BREAKING NEWS

Berita

Tra Baku Tau

Oleh Aten Pekei
Ilustrasi - Dokumen Penulis
Suatu sore di sebuah tempat yang tak jauh dari kota. Ada seorang perempuan duduk termenung (sepi). Sekitar beberapa meter darinya, aku sedang menikmati segelas ‘darah setan’ dan sebatang rokok. Awalnya, “tra baku tau”.

Banyak orang; lelaki dan perempuan, tua dan muda menghabiskan malam mereka di tempat yang sama. Ada yang memulai kisah cinta. Ada juga yang mengakhiri kisah cinta. Ada yang ‘gabung jurus’. Ada juga yang ‘lepas jurus’. Ada yang ‘mau-mau tidak suka’. Ada juga yang ‘suka-suka tidak mau’.

Untuk aku dan dia, beda. Aku melihat semuanya ketika itu. Tanpa sadar, lihatanku berubah lirikan. Mataku lama tak berkedip. Aku rasa ada sesuatu yang tersembunyi di balik kesepiannya. Ya, dia. Perempuan yang telah mengubah duniaku ketika itu.

Aku mulai penasaran dan memberanikan diri. Perlahan, aku mendekatinya sambil memegang kedua teman sepiku itu. Sekitar semeter darinya, aku terkejut dan menghela napas. Aku terduduk tepat di sampingnya. Ternyata, dialah orang yang pernah meninggalkanku dengan satu, dua, tiga alasan.

“Selamat malam. Baa… Kenapa ko duduk sendirian? Tra takutkah? Trus ipar?” sapaku mencoba hilangkan menungnya.

Perempuan itu memandangku sejenak dan tunjukkan senyum kakunya.

“Bee… Malam. Baru, ko sendiri? Kenapa malam begini masih bajalan?”
“Sa cuma mo cuci mata, nikmati udara malam di sini.”
“Oh… bagus sudah kalo begitu.”

Serta-merta, senyum ‘asam’nya mengakhiri pembicaraan. Aku mulai gugup. Tanpa pamit, ku tinggalkan perempuan itu dan kembali ke tempat awal ku duduk. Aku tidak tahu, perempuan itu melirikku. Seakan lirikannya ingin mengungkapkan, dia butuh perlindungan.

Hari semakin malam. Orang-orang masih menunggu pagi. ‘Darah setan’ menyisakan bau. Rokok pun menyisakan tahi. Segera, aku menghampiri warung ‘darah setan’. Aku mengganti ‘darah setan’ baru. Rokok baru juga ku beli di toko samping warung “Cinta Buta”.

Ketika kembali lagi ke tempat semula, ku melihat, perempuan itu telah pergi. Aku pun duduk. Setelah menghabiskan ‘putaran kedua’, aku bergegas pulang ke rumah.

Beberapa waktu kemudian… handphone-ku bergetar. Sebuah pesan masuk. Ku lihat, ternyata pesan singkat dari nomor baru.

“Selamat malam… Selamat eee…”
“Selamat malam juga. Maaf. Ini dengan siapa?”

Balasanku tak dibalas pemilik nomor baru. Ini sempat membuat hati bertanya-tanya. Namun, aku masa bodoh.

Esok hari, handphone-ku bergetar lagi. Nomor yang sama dengan pesan yang sama. Balasanku tetap sama. Pemilik nomor mulai buka diri.

“Selamat apa?”
“Su lupa sa eee? Kemarin-kemarin tong pernah ketemu baru?”
“Di mana? Yang mana eee?”
“Jii, yang malam-malam itu.”
“Oh… Benar. Ko yang itu tu.”
“Iyo. Apa kabar? Sudah makan, lum?”
“Sa baik. Trada. Ko sendiri apa kabar?”
“Amin. Sa juga baik. Selamat ko sudah pake toga.”
“Tra juga, tapi terima kasih.”

Pesan diakhirinya. Lalu, dia menelponku. Kali ini, perempuan itu berkata jujur. Tanpa memikirkan perasaanku, dia ungkapkan semua yang terjadi dengan lelaki itu.

“…. Sa dikhianati.”
“Iyo eee…”
“Sa bingung. Sa harus bagaimana?”

Sebelum curhat, aku lebih dulu tahu semua yang telah terjadi. Aku mencoba melupakan sakit hati yang diberikannya. Ku sampaikan kepadanya, doa itu dasar (walau “sa tra biasa berdoa”).

“Ko coba begini…”
“Iyo sudah… Terima kasih.”

Percakapan berakhir. Aku tidak tahu. Dia sudah mencoba masukanku atau belum. Atau, dia memang sengaja.

Walau begitu, aku mencoba gantikan duka dengan suka di hatinya. Canda tawa selalu menemani aku dan dia. Dukanya kian hilang. Sementara, aku masih dirundung duka yang kian melonjak.

Dia pergi lagi. Kali ini tanpa berita.

Hari berganti begitu cepat. Lagi dan lagi. Sosok lain nampak dalam mimpiku. Mereka ‘melakonkannya’ dan menjadikan ‘play boy’ aliasku. Barangkali karena kepolosanku menerima mereka. Aku bagaikan ‘pelabuhan cinta’.

Dunia telah berubah, ‘tabolak-balik’. Nyanyian sahabat (pemimpi cinta sejati), Denis Ipou; “Pergilah” mengusik diriku. Aku menggantikan posisi perempuan itu; termenung di sudut kota ini, di tempat yang awalnya “tra baku tau”. 

Bersambung…

*) Penulis adalah anak jalanan dan bekerja di Majalah Beko
Tra Baku Tau Reviewed by Majalah Beko on 01.46.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.