Breaking News

Berita

Sekelumit Masalah Pendidikan Dogiyai

Oleh Philemon Keiya
Siswa SD di Kabupaten Dogiyai (dok. penulis)
‘Sebuah Catatan pada Hari Pendidikan’

Wajah Pendidikan Pasca Hadirnya Kabupaten

Sejak Dogiyai dimekarkan menjadi sebuah daerah otonom baru dari Kabupaten Nabire, berbagai hal hadir di tengah warga Kamuu dan Mapia. Warga Kamuu – Mapia yang nantinya menjadi warga Dogiyai tersebut dihadapkan pada banyak persoalan ‘akibat’ hadirnya sebuah kabupaten.

Sejak hadirnya kabupaten tersebut, demi membangun  dan memajukan daerah Kamuu dan Mapia – sebagai tujuan hadirnya kabupaten - tentunya pemerintah daerah sudah memasang badan untuk menyusun berbagai cara. Sebagai sektor utama, dinas pendidikan merupakan salah satu dinas yang ditetapkan.

Bapak Andreas Yobee merupakan kepala dinas pendidikan perdana. Beliau sudah menjabat sejak Dogiyai dimekarkan hingga tahun 2016 lalu. Banyak pihak menilai, beliau sudah menanamkan banyak hal yang baik di dalam dinas pendidikan bagi kemajuan Dogiyai.

Beberapa terobosan baru yang dilakukan itu, kata orang, sudah memberikan penghargaan berupa sekolah jarak jauh dengan Univeristas Manado (Unima) bagi para guru tua/guru perintis di daerah Kamuu dan Mapia. Para pendidik yang sudah mengabdi puluhan tahun tanpa gelar itu akhirnya berhasil menyandang gelar sarjana.

Selain itu, Bapak Yobee sudah mendirikan kantor bagi dinas pendidikan. Alamatnya di pinggir Jalan Trans Nabire – Ilaga, Kampung Mauwa, Dogiyai. Hal ini dinilai baik. Karena, hingga saat ini masih ada badan, dinas, dan kantor yang masih belum dibangun kantornya.

Banyak pihak juga menilai, dinas pendidikan merupakan salah satu dinas yang paling aktif di Dogiyai. Hal itu terbukti, mulai dari kepala dinas yang hampir jarang keluar daerah. “Soal keaktifan dan dispilin, beliau tidak pernah alpa. Kalau ada di Dogiyai, pasti beliau akan masuk kantor, kecuali hari libur,” kata salah satu operator dinas pendidikan.

Ia juga berhasil membangun asrama-asrama bagi para mahasiswa yang sedang mengenyam pendidikan pada beberapa kota di seluruh Indonesia. Sebut saja, Jayapura (masih setengah), Manokwari, Manado, Semarang, dan Yogyakarta. Selain lima kota itu, kota-kota yang lain hanya ada kontrakan bagi mahasiswa Dogiyai.

Tiap tahun, selalu ada bantuan bagi para mahasiswa yang sudah mau selesaikan pendidikannya, baik itu bagi mahasiswa sarjana dan pasca sarjana. Tiap tahun selalu ada bangunan baru pada tiap sekolah yang diusulkan. Juga, bangunan bagi perumahan dinas bagi guru. Luar biasa!

Sekelumit Persoalan Pendidikan

Namun, banyak pihak yang mengeluh soal pendidikan di Dogiyai. Banyak pihak menilai, pendidikan Dogiyai masih berjalan di tempat. Banyak pihak itu pula selalu membandingkan dengan keberhasilan dan kesuksesan daerah lain soal kemajuan pendidikan.

Pendidikan Dogiyai masih jauh lebih baik sebelum hadirnya kabupaten. Karena, kata banyak pihak, dulu pendidikan berjalan dengan baik. Tidak pernah ada keributan. Juga, pendidikan di daerah ini sudah sangat maju. Mutu pendidikan juga sudah jauh lebih maju ketimbang saat ini.

Saat ini, sudah ada banyak persoalan. Keadaan sudah terbalik. Saat yang harusnya maju, kini masih berjalan di tempat. Dulu, sebelum datangnya kabupaten, pendidikan berjalan baik. Para guru betah pada  tempat tugas walaupun serba kekurangan.

Pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Dogiyai mengkomando (memimpin) ratusan guru se-Kabupaten Dogiyai, pernah lumpuhkan pendidikan di Dogiyai selama sepekan pada November 2015 lalu.

Lumpuhnya pendidikan Kabupaten Dogiyai diakibatkan kebijakan dari dinas pendidikan yang tidak menyentuh pada guru dan siswa. PGRI bersama ratusan guru menggelar aksi damai dengan membawa sejumlah persoalan mendasar. Sejumlah persoalan yang ada pada sekolah tersebut, kata PGRI, dinas Pendidikan tidak pernah gubris. Padahal, kata mereka, berbagai persoalan yang ada itu merupakan hal-hal fundamental yang harusnya ditanggap dan ditangani secara serius.

