BREAKING NEWS

Berita

Mengkonsumsi Pinang Bukan Budaya Etnis Mee

Oleh : Akulian Gobai
 
Ilustrasi (Ist.)
Berangkat dari budaya dalam arti tradisional. Tradisional, yaitu ilmu pengetahuan alam secara lokal. Terutama, sejalan dengan sejarah tradisi-tradisi budaya. Budaya dimaksud dimiliki oleh setiap etnis, di mana komunitas sosial itu berada. Manusia berindividu dan berkelompok telah mengenal nilai budayanya. Dan, mereka dapat membedakan budaya posif dan negatif.  Hal ini, dalam budaya selalu dipraktekkan sehari-hari. Misalnya, budaya noken tradisional suku besar Mee di wilayah Meepago, adalah identistas etnisnya. Demikian pula tradisi pakai adat juga.

Perbedaan nilai budaya merupakan sesuatu yang magic atau mistis, yang menyimbolkan kemaknaan dalam arti meluruskan akulturasi budaya. Akulturasi budaya terjadi ketika ada kontak sosial. Misalnya, sistem budaya bahasa. Karena, bahasa merupakan awal pintu masuk untuk mengenal segala sesuatu. Tanpa bahasa, manusia tidak mungkin dapat mengetahui segala isi perut di bumi ini. Ada kasus telah terjadi pada sejarah Injil masuk di wilayah Meepago, tepatnya di Kabupaten Deiyai, Distrik Tigi Timur, Kampung Kokobaya. Sejak itu, para misionaris datang di masyarakat lokal dan melakukan perkenalan dengan menggunakan bahasa isyarat. Tiga hari kemudian, masyarakat mengajari kata-kata sehari, seperti “ini toto”, artinya ini tebu. Sehingga, akulturasi nampak hingga kini. Demikian pula aspek budaya lain.

Akulturasi budaya makan pinang dimaksud telah menjadi objek budaya suku Mee. Sementara, etnis Mee terbekali dengan nial-nilai budaya leluhur yang hangat dan berguna, misalnya, budaya merokok. Perokok zaman dahulu mengisap rokok tradisional. Kegiatan dimaksud karena dasar dokrin yang bermanfaat bagi keturunannya. Misalnya, ketika orang merokok, berarti dia peduli dengan sturktural budaya di lingkungannya. Oleh sebab itu, ketika seorang lelaki berumur 25 tahun atau 27 tahun layak merokok. Dan, setelah tumbuh banyak kumis layak merokok, karena budaya itu sudah ada sejarahnya.

Difusi budaya yang dilakukan oleh etnis Mee membuat para budayawan merasa malu. Karena, seluruh seluk-beluk kehidupan setiap etnis suku bangsa sedunia berbeda budayanya. Dan, ada warisan nilai-nilai budaya mereka. Tentu saja bangsa Papua dan lebih spesifik suku bangsa Mee pun ada nilai-nilai budaya yang lebih dominan untuk membudayakannya.

Teori Difusionalisme menurut E. B. Tylor (1832-1917) dalam bukunya yang berjudul “Sejarah dan Teori Sosial” hal. 32 menjelaskan, bahwa persebaran jejak-jejak kebudayaan yang melintasi ruang penyiapan budaya suatu etnis melalui kontak budaya atau kontak migrasi awal dengan sistem barter. Dengan kebenaran teori yang dikemukakan di atas, ada pertanyaan yang ditimbulkan.  Apakah ada sejarah mencatat bahwa, etnis Mee pernah melakukan sistem barter terkait budaya pinang? Ataukah anak muda etnis Mee pernah menanam pohon pinang di pekarangan rumah? Mungkinkah pohon pinang berasal dari moyang Mee yang telah diwariskan kepada kita generasi sekarang?

Kenapa ada pertanyaan demikain? Karena, pelaku dan pemegang adalah generasi muda suku Mee. Dan pula, sebagai penguasa dalam mengkonsumsi budaya makan pinang. Kata lain, mereka adalah pewaris sejarah tradisi orang asli Papua yang hidup di zona pesisir pantai. Etnis pantai, misalnya suku Biak mengkomsumsi pinang sebagai sebuah pandangan hidup yang bernilai. Sebaliknya, generasi Mee di zaman kontemporer ini mengikuti arus budaya. Kadang, di banyak tempat, penulis menemui dan mengunjungi pelaku. Mereka adalah anak muda. Pantas sekali mereka mengkonsumsi budaya makan pinang. Karena, ada keterangan yang logis. Apa yang mereka ungkap; “Kata mereka adalah kami mengkonsumsi pinang ini, kalau kita mau kerja atau sakit gigi, pasti akan sembuh juga kerja fisik legah, serta kerja pun semangat”. Namun, hal ini, ditelusuri dari aspek budaya tidak demikian. Sementara, generasi muda etnis Mee terus mewarisinya. Sebaliknya pun, budayanya sendiri (etnis Mee) semakin meluntur di tengah-tengan anak muda.

Generasi muda etnis Mee telah berpartisipatif dalam pergerakan komunitas-komunitas. Komunitas itu paling berbeda-beda dengan visi dan misi di garis tujuan. Tentu saja, ada komunitas yang bergerak atas dasar perintah atau hal larangan (aturan) yang harus patuhi oleh subjek (orang itu) agar kenampakan pergerakan mantap dan tidak terjebak akan hal kriminalitas budaya. Dikaji dari aspek agama, ternyata ada perintah yang dimaksud dengan 10 Perintah Allah. Ini merupakan pondasi hidup bagi umat manusia yang beragama Kristen.

Apakah ada dampak yang dapat dirasakan bagi generasi muda etnis Mee? Tentu ada, tidak mungkin tidak ada. Jika ada, seperti apakah dampak itu?  Menurut cerita moyang adalah “Akii Ipuwee Eepeii”; mengusir roh halus atau roh pelindung. Selain kedua kata, ada filosofi juga, bahwa pemali dengan alamnya, baik itu di lingkungan sosial maupun lingkungan alam sakral. Banyak transformasi terjadi di setiap pelosok wilayah Meepago akan hal itu. Perubahan tradisi, dalam arti ludah pinang terbuang di atas tanah kelahiran mereka. Ketika warga masyarakat melihat ludang pinang di atas tanahnya, mereka gementar dan berteriak. Karena, barang itu (pinang) tidak ada di halaman rumah atau belum pernah tanam di ladang warga (etnis Mee) sepanjang masa.

Oleh karena itu, tanpa mematahkan semangat bagi pelaku, mari kita sebagai manusia yang berbudaya dan bernorma, kita patuhi hukum yang telah ada; yaitu hukum adat. Kita etnis Mee sering menceritakan tentang budaya, namun pelaksaannya belum ternampak di tengah lingkungan sosial budaya. Seharusnya, kita menerapkan prinsip untuk peka akan hal budaya, agar kita tidak saling mengkriminalistas budaya di atas tanah kita, Papua.

*) Penulis adalah mahasiswa asal Deiyai, sedang menempuh ilmu di Manokwari pada perguruan tinggi UNIPA, Fakultas Satra dan Budaya, Jurusan Antropologi
Mengkonsumsi Pinang Bukan Budaya Etnis Mee Reviewed by Majalah Beko on 22.14.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.