BREAKING NEWS

Berita

Untuk Kalian, Pesepak Bola Terbaik yang Saya Kenal

Oleh : Aten Pekei *)
Hans Tekege (kiri) setelah menyumbangkan 1 gol untuk PSM Morgo di lapangan Sapta Marga Kodim 1705/Paniai pada bulan April 2015 lalu. Gol tunggalnya iringi PSM Morgo ke perempat final Piala Bupati Nabire. (dok. penulis

Berawal dari Mimpi Kecil

Yang lebih familiar beberapa tahun silam (2002-2011) adalah sepak bola, bukan bola basket. Bagi mereka (saat itu), sepak bola bukan sekedar hobi, tetapi teman hidup. Lapangan, rumput, dan bola menjadi sahabat kental mereka. Mereka adalah Hans Tekege, Nomensen Douw, Pilepin Tenouye, Frengki Boma, Ferry Tekege, Melvin Douw, dkk.

Sepak bola sudah menjadi bakat alami mereka. Latihan tidak latihan, skill mereka tetap bagus. Tapi, mereka butuh latihan sebagai bagian dari penyesuaian diri dan pendewasaan dalam merumput.

Ketrampilan mereka dalam merumput tidak begitu menonjol ketika di bangku SD. Mereka mulai mengikuti latihan bersama para senior di lapangan Sapta Marga Kodim 1795/Paniai setiap sore. Sejak SMP, skill mereka yang terpendam mulai nampak. Mereka juga mulai memupuk kebersamaan yang baik.

Banyak kisah terlewatkan di bangku SMP. Hari-hari tidak lepas dari kata “bola”. Ya, bola dan bola. Ketika guru mengajar atau tidak (jam kosong), kami selalu membicarakan sepak bola (daerah, nusantara, bahkan internasional) dengan membuat lingkaran atau kelompok di pojok-pojok ruang kelas, atau kadang bersama teman sebangku saja. Ini khusus laki-laki. Entahlah untuk (teman-teman) perempuan. Bukan itu saja. Setiap jam istirahat dan pulang sekolah, kami selalu bertanding (sepak bola dan basket) antar kelas di lapangan sekolah. Kadang, perempuan juga ikut bermain. “Salah tingkah berarti mulut menari-nari, tangan lari.” Begitu sudah yang terjadi. Setelah bel masuk (setelah istirahat) berbunyi, mandi keringat sampai baju putih menjadi kehitaman, itu soal biasa. Kami tetap mengikuti kegiatan belajar-mengajar (KBM). Saya dan Pilep (dari kelas I sampai lulus) di kelas B. Sedangkan, Hans, Nomen, dkk di kelas A. Kalau saja bangunan (tembok, dinding, dan pagar, maupun lapangan) SMP YPPK St. Antonius Nabire bisa berkata, dia akan jujur dan ceritakan semuanya. Saya selalu ingat semua kisah itu.

Mereka (teman-teman saya itu) selalu ‘bermain mulut’ kalau terjadi kesalahan saat bermain sepak bola. Di luar lapangan (setelah bermain), mereka melakukan evaluasi selama permainan. “Nay, ko main begini boleh. Ah, ko tadi opor-opor bola boleh. Lihat orang kosong tu opor, jang muka bola. Wee… muka bola, ko makan bola sendiri sudah….” Begitu sudah.

“Suatu saat, sa akan mengharumkan nama daerah. Sa harus tampil di liga bergengsi Indonesia.” Itulah mimpi mereka.

Cinta mereka akan sepak bola mulai tumbuh subur hingga SMA. Ah… saya hampir lupa, sejak SD-SMA (antara tahun yang saya sebutkan tadi), mereka banyak membawa nama baik sekolah dalam berbagai turnamen, baik itu di dalam kabupaten maupun di luar kabupaten.

