BREAKING NEWS

Berita

Hidup Tak Sampai di Sini

Oleh : Emanuel Enaibo Ukago
Ilustrasi (Dok. penulis)
Ketika ku susuri setapak jalan, begitu banyak lika-liku jalan yang ku jumpai. Ada kala ku terjatuh, ada kala ku tercungkir, dan ada kala pula ku menangis. Seketika itu pula, ku berusaha tuk bangkit kembali. Saat ku terbangun dan bangkit kembali, ku menoleh dari manakah ku awali perjalanan ini dan ku pandang akan ke mana akan ku melangkah. Apakah ku berhenti sampai di sini atau ku tetap berusaha tuk tempuh jalan yang begitu panjang ini? Di hadapan ku masih panjang jalan yang harus ku lalui. Itu terlihat dengan begitu jelas.

Ku berpikir sesaat, Jikalah ku berhenti sampai di sini, hidup ku pun akan berakhir sampai di sini. Dengan begitu, ku langkahkan kaki dengan tegak dan ku mulai susuri jalan tersebut. Namun, yang ku hadapi lebih berat dari pada yang ku hadapi di awal jalan cerita. Walaupun demikian, aku terus berjuang tuk menempuh jalan tersebut, dengan keringat yang jatuh membasahi seluruh tubuh ku, seakan membakar seluruh dahagaku tuk tetap berjuang. Saat ku telusuri jalan tersebut, banyak hal yang ku jumpai.

Seketika ku terjatuh, ada yang memegang tanganku tuk tetap berdiri. Seketika ku menangis, ada juga yang menghapus air mataku. Seketika keringat menguasai seluruh tubuhku, ada pula orang memberikan seuntaian kain tuk membersihkan wajahku agar ku dapat melihat dengan jelas arah jalan yang akan ku tempuh itu.

Seketika ku berhenti sejenak tuk melepas lelahku, datanglah seseorang menghampiriku.

Sedang apa kau di sini anak muda?
Saya sedang beristirahat untuk melepas lelahku, pak.
Memangnya anak dari hendak mau ke mana?
Aku hanya menelusuri jalan ini, entah di mana ku akan jumpai ujungnya, pak.
“Nak, jikalau engkau berniat tuk menelusuri jalan ini dengan sunggguh-sungguh, alangkah baiknya nak membawa batu kapur ini. Jikalau menjumpai sebuah batu, hendaklah nak menulis sesuai dengan batu ini sebagai sebuah kenangan yang nak tinggalkan dalam perjalanan yang nak akan tempuh nanti. Sebab, suatu saat, nak melintasi area yang mana nak sudah tempuh ini dengan ukiran yang nak tinggalkan di batu-batuan. Itu menjadi sebuah barang bukti dan semua ini akan menjadi sebuah pengalaman bagi nak suatu saat nanti. Sebab, tanpa pengalaman, orang tak mampu bertahan. Pengalaman adalah guru yang terbaik dalam hidup ini.”

Seusai berkata demikian, bapak tua itu hendak pergi dari sisiku. Aku mulai menganalisis semua kata yang disampaikan oleh bapak tua itu. Namun, hanya sesaat saja, ku tak mampu menganalisis semua kata-kata itu. Seketika ku mulai berdiri dan melanjutkan perjalanan, ada beban pikiran yang menjadi pr bagiku. Perjalanan pun mulai ku tempuh. Saat itu, aku pun menuruti semua perkataan, seperti yang telah dikatakan oleh bapak tua itu. Seketika ku jumpai batu, ku mengukir sesuatu, entah itu apa, yang terpenting bagiku adalah hal yang muda tuk ku ingat.

Begitu panjangnya jalan yang ku lalui. Begitu banyak kekuatanku yang terkuras. Namun, masih saja ku belum mampu menemukan akhir dari perjalanan yang sedang ku jalani ini.

Aku mulai beranjak dewasa. Saat ku melanjutkan bangku studiku di salah satu perguruan tinggi, barulah ku mulai menyadari apa yang telah dikatakan oleh bapak tua itu. Perjalanan yang ku telah tempuh itu hanya masa laluku, dari mana aku dilahirkan hingga sekarang ini, semua yang telah ku ukir di sebuah batu dengan batu kapur, adalah seluruh pengalaman dan pelajaran dari SD hingga SMA.

Semua perjalanan yang pernah ku tempuh hanyalah pengalaman-pengalaman dan menjadi motivasi saat ini. Sebab, akhir dari pada jalan yang sedang ku tempuh ini masih belum ku temukan akhirnya.

Aku bertanya kepada setiap orang yang ku jumpai. Tapi, mereka selalu berkata, Tanya diri Anda sendiri dan bertanyalah pada Tuhan.

Ketika ku berlutut dan berdoa pun, tak ada jawaban yang ku dapati. Seketika itu, aku mulai menyadari dan mengingat seuntaian kata yang dikatakan oleh (seorang) pepatah, “Kita dilahirkan memang hanya sekali, tapi kita hidup setiap hari”. Dengan demikian, ku mulai menyadari bahwa, akhir dari pada perjalan ini adalah hanyalah takdir akhir hayat nanti. Dengan itu, aku mulai  bangkit dan tegakkan langkah kaki ku, entah akan ke mana arah ku dan sampai di mana akhir dari perjalanan ini.

*) Penulis adalah mahasiswa Unipa dan anggota IMPT Manokwari
Hidup Tak Sampai di Sini Reviewed by Majalah Beko on 09.01.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.