Breaking News

Berita

Mengenang 33 Tahun Kematian Tn. Arnold Clemens Ap

Oleh Alfred Pekei
Arnold Clemens Ap, We Never Forget You (Ist.)
Arnold Clemens Ap adalah sosok fenomenal yang lahir dalam blantika musik Papua pada era 1980-an. Tidak banyak masyarakat Papua yang mengenalnya saat ini karena semua dokumen musik miliknya dilenyapkan pasca beliau dibunuh oleh Kopasandha pada Hari Paskah Tahun 1983 (Aditjondro; 2000).

Arnold Ap berasal dari Pulau Numfor di pesisir Utara Pulau Papua. Beliau yang masih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Cenderawasih (Uncen) saat itu sudah dipercayai oleh pihak kampus untuk menjadi Kepala Museum Lokal Budaya Uncen. Kepercayaan dari pihak kampus ini tidak disia-siakan. Beliau membangun sebuah grup musik yang diberi nama Mambesak (Burung Nuri) yang menurut orang Biak adalah burung suci. Gerakan ini kemudian dianggap sebagai sejarah awal gerakan mahasiswa di Papua.

Gerakan mahasiswa yang bergerak di seni dan budaya dengan nama Mambesak ini lahir pada tahun 1972 yang dimulai dari gereja-geraja, panggung hingga terakhir di RRI Nusantara V Jayapura.

Gerakan ini tumbuh dan berkembang, yang kemudian pada tanggal 15 Agustus 1978 menjadikan hari jadi mambesak. Musik ini dinamai Mambesak, tujuannya adalah untuk menghibur hati masyarakat Papua yang sedang diintimidasi, dianiaya, diperkosa dan dibunuh di atas tanahnya sendiri.

Gerakan Mambesak memberikan inspirasi yang kuat dan membangkitan nasionalisme Bangsa Papua, sehingga perlawanan pun semakin lama mulai menguat di daerah-derah Papua lainnya.

Namun sayang, Pemerintah Indonesia menganggap gerakan ini sangat berbahaya sehingga mereka menangkap Arnol C. Ap dan ditahan sejak bulan November 1983. Dia dituduh sebagai bagian dari Organisasi Papua Merdeka (OPM) kota yang ikut berpartisipasi dalam perjuangan kemerdekaan Papua.

Karena tuduhan ini, akhirnya Arnold Ap dibunuh dan mayatnya ditemukan pada tanggal 26 April 1984 di Pantai Base G, Jayapura.

Pembunuhannya diatur dengan skenario melarikan diri setelah sebelumnya secara sengaja dibebaskan aparat dari dalam tahanan. Saat Arnold Ap hendak temui istri dan anaknya ke PNG, malah ditembak mati. Selain Arnold Ap, rekannya, Eduard Mofu, juga dibunuh dan ditemukan terapung di permukaan air laut Pantai Base G dengan luka tembak di dada dan perutnya.

Sebelum meninggal, Arnold Ap sempat menyaksikan perkembangan gairah rakyat Papua yang ingin menghirup kesegaran roh seni dan budayanya sendiri. Kelompok musik Papua bermunculan di mana-mana. Pemakaian pita kaset untuk penyebaran lagu-lagu Papua menjadi semacam revolusi komunikasi tersendiri. Dari sumber yang sama, musik dan lagu tradisi Papua, berbagai kelompok musik mencoba menawarkan bermacam ragam bentuk kepada masyarakat. “Yang satu ingin me-Papua-kan musik populer, sedang yang lain ingin mempopulerkan musik lagu Papua,” kata Sam Kapissa, salah satu tokoh Mambesak yang kemudian mengembangkan aksinya sendiri di luar Mambesak. Revolusi pita kaset mulai terasa menjelang pertengahan 1980-an. Bulan-bulan menjelang Natal, kaset lagu-lagu Natal dan gerejani bernapas Papua membanjiri toko-toko kaset. Lagu-lagu Natal dan gerejani dari kaset yang senada mulai terdengar di berbagai tempat umum, seperti lingkungan kampus, bandara Abepura dan tempat-tempat umum lain. Masyarakat Papua seperti menemukan kembali kepercayaan diri yang selama ini direnggut oleh kekuatan asing.

Sejalan dengan perkembangan gerakan kebudayaan yang dipelopori Arnold Ap dan teman-temannya di Mambesak, tentara pun semakin khawatir akan kemungkinan menguatnya gerakan pembangkangan dan perlawanan masyarakat Papua terhadap kekuasaan rezim. Memang, sejak awal, orang Papua bisa memperkirakan bahwa kegiatan Arnold yang begitu berpengaruh akan dilihat sebagai ancaman oleh rezim. Berkembangnya kebudayaan dan kesadaran di kalangan rakyat, adalah ancaman besar karena sulit diukur dan dikendalikan. Aparat intelijen bersusah payah mencari hubungan Arnold dan kelompok Mambesak dengan OPM atau gerakan perlawanan lainnya. Arnold berulangkali ditahan dan diinterogasi, tapi karena posisinya dalam masyarakat dan perhatian luas dari berbagai pihak, ia pun dilepas kembali. Upaya menemukan “bukti-bukti keterlibatan” pun kandas. Keputusan pun akhirnya datang, Arnold Ap harus disingkirkan. Bukti, alasan dan sebagainya bisa ditentukan belakangan. Aparat bergerak, menangkap, menyiksa lalu membunuh, dan membuat laporannya sendiri. Jerit menagih keadilan dan kemanusiaan pun hilang ditelan perintah-perintah tegas, suara handie-talkie dan letusan senapan yang membunuh Arnold.