“Sa bangga kalo sa pu teman jadi yang terbaik.” Hans menjadi salah satu penyerang depan favorit saya. Saya selalu membicarakan sosok yang punya skill individual di atas rata-rata itu kepada orang lain. Bukan saya tinggi-tinggikan. Ini kenyataan. “Sa selalu gigit jari kalo Hans yang bawa bola. … Gol…Gol…Gol…”

Hans menyukai Robinho, pesepak bola professional asal Brasil. Sementara, Nomen menyukai Messi (pesepak bola / bintang Argentina dan Barcelona), Frengki menyukai Henry (pesepak bola professional asal Francis), Pilepin menyukai Inzaghi (pesepak bola professional asal Italia), begitu juga dengan yang lainnya. Masing-masing punya pemain favorit professional. Mereka berupaya menyamai diri mereka (melalui teknik bermain hingga style; penampilan, rambut, dll) dengan pemain favorit mereka. Ini gila, tapi merupakan suatu motivasi tersendiri bagi mereka “untuk menuju ke sana”.

Lepas dari SMA, mereka bermain di level yang lebih tinggi. Mereka pernah bermain di Persatuan Sepak Bola Indonesia Nabire (Persinab), Persatuan Sepak Bola Indonesia Paniai (Persipani), Persatuan Sepak Bola Indonesia Pegunungan Bintang (Persigubin), Persatuan Sepak Bola Indonesia Deiyai (Persidei), dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Dogiyai (Persido). Ada yang sempat bermain di Persipura U-15. Bahkan, ada juga yang pernah ikut seleksi untuk bermain di tim Mutiara Hitam. Beberapa di antara mereka menjadi buah bibir masyarakat.

Mimpi yang Dipadamkan

Biasanya, saat seleksi sepak bola dari wilayah Meepago (Paniai, Deiyai, dan Dogiyai, termasuk Nabire) diinformasikan, banyak pemain dengan hati senang datang mengikuti latihan. Setelah mengikuti latihan berdasarkan schedule yang ditetapkan, para pemain diseleksi tim pelatih. Nama-nama pemain yang dianggap memenuhi syarat (lulus seleksi) diberangkatkan untuk mengikuti turnamen Divisi (sekarang Liga) I, II atau III.

Persinab pernah lolos Divisi Utama (Liga 2). Sesuatu yang tidak seharusnya terjadi menjadi kenyataan dalam keluarga Persinab. Berdasarkan isu yang beredar, seorang pemain Persinab menjual Divisi Utama ke tim lain di Papua. Hal ini membuat pemain lainnya gusar. Akibatnya, perpecahan terjadi dan bubar.

Di samping egoisme pemain, tingkat koordinasi antar pengurus, pelatih, dan instansi terkait  kendur. Manajemen tim dan uang klub-klub sepak bola Meepago sangat buruk. Ini biasa terjadi setelah salah satu tim lolos dari sebuah divisi menuju ke divisi yang lebih tinggi. Banyak pemain (termasuk beberapa teman saya) mengeluhkan hal tersebut. Hati pemain siapa yang dengan rela menerima jika diperlakukan demikian?

Menyisakan Korban Bibit-Bibit Pesepak Bola

Mungkin, nasib berkata lain. Sungguh, karakter mereka dibunuh. Semangat untuk tampil lebih baik, mimpi untuk tampil di Indonesian Super League (ISL) (sekarang Liga 1), dan mengharumkan nama kabupaten ‘dibunuh’. Hal ini tidak terjadi sekali saja. Sangat disayangkan.

Saya menilai, sepak bola Meepago mati. Koordinasi antar pengurus buruk? Manajemen tim? Manajemen uang ‘bocor’? Tidak ada perhatian serius dari pemerintah kabupaten melalui instansi terkait? Kenapa ini terjadi? Mari kita “tanyakan pada rumput yang bergoyang”.

Semua putus di tengah jalan dan menyisakan korban bibit-bibit pesepak bola muda yang mau berkembang. Saya pikir, sepak bola versi ini tidak lagi menyehatkan mereka. Akibatnya, satu per satu mulai “atur jalan masing-masing”.

