yang melakukan balas dendam menumpahkan rasa sakitnya kepada pihak yang menyakiti atau bermusuhan dengan kita, tetapi orang yang membalas dendam juga harus mempersiapkan diri menerima pembalasan dendam yang akan dibalas pihak musuh. Akibatnya, kedua pihak akan terus-menerus ditutupi perasaan dendam, sehingga masalah pun tidak akan selesai secara aman, baik, dan benar.

Saya pernah dapat telepon dari saudara saya (Paulus Auwe, seorang mahasiswa Papua yang kuliah di kota studi Manado). Ia sempat berkata, bahwa untuk menerima teman yang sudah menjadi musuh atau lawan teman yang jadi musuh dalam kehidupan kita, baik itu dalam perkuliahan maupun dalam kekeluargaan, kita harus memakai banyak cara untuk menerima mereka dengan baik, yaitu sebagai berikut: Pertama, menerima musuh seperti menerima tamu undangan. Kedua, mendekatilah dengan orang tersebut dan bertanya apa yang saya harus bantu; tanyalah orang tersebut, apakah dirinya mengalami kesulitan dalam perkuliahan atau dalam melengkapi hal lain (hal ini harus dilakukan walaupun teman jadi lawan, agar akrab seperti semula). Ketiga, salam, salam, dan salam kepada orang tersebut agar ada rasa malunya terhadap kita, karena perlahan-lahan dia akan mendekati kita, dengan sendirinya dia akan sadar. Keempat, mengajak dia untuk ngobrol, ngopi, memberi apa yang dia butuhkan, dan lain sebagainya.

Apa yang harus kita lakukan dalam keadaan seperti ini?  Bagaimana kita keluar dari ‘lubang kelinci’ ini? Kebodohan adalah berkah. Ini mungkin klise, tetapi bekerja selalu dalam situasi sulit. Jika teman baik kita merencanakan balas dendam pada kita, itu bukan berarti bahwa kita harus merencanakan aksi balas dendam kembali pada mereka. Kita hanya dapat mengabaikan mereka.

Memang, hal ini tidak akan mudah. Tetapi, pasti akan menjadi hal berharga. Seiring waktu, mereka hanya akan terus-menerus merasa muak dan berhenti menjahati ataupun memusihi kita. Persahabatan kita sudah berlangsung lama, jangan merusaknya lebih dengan menanam segala cara kebencian atau permusuhan  untuk membuat satu sama lain hidup sengsara. Hanya memaafkan saja mereka dan biarkan semuanya pergi. Siapa tahu (mungkin besok) persahabatan kita mungkin terjalin lagi, bahkan lebih akrab dibandingkan sebelumnya. Bukankah sebuah masalah kadang diperlukan pada hidup kita? Masalah ada supaya kita (lebih) bisa mengoreksi diri kita dan memperbaiki apa yang salah pada diri kita, dan juga kepada permusuhan tersebut.

Ingatan masa-masa indah yang sudah pernah dilalui bersama sahabat kita akan sangat efektif untuk menjahui rasa benci dan rasa dendam setelah dikhianati sahabat kita. Hal ini lebih baik daripada terus-menerus mengumpat melampiaskan rasa kesal dan memikirkan segala cara rencana balas dendam. Maafkanlah mereka, musuh-musuhmu. Lakukanlah dengan ikhlas karena mereka atau musuh adalah orang baik yang dulu pernah berjasa buat kita dalam kehidupan kita. Rasa benci di dalam hati kita akan berangur menghilang; kita harus bisa mengikhlaskan semua peristiwa yang terjadi antara kita dan sahabat atau teman kita.
Teman Jadi Musuh, Musuh Jadi Teman Reviewed by Majalah Beko on 02.24.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.