Arnold Ap meninggal sebagai pejuang kebudayaan Papua. Rakyat menghormatinya sebagai konor yang berarti filsuf atau orang suci yang dipercaya memiliki kharisma dan kekuatan. Sekitar 500 orang hadir dalam pemakamannya yang dijaga ketat oleh aparat. Tubuhnya sudah ditanam, tapi semangatnya meluap-luap ke segala penjuru, beranak-pinak melanjutkan apa yang pernah diperjuangkannya.

Mambesak didirikan pada tanggal 5 Agustus 1978 di Lembaga Anthropology Universitas Cenderawasih.

Pendiri/Pimpinan Grup: Arnold Clemens Ap (Pimpinan Grup), Martini Md. Sawaki (Wakil Pimpinan), Joel Kafiar (Sekretaris), August Tethol (Bendahara).

Koordinator: Sam Kapisa (Musik/Lagu Daerah/Mob), Tonny Wolas Krenak (Tarian Adat/Daerah), Demianus Wariab Kurni (Theatre/Pemenstasan), Berth Tanawani (Publikasi/Dokumentasi), Constantinopel P. Ruhukail (Rekaman/Produksi/Siaran Radio), Marthen L. Rumabar (Distribusi Kaset/Pemasaran).

Penari/Penyanyi: Uslina Monim, Sance Wanggai, Joke Wanggai, Mary Samaduda, Maryon Krey, Selvi Samber, Jul Maniagasi, Thilda Letsoin, Jan Piet Ap, E. Rumansara, Danny Mandowen, Paul Yaam, Willem Kiryar, Auleman Rumbewas, A. Frits Watofa, Andy Kawer, Josh Kapisa, August Ronsumbre, Moses Mangge, Sony Werimon, Franz Rumbrawer, Jul Jembise, Esther Sawaki, Hiskia Hoor, Eduard M. Mofu, Ham Wambraw, Job Rumayau (guest Singer 'Sup Mowiya).

Rekaman musik daerah Mambesak dimulai pada akhir bulan November 1978, di halaman Museum Lembaga Antropologi Uncen.

1. Volume Pertama dikeluarkan pada bulan Februari 1979; berisi 16 lagu daerah, memperkenalkan lagu: 'Akai bi pamare' (Mimika) dan 'Waniambe' (Jayapura).

2. Volume Kedua pada tahun 1980; berisi 16 buah lagu daerah, memperkenalkan lagu 'Yayun Wambeso' (Biak) dan 'Hindang Makhendang' (Sentani). 

3. Volume Ketiga pada tahun 1980 (akhir 1980); berisi 10 buah lagu daerah memperkenalkan 'Porea Gareso' (Barapasi) dan 'Hemeng Preka' (Iha, Fakfak). 

4. Volume Keempat pada tahun 1982; berisi 14 buah lagu daerah dengan memperkenalkan 'Airaro Beseya' (Wondama) dan 'Nit pughuluok en' (Kurima).

5. Volume ke-5 yang direncanakan untuk direkam pada tahun 1983 tidak terlaksana karena pihak keamanan Pemerintah Republik Indonesia mulai memantau kegiatan nyanyi dan tari Mambesak yang berujung pada penangkapan dan penahanan Arnold Ap dan Eduard Mofu oleh Satuan Kopasandha. Sejak itu, Arnold dan Eduard tidak pernah dibebaskan dan mengakhiri kehidupan mereka di tangan sang penguasa yang bejat dan kejam. 

Itulah harga termahal yang diberikan oleh dua putra Bangsa Papua untuk mempertahankan budaya bangsanya yang punah keasliannya dan tenggelam terbawa arus budaya asing. - Salut dan penghargaan yang tinggi bagimu, Arnold dan Eduard serta Mambesak. Engkau selalu di hati bangsamu, Papua Barat. ***


Daftar Pustaka:
Post Facebook Yohanes Giyai : "Seruan Seni dan Budaya Papua : Mengenang 33 Tahun Kematian Arnold Clemens Ap"
I Ngurah Suryawan (Mei 2011) dalam ETNOHISTORI: “Ukulele Mambesak: Membayangkan Identitas Budaya Papua 1970-1980-an
Dokumen Mambesak/Wapupi (2000)
Mengenang 33 Tahun Kematian Tn. Arnold Clemens Ap Reviewed by Majalah Beko on 16.04.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.