Disebutkan dalam status Nomen di dinding Facebook-nya belum lama ini, ada Taksen Giyai, Andi Pokuai, Ricky Kayame, Ambrosius Tagi, Albert Agapa, dan Emanuel Magai. Mereka juga korban, kecuali Ricky.

“Ricky Kayame (masih aktif bermain di Persipura), Hans Tekege (terakhir di Klub Divisi III 2013), Frengki Boma (terakhir di U-18 Persinab 2009), Ambo Tagii (terakhir di U-18 Persinab), Ferry Tekege (terakhir di Klub Divisi III 2012), Albert Agapa (terakhir di Klub Divisi III 2012),Taksen Giyai (terakhir di Klub Divisi I 2013), Emanuel Magai (terakhir di Klub Divisi I 2013), Andi Pokuai (terakhir di Klub Divisi III 2014), Melvin Douw (terakhir di Persipura U-15), dll.”

Liga 3 Zona Papua Buka Harapan

“Mimpi itu masih ada. Harapan itu tidak pernah hilang.” Beberapa di antara mereka sudah melupakan lapangan. Sementara, beberapa di antara mereka masih merumput di turnamen-turnamen sepak bola amatir.

Kali ini, klub sepak bola Meepago (Persipani, Persidei Putra FC, Persido Dogiyai, dan Persiintan) akan bermain di Liga 3 Zona Papua. Banyak pemain muda yang diboyong tiap pelatih dari klub-klub tersebut. Nomen ikut merumput bersama tim Lembah Hijau. Selain Nomen, setidaknya ada beberapa pemain muda yang diboyong pelatih top Meepago yang kini melatih Persido, Gat Tekege.

Yah, kami (orang Meepago) wajib memberikan support dalam bentuk apapun. Semoga liga yang juga memperebutkan piala Gubernur Papua ini membuka harapan bagi sepak bola dan pesepak bola Meepago.

Terima Kasih Gat Tekege

Berkat keoptimisan pelatih Gat Tekege, ternyata beberapa pemain ditawarkan bermain di liga besar, salah satunya Agus Iyai. Sebelum kompetisi usai, pemain tersebut langsung dibawa ke Malaysia untuk bermain di liga Malaysia. Pemain lainnya, seperti Ricky Kayame yang kini masih bermain di Persipura Jayapura, adalah pemain yang murni dibina sejak kecil oleh pelatih Gat Tekege. Asuhannya yang lain masih berputar di liga divisi utama dan liga amatir nusantara, sekarang Liga I-II. Gat Tekege adalah pelatih yang hebat. Dia tidak pernah mengharapkan apapun dari pemain, selain menjadikan dirinya bangga karena tim asuhannya bemain baik di tingkat profesional dan menjadi yang terbaik.

Ini sebuah potongan tulisan Nomen yang dipublikasikan di Majalah Beko belum lama ini. Memang benar, Gat Tekege adalah sosok pelatih Meepago di Nabire yang handal. Terima kasih.

Akhirnya…

Masih ada banyak bibit pesepak bola (Papua) di daerah Meepago yang bisa dikatakan gagal karena kurang adanya pemberdayaan (juga pengkaderan) sumber daya manusia (SDM) selain uang dan hal-hal yang sudah saya permasalahkan tadi. Jelas, mereka tidak gagal skill. Saya tidak tahu progress sepak bola daerah lain di Papua, jadi maaf.

“Sa pu hati tapukul. Sa turut prihatin.” Ini sa pu coretan kecil untuk kalian; teman-teman ‘gila bola’. Kalian pesepak bola terbaik yang saya kenal. Semoga ada oknum-oknum atau pihak-pihak (di daerah) yang ringan kepala dan tangan untuk mewujudnyatakan mimpi-mimpi kalian (yang masih ingin merumput).

*) Penulis adalah anak jalanan dan bekerja di Majalah Beko
Untuk Kalian, Pesepak Bola Terbaik yang Saya Kenal Reviewed by Majalah Beko on 01.41.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.