Breaking News

Berita

PT IKS Hanya Janjikan “Gula-Gula Manis” terhadap Suku Moi Segin di Kabupaten Sorong

Oleh : Fecki Wilzson Mobalen *)
Surat Perjanjian Kerja PT IKS. Foto: Dokumen penulis.
Berikut ini tulisan saya tentang PT Inti Kebun Sejahtera (IKS) yang hanya menjanjikan “gula-gula manis” atau penipuan terhadap Suku Moi Segin di Kabupaten Sorong. Tulisan ini merupakan hasil investigasi saya dalam beberapa hari terakhir di wilayah Moi Segin, yang kemudian akan dikampanyekan untuk mendesak DPRD Kabupaten Sorong agar segera mensahkan Peraturan Daerah (Perda) Pengakuan Masyarakat Hukum Adat (MHA) atau hak ulayat masyarakat adat Moi.

PT IKS yang beroperasi di wilayah Moi Segin Salawati daratan sejak 2008 hanya memegang Hak Guna Usaha (HGU) atas tanah seluas 4.000 hektar. Namun sekarang  ini, sebagian besar dataran itu dipenuhi kebun sawit. Hal ini berawal dari Kementerian Kehutanan RI yang telah menyetujui pelepasan kawasan hutan seluas 19.665 hektar pada September 2012 lalu. Ini memberi peluang besar-besaran bagi investor sawit.

PT IKS melakukan penebangan lahan sejak tahun 2007 di Modan, berlanjut dengan penanaman sawit pada tahun 2008 di Klasof, dan berkembang di beberapa wilayah, seperti Kilo 11, Kilo 12, Klasof, Modan, Klasari. Pada tahun 2016, terjadi pembongkaran hutan di Seget dan pada tahun 2017 barulah PT IKS melakukan penanaman sawit.

Hampir semua wilayah-wilayah tersebut mempunyai persoalan yang sama, yaitu PT IKS menjanjikan kesejahteraan bagi pemilik hak ulayat yang melepaskan lahannya untuk dijadikan kebun sawit.

Hal ini terjadi pada marga Sawat di devisi PT IKS Kampung Klasari. PT IKS menjanjikan akan membangun rumah, memberikan mobil, menanggung biaya pendidikan anak sekolah, dan kesehatan bagi marga Sawat sebagai pemilik hak ulayat. Namun, sejak PT IKS menanam investasinya, belum satu pun kesejahteraan yang dijanjikan kepada marga Sawat terbukti. Marga Sawat masih menunggu kesejahteraan yang dijanjikan PT IKS.

Tahun 2015, marga Sawat sudah mendapatkan hasil-hasil dari plasma yang dibagikan PT IKS sebesar 20%. Namun, hasil itu masih dipotong dari pihak perusahaan. Pada Januari 2016, hasil panen dari 20% plasma mencapai 14,23 ton. Pihak perusahaan tidak menyampaikan harga penjualan hasil tersebut secara terbuka kepada pemilik hak ulayat. PT IKS masih membayar memakai sistem talangan, seolah-olah belum ada hasil dan dibayar pun masih mengunakan luas  lahan. Sedangkan, hasilnya tidak dibayar. Dan, surat perjanjian kerja dibuat untuk ditandatangani oleh kedua belah pihak. Ini sangat tidak masuk akal. Di dalam isi perjanjian itu tidak dimuat sedikit pun hak-hak ulayat. Naskah perjanjian itu hanya memuat tentang hak-hak perusahaan yang harus disetujui oleh pemilik hak ulayat.

Persolan yang sama juga terjadi di marga-marga lain, tempat PT IKS melakukan ekspansi perkebunan sawit.

Jelas terlihat, bahwa PT IKS melakukan penipuan bagi pemilik hak ulayat yang memberikan lahannya untuk perusahan sawit. Yang jelas dan ril terjadi adalah sebagai berikut:

1. Penipuan,
2. Perampasan,
3. Kerusakan lingkungan,
4. Esensi ruang hidup hilang,
5. Kemiskinan bagi hak ulayat, dan
6. PT IKS adalah kapitalis bagi Suku Moi Segin.

Melihat berbagai permasalahan di atas, saya merekomendasikan atau menyarankan agar pihak DPRD Sorong beserta Pemerintah Kabupaten Sorong segera sahkan Perda Pengakuan MHA. DPRD harus segera membentuk tim pansus sebagai pengecek PT IKS dan mendesak untuk segera membayar sesuai dengan hasil panen.

*) Penulis adalah anak jalanan Sorong
PT IKS Hanya Janjikan “Gula-Gula Manis” terhadap Suku Moi Segin di Kabupaten Sorong Reviewed by Majalah Beko on 21.57.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.