Pada aksi damai yang digelar pada 2 November 2015 lalu itu, para guru sempat membawa ‘peti mati pendidikan’ Kabupaten Dogiyai yang dihiasi bersama krans bunga para guru.

Para guru berduka. Duka akan matinya pendidikan. Pendidikan tidak boleh mati. Harus hidup! Hidup dan terus bangkit demi generasi muda Dogiyai. Generasi yang akan membangun Dogiyai belasan dan puluhan tahun mendatang. Para generasi yang akan menjadi ‘tuan’ di atas tanah mereka.

Gara-Gara Dana Bos dan Sekolah Tinggal Bangunan

Ironi tapi nyata. Beberapa sekolah di Dogiyai sudah di ambang tutup. Bahkan, sejak beberapa bulan lalu, SD YPPK Ugaapuga sudah ditutup. Halaman sekolahnya, rumput sudah tinggi. Para guru sudah tidak masuk sekolah. Anak sekolah menjadi pengganggur cilik. Padahal, bangunan sekolah sudah ada dan berdiri megah dan gagah di tengah kampung.

Kondisi yang hampir sama terjadi pada sekolah yang lain. Banyak sekolah hampir ditutup, baik karena kekurangan guru maupun terjadi karena persoalan  lain.

Selain tutupnya sekolah, terjadi karena dana bantuan operasional sekolah (BOS). Dana BOS menjadi sumber persoalan di sekolah, antara para guru dan kepala sekolah. Banyak guru yang selalu mengatakan, dana BOS yang diperuntukan untuk tiap sekolah itu selalu dihabiskan oleh kepala sekolah tanpa sepengatahuan guru yang lain.

Akibat tidak transparannya dana BOS, para guru lebih memilih untuk tidak mengajar. Kepala Sekolah jarang masuk sekolah. Banyak guru menuduh para kepala sekolah yang lebih memilih tinggal di kota ketimbang masuk sekolah dan mengajar.

Tenaga Edukatif Ditarik Masuk ke SKPD Lain

Setiap gelar yang disandang dari masing-masing perguruan tinggi berbeda dengan profesinya masing-masing. Guru tugasnya mengajar. Bukan menjadi kepala distrik. Kepala distrik akan diduduki bagi mereka yang latar belakang pendidikanya Ilmu Pemerintahan atau Ilmu Sosial.

Matinya pendidikan di Dogiyai juga diakibatkan para tenaga pengajar ditarik masuk dan mengisi pada jabatan tertentu pada satuan kerja perangkat daerah (SKPD) yang ada di Dogiyai. Para guru yang ada hubungan keluarganya dengan pimpinan daerah dimanfaatkan untuk pindah ke SKPD lain. Para guru menjadi kepala SKPD, kepala distrik, kepala bagian, kepala bidang, kepala seksi, dll.

Akibatnya, sekolah mengalami kekurangan tenaga pengajar. Muridnya jadi korban. Sekolah lumpuh!

Hal ini harusnya tidak boleh terjadi. Pimpinan daerah tidak melihat sebuah ancaman besar pada beberapa tahun mendatang. Ditarik masuknya para guru pada SKPD lain ini secara tidak langsung juga menutup ruang kerja bagi mereka yang sudah memenuhi dalam pangkat dan golongan.

Pengawas Pendidikan Hanya Sebuah Jabatan

Menurut saya, peran pengawas pendidikan sangat penting. Karena, pengawaslah yang sangat memahami seluruh keadaan sekolah yang ada, baik itu pengawas TK/PAUD, SD, pengawas SMP, pengawas SMA/SMK. Merekalah perpanjangan tangan langsung dari sekolah ke dinas; kegiatan belajar mengajar pada sekolah, sarana prasarana sekolah, keadaan sekolah, persoalan yang ada di sekolah. Merekalah pengumpul masalah pendidikan yang ada di sekolah.

Apakah selama ini dimanfaatkan benar pada pengawas sekolah? Menurut saya tidak. Karena, pada tiap sekolah ada banyak persoalan. Mulai dari soal infrastruktur atau sarana dan prasarana, keadaan sekolah, mutu pendidikan sekolah. Sejumlah persoalan yang ada pada tiap sekolah hingga saat ini para pengawas belum mampu melihat.

Seluruh persoalan yang ada pada tiap sekolah, apakah pengawas yang tidak pernah mau datangi sekolah atau apakah pengawas sudah jalankan tugasnya dan sudah naikan semua persoalan ke dinas pendidikan? Ini persoalan.

Pada sebuah diskusi bersama Kepala Sekolah SMP YPPK St. Fransiskus Assisi Moanemani, Ernest Giyai, menyebutkan berbagai persoalan pendidikan yang ada di Dogiyai. Salah satunya, para pengawas yang tidak dioptimalkan dari dinas.

