Breaking News

Berita

Kenapa Ada "500 Payung Peduli Mama-Mama Papua"? Ini Alasan dan Usahanya

Mama asal NTT turut membantu menjualkan jagung (Facebook/Roberta Muyapa)
Nabire, MAJALAH BEKO - - Keberadaan pedagang asli Papua, khususnya mama-mama Papua di tanah Papua masih termajinalkan. Hal ini mendapat keprihatinan dari berbagai kalangan, terlebih Solidaritas Pedagang Asli Papua (Solpap). Selain Solpap, ada “500 Payung Peduli Mama-Mama Papua”.

500 payung peduli mama-mama Papua ini diprakarsai seorang mahasiswi Papua di Yogyakarta, Roberta Muyapa. Ia menjelaskan, hal ini sebagai wujud solidaritas terhadap mama-mama Papua, khususnya di Kabupaten Nabire.

Roberta mengatakan, setidaknya terdapat 4 alasan solidaritas ini dibentuk.

“Saya buat dengan tujuan untuk mengajak atau membuat solidaritas untuk pasar mama-mama Papua di Kabupaten Nabire. Ini alasan saya; pertama, karena belum ada perhatian khusus. Kedua, mama-mama masih berjualan di bawah panas terik matahari dan hujan. Ketiga, kurangnya pengelolaan ekonomi mama-mama pasar. Keempat, kurangnya tempat yang layak atau pasar untuk mama-mama Papua, dan lain-lain,” katanya kepada majalahbeko.com, Senin (22/05/2017).

Roberta menambahkan, ia sedang melakukan berbagai bentuk usaha kecil demi mengadakan 500 payung lipat yang hendak dibagikan kepada mama-mama Papua di Nabire pada Agustus 2017 mendatang.

“Nah, langkah awal yang sedang saya buat dan berjalan dalam proses pengumpulan dana, seperti berjualan jagung, dan lain-lain. Jagung saya titip di seorang mama asal NTT. Dia membantu tanpa harapkan imbalan. Hari Senin tanggal 22 Mei 2017, saya akan keluarkan rekening baru khusus untuk kepedulian mama-mama Papua. Dana ini guna untuk membeli payung lipat dan selanjutnya akan dibagikan pada bulan Agustus,” ucapnya.

Roberta juga telah membuat grup Facebook Messenger “500 Payung Untuk Mama-Mama Papua” untuk merangkul seluruh lapisan masyarakat yang peduli terhadap masalah ini. Di sini, ia mencoba mengungkapkan tujuan aksi sekaligus mendiskusikannya bersama anggota-anggota grup.

Mahasiswi Sekolah Tinggi Teknologi Nasional (STTNAS) Jurusan Pertambangan ini mengharapkan uluran tangan seluruh lapisan masyarakat dalam bentuk materiil maupun moril.

“Bagi kawan-kawan yang mau bergabung, terima kasih. Di sini, kita bisa kerja nyata seperti yang bisa saya kerjakan atau bisa dengan yang lain. 1 sumbangsih sebagai bentuk aksi peduli mama-mama pasar Papua sangat dibutuhkan,” tuturnya.

Ia melanjutkan, dalam waktu 2 bulan (Juni – Juli 2017), 500 payung dapat direalisasikan.

Solidaritas ini, kata Roberta, telah dikoordinasikan ke mahasiswa/i di beberapa kota studi, termasuk Nabire.

“Sudah ada koordinasi dari masing-masing kota studi. Kakak Otis Adii di Bandung, kakak Dorkas Kosay atau Helena Kobogau di Jakarta. Saya sendiri di Jogja. Di Semarang ada Ferdinand Madai. Untuk Bogor ada Yance Kotouki. Surabaya ada Alince Pigai. Nabire ada kakak Hasina Ruban,” ucapnya.

Selain Indonesia, ia menambahkan, sudah ada donasi dari Australia. Roberta tidak menyebutkan siapa donator tersebut.

Sebagai catatan, ia mengatakan akan bekerja sama dengan Solpap dan lembaga-lembaga swadaya masyarakat terkait.

“Semoga dari kepedulian ini, banyak sukarela di setiap kabupaten atau kota di seluruh tanah Papua agar pemerintah atau pihak terkait dapat memberi tempat layak atau pasar untuk mama-mama di seluruh tanah Papua,” pungkasnya.

Seorang simpatisan di Bandung, Otis Adii mengapresiasi solidaritas ini. Ia turut mengungkapkan rasa simpatinya dan menyatakan siap merealisasikan aksi dimaksud.

“Saya secara pribadi sangat mengapresiasi 500 payung untuk mama-mama Papua karena melihat realita di Papua, di mana mama-mama kita berjualan di atas tumpukan sampah, di pinggir-pinggir jalan. Pembentukan tim ini sebagai rasa kepedulian kepada mama-mama Papua, di mana semua pasar-pasar lokal dan pasar-pasar sentral di Papua dikuasai oleh pedagang-pedagang pendatang atau non Papua. Pemerintah daerah seolah mati tanpa ada rasa kepedulian kepada mama-mama Papua. Maka, saya secara pribadi siap menyukseskan 500 payung untuk mama Papua dari kota studi Bandung,” kata senioritas Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Nabire, Paniai, Dogiyai, dan Deiyai (Ipmanapandode) Bandung itu.

(Aten Pekei)
Kenapa Ada "500 Payung Peduli Mama-Mama Papua"? Ini Alasan dan Usahanya Reviewed by Majalah Beko on 13.09.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.