BREAKING NEWS

Berita

Pergeseran Budaya Perkebunan Suku Mee Papua (Perspektif Antropologi Ekonomi)

Oleh Akulian Gobai
Ilustrasi (Ist.)
Budaya lokal (perkebunan) yang telah menopang orang suku Mee, telah diganti dengan unsur-unsur budaya  suku lain di Papua atau pulau nusantara lainnya. Akulturasi budaya luar tanpa melalui proses seleksi budaya seharusnya diterima dan perlu dibudayakan. Ini perlu dipertahankan atau diklasifikasikan untuk dibudidayakan. Ketika masyarakat Mee dihadapkan dengan kedatangan etnis lain yang masuk ke wilayahnya, etnis itu menawarkan nilai-nilai budaya baru. Sehingga, secara tidak sadar, etnis Mee balik kanan dan menerima penuh budaya baru itu. Sejak itu pun, masyarakat Mee dapat menjelasakan kebiasaan nilai-nilai budaya yang selalu mereka praktekkan. Lebih parah lagi ketika masyarakat Mee memberikan stigma “budaya atau adat itu kotor dan tidak benar. Ungkapan dimaksud mengundang hukum alam dan adat yang diwariskan itu.

Pada tahun 1980-an, sebuah kehidupan pernah ditata dengan baik dalam kehidupan masyarakat Mee. Kala itu, tidak nampak kehancuran. Seorang antropolog berkebangsaan Amerika, Leopossiebell (1934), dalam Laporan “Etnografi Orang Kapauku” menjelaskan bahwa masyarakat berkebun dan bahan makanan yang cukup, berternak babi banyak dan memiliki nilai kemandirian serta juga manusia yang taat pada 121 hukum adat. Misalnya; jangan membunuh orang, jangan mencuri barang milik orang lain. Jika melanggar hukum adat, juga merupakan hukum religi tradisonal, tentu akan mendapatkan kutukan dari alam setempat dan atau dari Ugatamee (Maha Pencipta). Kehidupan sosial rukun dan kebudayaan sangat kental di lintas budaya suku Mee. Sehingga, Posspissiel mengatakan, orang Mee akan menjadi manusia kapitalisme  (orang bermodal). Sementara, pilot Wissel saat menemukan atau melihat dan mengelilingi danau-danau Wissel (Paniai, Tage, Tigi), ia melihat ada rumah-rumah dan kebun-kebun yang indah dalam pagar, manusia berfisik besar, dan panorama danau indah sekali. Ini merupakan keadaan kehidupan orang Mee yang sejahtera, sebelum orang luar mendiami tanah orang Mee.

Tetapi, yang terjadi hari ini, hanya adanya lahan tidur di daratan rendah/lereng gunung yang cukup luas. Kampung halaman juga tidak tertata rapih. Tradisi pemagaran utama terbongkar. Pola hidup bersama kerabat dan keluarga tidak nampak. Hal-hal demikian mengakibatkan berubahnya rumah laki-laki dan perempuan (yamewa - yagoowa) dan peraturan/keteraturan sosial tidak terjaga atau terlestarikan. Larangan dimaksud sebagai anggapan persoalan sederhana di tingkat sosial. Keadaan demikian telah membawa masyarakat menemukan kesulitan mendapat bahan makanan dan protein (gizi) di atas tanahnya sendiri.

Pada tahun 2010, masyarakat Mee ada di tepi pantai atau pinggir sungai untuk menyebrang ke dermaga sejahtera dan atau sedang berpikir untuk kembali melihat budaya atau kebiasaan yang menghilang. Artinya, bahwa pola budaya berkebun (dulu) sedang menuju dermaga kesejahteraannya (pengelolahan dan pembaharuan). Pembangunan yang ditawarkan oleh orang luar (pemerintah dan pemuka agama) adalah untuk kebaikan orang Mee. Namun, aspek adat dan hukum memandang  kedatangan mereka telah membawa malapetaka bagi suku Mee. Kebudayaan dan budaya orang Mee yang kuat telah dipunahkan sejak pekabaran Injil dan pendidikan formal dijalani di Meuwoodide. Ini mendorong masyarakat agar membangun diri menuju ke arah yang lebih baik dan menjadi tantangan sosial. Masyarakat tidak merasa bahagia menuju kebahagian yang pernah ada. Hanya menjadi sebuah kemenangan historis saja, di sini berbicara mengenai pembangunan masyarakat atau pengembangan ekonomi masyarakat lokal itu sendiri.