Menurut Giyai, tidak dimanfaatkannya para tenaga pengawas merupakan salah satu indikator mundurnya pendidikan Dogiyai. Karena, kata dia, selama ini dinas pendidikan belum mampu memanfaatkan dengan baik tenaga pengawas pendidikan. Dinas pendidikan sudah ada tenaga pengawas, baik tingkat TK/PAUD, SD, tingkat SMP, SMA/SMK.

Jika tenaga pengawas tidak dimanfaatkan dengan baik, maka dinas tidak akan pernah tahu persoalan  dan kekurangan yang ada pada tiap sekolah.

Ada kabar bahwa, para pengawas ini tenaganya tidak dimanfaatkan dengan baik. Bahkan, ada guru yang mengatakan, sekolah mereka sudah pernah didatangi para pengawas. Pada saat itu, ia bersama para guru yang lain sudah pernah diskusikan kemajuan bagi sekolah mereka. Kata dia, pengawas tersebut sempat berjanji bahwa akan disampaikan kepada kepala dinas. Namun, katanya, hingga saat ini belum pernah ada jawaban dari dinas.

Harapan Baru pada Bupati Terpilih

Daerah yang mengutamakan pendidikan merupakan daerah yang sedang memikirkan aset untuk masa depan daerah tersebut. Aset panjang untuk daerah tersebut merupakan para mahasiswa dari daerah tersebut yang sedang mengenyam pendidikan.

Bupati baru diharapkan mampu mengoptimalkan seluruh tenaga pengajar yang ada di daerah ini. Karena, hanya melalui pendidikanlah akan ada kemajuan yang pesat. Bupati terpilih juga diharapkan mampu meminimalisir kompleksnya masalah pendidikan yang sudah ada ini.

Bupati terpilih mampu menempatkan kepala dinas yang benar-benar paham tentang berbagai sekelumit persoalan pendidikan yang ada di Dogiyai, di samping memperhatikan golongan dan pangkat.

Pada bidang pendidikan, butuh orang yang benar-benar ‘gila’ terhadap pendidikan. Orang yang mau jatuh bangun bersama para guru dan siswa. Orang yang mau datangi pada persoalan itu sendiri. Orang yang mampu mendengar keluhan dari pada guru, juga para guru honorer.

Persoalan pendidikan bukan saja ada pada pendidikan formal. Masalah serius yang lain datang juga dari pendidikan informal. Banyak anak usia sekolah yang masih berkelana di luar pendidikan.

Para pemuda ini juga mesti diperhatikan. Setidaknya mereka juga dibekali dengan berbagai ketrampilan. Ada beberapa dinas terkait yang harusnya kerja sama dengan dinas pendidikan.

Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Ketenagakerjaan, Dinas Pemuda dan Olahraga, KNPI Dogiyai. Beberapa SKPD ini bersama DPR Dogiyai mestinya buat satu regulasi pemberdayaan pemuda dan anak-anak muda yang sudah putus sekolah.

Saya meyakini, jika ada langkah konkrit yang diambil oleh Pemda dan DPR Dogiyai untuk mengatasi berbagai persoalan yang ada dengan bijak, pasti ada jalan keluar yang akan ditemukan.

Solusi Masalah Pendidikan

Masih ada banyak persoalan yang melilit bagi dunia pendidikan di Kabupaten Dogiyai. Menurut saya, persoalan ini merupakan persoalan bersama. Karena, pendidikan merupakan tolak ukur maju-mundurnya sebuah daerah.

Semua pihak secara bahu-membahu atasi persoalan yang sudah ada, baik itu Pemda Dogiyai, Dinas Pendidikan, DPR Dogiyai, PGRI, para guru, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan orang tua, serta seluruh mahasiswa Dogiyai.

Masalah pendidikan ini, jika dibiarkan dalam tempo waktu yang lama, saya mengkhawatirkan belasan tahun mendatang akan terjadi persoalan yang serius.

a. Pemda dan Dinas Pendidikan Dogiyai selalu buka pintu untuk para guru setiap (kapan saja) guru datang.
b. Mengoptimalkan para pengawas yang ada. Karena, merekalah perpanjangan tangan dari sekolah ke dinas dan dari dinas ke sekolah.
c. Pemerintah Dogiyai siapkan dana khusus dari dana Otsus untuk membiayai para siswa untuk masuk sekolah perguruan, baik di dalam maupun di luar Papua.
d. Tiap tahun, Pemerintah Dogiyai harus mengirim para guru untuk mengambil pendidikan Pasca Sarjana.
e. Pemberdayaan secara berkelanjutan bagi para pemuda yang sudah putus sekolah.
Sekelumit Masalah Pendidikan Dogiyai Reviewed by Majalah Beko on 22.16.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.