Breaking News

Berita

Pejuang dari Balik Gunung

Oleh : Emanuel Enaibo Ukago
Ilustrasi (Dokumen Penulis)
Berawal dari harapan dan impian yang membara, aku mulai melangkahkan kaki dari dusun kecilku yang terletak di pinggiran danau.

Aku mulai melintasi perjalanan yang begitu panjang, yang hampir menguras seluruh kekuatanku. Aku melintasi gunung-gunung yang menjulang tinggi dan lembah-lembah yang membentang luas di hadapanku. Dengan tak kenal lelah, aku tetap pijakan kaki melintasi seluruh lintasan dan tibalah di tepian laut yang membuat diriku melepaskan lelah perjalananku.

Aku mulai bangkit berdiri dan memikirkan akan ke mana arah langkahku harus berpijak. Aku pijakan kaki ke arah timur dan menaiki sebuah kapal untuk menyebrangi lautan yang begitu luas, yang terbentang di atas Samurdra Pasifik. Tibalah aku di pelabuhan. Aku dijemput oleh saudaraku yang tinggal di sebuah panti asuhan.

Aku di ajak saudaraku ke panti asuhan di mana saudaraku tinggal. Setibanya di sana (panti asuhan), aku disambut baik oleh saudara-saudara yang tinggal di panti asuhan tersebut.

Seharian, sudah kami duduk bercerita sambil saling mengenal satu sama lain. Mereka mencintaku.

Kenapa sodara tidak diantar oleh bapa atau mama sodara?” seorang bertanya kepadaku.

Lalu, aku menceritakan perjalananku. Aku mulai bercerita dari awal ku pijakan kaki hingga tiba panti asuhan. Ayah dan ibu sudah lama berpisah saat aku berumur 3 tahun dan saudari perempuanku berumur 1 tahun. Aku dan saudariku tinggal bersama ayahku. Saat aku berumur 5 tahun, ayahku meninggal dunia. Nenekku mengambil aku dan saudari perempuanku untuk tinggal bersamanya. Nenekku sangat menyayangi kami berdua seakan seperti anaknya sendiri.

Tibalah hari Natal. Pada tanggal 26 Desember, bertepatan dengan hari ulang tahunku, aku pulang dari gereja, nenekku dan saudari perempuanku telah menyiapkan hidangan makan malam sekaligus syukuran hari ulang tahunku.

Sesudah kami menyantap makan malam, nenek menyuruhku duduk. Nenek masuk kamarnya lalu keluar dari kamarnya. Aku melihat nenek memegang sebuah amplop di tangan kanannya. Nenek duduk di hadapanku lalu mulai menatapku.

Hai nak, ini hadiah ulang tahunmu dari nenek dan adikmu. Dalam amplop ini ada uang yang cukup tuk kau bisa mengejar harapan dan impianmu, nak,” tutur nenek kepadaku.

Aku tak mengerti apa yang dikatakan nenekku. Aku bertanya kepadanya, apa maksud nenek. Nenekku mulai bercerita. Nak, angkat mukamu dan pandanglah gunung itu. Di balik gunung yang menjulang tinggi itu, banyak hal yang engkau akan dapat dan pelajari di sana.”

Malam hari pun berlalu. Saat mentari pagi bersinar, aku duduk di halaman rumah dan memikirkan semua yang telah diceritakan nenek.

Tak terasa 5 bulan telah berlalu. Di suatu pagi, hari terakhir bulan ke-5, nenek memanggilku. Saat aku menghampiri, di sekeliling nenek ada tas bajuku yang selalu aku gantung di kamarku. Aku memendang nenek.

Nek, hari inikah awal dari perjuangan dari harapan dan impian yang nenek ceritakan? tanyaku. Iya nak, cepat bergegaslah dan siap-siap. Mobilnya sudah mau berangkat,” tutur nenek sambil menjatuhkan air matanya.