Artikel ini dituliskan untuk menjawab mengapa kebahagian yang pernah ada, telah hilang dalam kehidupan masyarakat manusia Mee saat ini? Jadi, tulisan ini mau mengiring pembaca, lebih khususnya pemerintah dan masyarakat Meepago untuk melihat bagimana menemukan kembali pola-pola kebudayaan lokal yang baik. Sehingga, dapat menjadi kekuatan ekonomi yang harus di mulai dari apa yang dimiliki, seperti harta dan benda. Modal pendekatan ini telah dan sedang dikembangkan oleh YAPKEMA Kabupaten Paniai (kutipan dari Miskin Diatas Lumbung Emas, halaman 2, tahun 2008): meneropang kehidupan ekonomi penduduk asli Meepago dan pada umumnya di atas Tanah Papua... di era modern ini, masyarakat pribumi Papua hanya menjadi penonton di negerinya.

Jika demikian, apa arti syair lagu “di sana pulauku” bagi orang asli Papua? Karena alamnya kaya? Tetapi, belum ada tanda-tanda akan hidup sejahtera. Kalau mau jujur, mereka saat ini nyaring tersaring di negeri mereka sendiri. Jikalau kelak jalan-jalan ke pasar-pasar di daerah Meepago, orang asli sendiri tidak memiliki tempat yang layak. Kebanyakan pasar tradisional  di Nabire, Timika, Paniai, Deiyai, Dogiyai, dan Intan Jaya telah dipenuhi orang  amber (pendatang). Bukan saja di daerah Meepago, namun di seluruh tanah Papua masih banyak orang asli Papua berjualan di los-los pasar. Tetapi sekarang, los-los pasar tersebut didapati pendatang, sedangkan pendagang asli Papua pada umumnya berjualan di teras pasar atau di emperan toko-toko dan ruko-ruko besar.

Meskipun dana otonomi bermiliyaran rupaih diberikan, tetapi entahlah ke mana, belum sampai penduduk asli Meepago dan pada umumnya tanah Papua. Dana dimaksud dikuras oleh oknum-oknum tertentu (berdasi dan elit lokal) di tengah-tengah mata masyarakat sipil. Di lain sisi, masyarakat menilai, mungkin pemerintah membangun kota secara fisik detik-detik ini. Lihat saja, kalau datang ke beberapa kota di Papua saat ini, tidak berbeda dengan kota lain di Indonesia. Misalnya, di Jayapura, orang dengan mudah menemukan hotel berbintang dan kawasan pertokoan yang berjejer.

Ketua Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Papua, Alberth Rumbekwan pernah berpendapat bahwa “Ketidakberdayaan orang asli Papua di sektor perekonomian merupakan fenomena yang terjadi saat ini di berbagai kota Papua.’’ Ia mencatat, di kasawan pertumbuhan dan kegiatan ekonomi di Papua, seperti Jayapura, Timika, Sorong, Nabire, Deiyai, dan Paniai, serta juga Merauke. Para pendatang menjadi aktor ekonomi yang dominan.

Budaya perkebunan yang dikembangkan di sini berbicara berkarya (ekowai), berkebun (bekerja pada ladangnya), pagarilah pada tanamanmu (edagee duba awii wetaka agiyoo kodoo). Pola kehidupan dapat dilihat sebagai satu sistem budaya yang merupakan pusat pengelolahan ekonomi keluarga serta kelompok yang dibutuhkan dalam sebuah kampung, dan bekerja dengan berpedoman pada keteraturan sosial-ekonomi (norma-norma) yang diikuti. Ini unsur budaya yang bisa dibangun  kembali. Maka, akan melahirkan adanya persedian makanan di setiap keluarga, batin, dan setiap kesatuan kelompok masyarakat Mee.

*) Penulis adalah aktivis HAM di Manokwari
Pergeseran Budaya Perkebunan Suku Mee Papua (Perspektif Antropologi Ekonomi) Reviewed by Majalah Beko on 21.19.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.