BREAKING NEWS

Berita

Pengenalan dan Pengolahan Pakaian Adat Suku Mee

Oleh : Daniel Badii
Ilustrasi (dok. penulis)
Pakaian adat budaya suku Mee adalah jati diri suku Mee yang diwariskan nenek moyang. Hingga saat ini, pakaian adat suku Mee biasanya dipakai saat pesta babi (Yuwoo) dan pesta adat lainnya.

Budaya adalah jati diri setiap suku bangsa di dunia yang dimiliki dan selalu dipakai sesuai budaya suku masing.masing. Suku Mee memiliki busana adat yang berbeda antara laki-laki dengan perempuan.

Pakaian adat laki-laki: bulu Kasuari (Waiyoo) dipakai di kepala, manik di leher (Dau/Dedege/Mege), gelang di tangan (Kagane), noken kecil yang melintasi dada (Amapa Kagamapa), noken yang digantung di kepala atau sebagai pembungkus kepala (Migabai), penutup kemaluan (Koteka), tali pengikat Koteka (Koteka Piti), anak panah (Ukaa Mapegaa), noken anggrek dan noken kulit kayu (Toya Agiya maa Bebi Agiya).

Pakaian adat perempuan: noken panjang yang dipakai menggantung di kepala belakang atau pembungkus kepala (Yatoo), noken kulit kayu (Bebi Agiya), pengalas tempat duduk atau biasa dipakai sebagai penadah hujan (Ebaa), dan penutup kemaluan (Mogee). Moge yang dipakai perempuan ada dua jenis, yaitu Dane Mogee dan Dugaa Mogee. Dane Mogee dipakai oleh perempuan dewasa (yang sudah kawin) atau ibu-ibu. Sedangkan, Duga Mogee dipakai oleh perempuan muda atau belum kawin.

Berikut ini ulasan pengolahan (pembuatan) pakaian adat suku Mee:
1. Waiyoo didapat dari hasil berburu di hutan. Bulu Kasuari yang panjang dicabut dan disimpan dalam air selama beberapa hari. Setelah itu dijahit dengan karet sesuai ukuran kepala pemakai. Setelah jadi, Waiyoo dipakai saat pesta budaya.
2. Manik-manik di leher (Dau, Dedege, Mege) dikumpulkan di tempat-tempat khusus,  seperti di batu-batuan (untuk Dau, Dedege) atau pinggiran kali (untuk kulit bia; Mege). Dau, Dedege, Mege diikat di sebuah tali, dibuat berbentuk bulat di bagian leher untuk dipakai oleh laki-laki dan perempuan.
3. Kagane dibuat dari rotan (dan Pupu) yang tumbuh di hutan. Rotan (Pupu) dibelah kecil-kecil lalu dijahit selang-seling dan dibuat sesuai ukuran tangan. Kagane yang sudah jadi biasa dipakai saat pesta adat.
4. Koteka berasal dari sebuah tanaman yang ditanam di pingiran rumah atau kebun (Bobe). Bobe yang sudah tua dipetik dijemur di api dan dikeluarkan bijinya menggunakan kayu.
5. Amapa Kagamapa: Kulit kayu (Bebi) dan anggrek dijemur di matahari. Setelah itu keduanya dibelah kecil-kecil dan dirajut selang-seling seperti noken, tapi pendek (lebih kecil dari noken).
6. Migabai dibuat dari kulit kayu tertentu. Kulit kayu dijemur. Setelah kering, kulit kayu dibelah kecil-kecil dan digulung seperti benang. Kulit kayu yang sudah jadi benang dirajut menjadi noken tanpa pengangan.
7. Koteka Piti dibuat dari kulit kayu berbentuk bulat dan disesuaikan dengan bentuk pinggang pemakai.
8. Ukaa Mapegaa digunakan untuk berburu atau membunuh babi, serta dipakai saat drama adat. Cara pembuatan Ukaa: Dibuat dari kayu tertentu yang ambil dari hutan. Kayu tersebut dibersihkan kulitnya dan dibelah tengah dan dipahat hingga permukaannya halus, setelah itu dimiringkan dan rotan dipasang. Cara pembuatan Mapegaa: dibuat dari bambu, ujungnya (penancap) dibuat dengan kayu tertentu dan diukir berduri atau dengan beberapa versi.  Penancap disambungkan ke bambu. Jadilah Ukaa Mapegaa.
9. Toyaa Agiya dibuat dari anggrek yang tumbuh di atas pohon dan kulit kayu. Anggrek dibelah kecil-kecil. Kulit kayu juga dibelah kecil-kecil dan digulung seperti benang. Kulit kayu yang sudah jadi benang digulung dengan anggrek dan dirajut hingga noken angrek jadi.

Berikut adalah proses pembuatan pakaian adat perempuan:
1. Yatoo dibuat dari kulit kayu berbentuk noken besar. Rajutannya bisa memakan waktu dua minggu.
2. Bebi Agiya digunakan untuk mengisi barang-barang. Bebi Agiya dibuat dari kulit kayu tertentu, seperti kulit Genemo, kulit Sukun, dll.
3. Mee Ebaa dibuat dari daun tertentu, seperti daun Yage, Koka, Moyake. Daun tersebut dikumpul lalu dipanaskan di api hingga layu. Setelah itu, dijahit dengan akpen (Keipoo) hingga menjadi Mee Ebaa yang siap digunakan.
4. Pembuatan Danee Mogee: Kulit kayu dibelah kecil-kecil dan digulung besar (sebuah kulit panjang melintas di bagian pinggang) dan diikat di tali besar yang diturunkan dengan tali yang berbeda ukuran (panjang dan pendek). Yang panjang akan dilipat dan ditarik kembali bagian belakang. Yang pendek diluruskan ke bagian depan. Pembuatan Dugaa Mogee: Kulit kayu dijemur hingga kering dan dibelah kecil-kecil lalu digulung. Tali besar diikat di bagian pinggang, sisanya diluruskan ke bawah mengelilingi badan.

Inilah pengenalan dan pengolahan pakaian adat suku Mee, Meeuwodidee di Pegunungan Tengah Papua.

*) Penulis adalah Mahasiswa Stikom Muhammadiyah Jayapura
Pengenalan dan Pengolahan Pakaian Adat Suku Mee Reviewed by Majalah Beko on 15.27.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.