Aku mulai bergegas dan menyampaikan salam kepada nenek dan adik perempuanku. Aku pun tak mampu menahan air mata yang jatuh membasahi pipiku. Nenek mungusap air mataku sambil berkata,Seorang pejuang tak boleh menangis.” Itu adalah kata terakhir nenekku.

Ini yang ku ceritakan kepada saudaraku di panti asuhan itu.

Saat kami keasyikan bercerita, pengasuh panti asuhan menghampiri kami, lalu memanggilku. Aku diajak ke kamarnya. Dia memberikan sepasang baju seragam SD sambil berkata, “Nak, ukurlah baju itu karena lusa bapa akan mendaftar anak di sekolah Yayasan Khatolik. Aku sangat bergembira sampai aku memeluk bapak pengasuh.

Aku sangat bersyukur pada nenekku yang memberikan motivasi dan kepada Tuhan yang selalu menuntut hidupku hari demi hari.

Aku mulai merakit semua harapan dan impianku sejak awal. Begitu besar perjuangan yang mulai ku lalui hari demi hari.

Tak terasa 12 tahun telah berlalu. Tibalah saatnya aku mendengar hasil ujian SMA. Begitu bangganya aku saat mendengar bahwa namaku dipanggil dalam 10 besar. “Tak sia-sia hasil perjuanganku,” kataku dalam hati.

Aku pulang ke panti asuhan dan menunjukan hasil ujianku kepada bapak pembina panti asuhan. Bapak sangat senang melihat hasil ujianku.

Siang hari telah berlalu. Saat makan malam berlangsung, bapak pembina panti asuhan keluar dari kamarnya lalu memberi kami banyak motivasi.

Tak terasa, hanya menunggu malam hari berlalu, kami akan meninggalkan panti asuhan yang telah memberi kami banyak makna arti kebersamaan dalam hidup.

Keesokan pagi, sebelum kami bergegas meninggalkan panti asuhan, keluarlah bapak pembina panti asuhan sambil memegang beberapa amplob di tangannya. Saat itu, aku tertunduk dan menangis karena mengingat hal serupa yang pernah nenekku lakukan di saat hari ulang tahunku.

Bapak pembina panti asuhan berkata, Bapak bukannya tak sayang kalian, tapi tanggung jawab bapak terhadap kalian hanya sampai di sini. Tapi, bapak tetap doakan kalian agar menjadi orang sukses suatu saat nanti. Kami memeluk bapak dan berterima kasih atas cinta kasihnya yang telah menjaga dan membesarkan kami dengan tulus.

Bapak pembina memberikan amplob tersebut kepada kami lalu berkata, Ini adalah ongkos untuk kalian balik ke orang tua kalian dan menentukan akan ke mana kalian akan melanjutkan perguruan tinggi kalian.

Saatnya kami berpisah antara satu dengan yang lain. Kami beranjak pergi dari panti asuhan. Aku tak sabar dan ingin cepat pulang ke kampung halamanku untuk berjumpa nenek dan adikku.

Setiba di kampung halaman, aku sangat bahagia melihat nenekku yang masih semangat seperti dulu ku tinggalkan, dan adikku yang sudah besar. Sore harinya, aku bercerita tentang seluruh rangkaian hidupku selama 12 tahun di panti asuhan.

Seusai bercerita, nenekku menanyakan padaku, “Nak, ke mana engkau akan melanjutkan perguruan tinggimu?” Nenekku berkata seakan seperti seorang pejabat.

Jawabku kepada nenek. “Nek, biarlah tahun ini aku nganggur cari pekerjaan. Nanti aku sudah punya uang yang cukup, baru aku melanjutkan sekolahku. Kau mau cari pekerjaan apa, nak? tanya nenek. Nek, ada banyak pekerjaan.” jawabku percaya diri kepada nenek.

Saat pagi hari tiba, aku duduk di terminal taxi depan rumahku. Datanglah seorang sopir menghampiriku dan duduk di sampingku, lalu berkata, “Hai  anak muda, melamun apa pagi-pagi begini? Aku mulai mencuri kesempatan dan menceritakan persoalanku kepadanya yang sedang menunggu penumpang.

Mobilnya sudah dipenuhi penumpang. Sopir itu kembali berdiri dan berjalan mendekati mobilnya. Tak tahu ke mana aku harus mencari pekerjaan lagi. Saat aku menunduk kebingungan, sopir itu berbalik kepadaku dan menawarkan pekerjaan kepadaku.

Bersyukurlah aku saat sopir itu menawarkan pekerjaan padaku. “Nak muda, jika kamu mau, kamu jadi kondektur saya. Hasil pendapatan tiap hari, saya akan bagi 20 persen untukmu.

Aku menerima pekerjaan yang ditawarkan sopir itu. Aku jalani hari-hariku selama 2 tahun sebagai seorang kondektur. Aku mengumpulkan uang untuk melanjutkan perguruan tinggi.

Banyak hal yang ku pelajari dari sopir itu. Dia juga memberiku banyak motivasi dan dorongan positif. Aku menganggapnya sebagai bapakku.

Suatu hari, aku mendengar ada orang yang menceritakan bahwa ada tes SBMPTN di setiap daerah.

Aku pulang dan menceritakan apa yang ku dengar tadi kepada nenekku. Nenek sangat senang dan gembira mendengarnya. Keesokan harinya, aku temui bapak (sopir). Aku ceritakan semua yang aku dengar kemarin.

Nak, inilah kesempatanmu mengejar harapan dan impianmu, tutur bapak sopir kepadaku.

Bapak itu membantu mengurus semua formulir hingga usai aku tes. Satu bulan kemudian, hasilnya sudah di tempel di Dinas P & P. Bapak mengajakku bersama nenek dan adikku untuk pergi melihat hasil tesnya.

Di kantor Dinas P & P, kami mulai mencari namaku dengan harapan lulus. Dari sekian banyak peserta, namaku juga terdaftar dalam daftar nama yang lulus tes SBMPTN.

Seusai pulang dari Dinas P & P, aku mengambil celenganku. Aku memecahkannya dan menghitung jumlah uang hasil tabunganku. Uangnya cukup dari yang ku pikirkan. Sebagian dari uang tersebut hendak aku berikan kepada nenek. Tapi, nenek menolak dan menyuruhku menyimpan uang itu.

Lagi-lagi, nenekku memberikan sebuah amplop. Nak, ada uang sedikit untuk pakai tambah di uang tabunganmu. Tak lama kemudian, bapak (sopir) itu datang dan duduk di hadapanku dan memberikan sebuah amplob. “Nak, bapak tidak bisa bantu banyak walaupun selama ini nak sudah bantu bapak menjadi seorang kondektur bapak, tutur bapak (sopir) sambil memberikan amplop itu kepadaku.

Saatnya aku bergegas pergi melanjut pendidikanku di perguruan tinggi. Keluargaku mengantarku hingga di pelabuhan. Saat aku menaiki tangga-tangga kapal, bapak (sopir) itu memanggilku dan berkata, “Nak, jadilah kondektur yang setia dan baik dalam mengejar harapan dan impianmu.

Kapal pun melepas tali dan mengarahkan haluannya ke arah barat. Setibanya di pelabuhan tujuan, aku dijemput oleh saudaraku. Saudaraku itu tinggal bersebelahan dengan rumahku di kampung halaman. Keesokan harinya, aku bersiap-siap untuk pergi menyerahkan seluruh berkas-berkas di perguruan tinggi. Pihak kampus menerimaku dan di sinilah aku mulai menaruh seluruh harapan dan impianku di universitas yang bermoto “Pro Humanitate Scientia”; Universitas Papua (Unipa).

*) Penulis adalah mahasiswa, sedang kuliah di Unipa Manokwari
Pejuang dari Balik Gunung Reviewed by Majalah Beko on 22.57.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.