Breaking News

Berita

Kitong Budak di Tanah Surga

Oleh : Jhon Iyai
Ilustrasi. Foto: Pin Illustration/Ist.
Sang surya mulai menuju peraduannya, menampakan seberkas cahaya, melukis senja indah di Pantai Selatan Pulau Papua. Sore itu, terlihat lalu lalang para nelayan yang sibuk menjajakan hasil tangkapannya. Banyak orang mengerumuni mereka. Saya pun mendekat, ingin memastikan dari dekat tentang apa yang terjadi.

Yang ini mas pu bagian, kalo yang tong pu bagian yang tong mo jual”, jelas  salah satu nelayan.

Mendengar dan melihat itu, saya penasaran. Mengapa hasil tangkapan mereka dibagi dua. Kemudian diberikan secara gratis.

Dengan rasa penasaran yang tinggi, saya bertanya, “Kenapa hasil tangkapan harus bagi dua kasih gratis saja”, tanyaku.

Ade kitong di sini trada perahu motor dan bensin jadi tong pake orang Bugis dong punya baru tong pigi cari. Hasil tangkapan kitong bagi tengah. Sebagian tong kasih yang punya perahu, terus yang punya bensin terus sedikit untuk kitong. Yang kitong pu bagian itu juga harus jual sama dorang tra bisa orang lain”, begitu penjelasannya.

Ternyata, mereka (nelayan-nelayan yang notabenenya orang asli Papua) itu tidak punya fasilitas perahu motor dan bensin terbatas. Akhirnya, mereka dikerjakan sebagai buruh yang mencari hasil laut; keraka (kepiting), ikan dan udang. Hasil tangkapan itu mereka bagi tengah untuk jasa perahu motor dan bensin. Sisanya untuk mereka. Itu pun mereka jual lagi kepada pemilik bensin dan perahu motor. Mereka tidak bisa menjual pada orang lain.

Nelayan-nelayan itu adalah buruh yang dikerjakan oleh orang-orang Bugis yang meraup keuntungan di atas negeri mereka sendiri. Sementara, masyarakat lokal yang punya gunung emas, dana otsus dijadikan sebagai budak. Lembaga-lembaga masyarakat yang ada pun tidak memberikan kontibusi yang postif.

Di Tanah Papua, semua bekerja untuk uang. Soal kemanusiaan itu nomor terakhir. Yang penting bisa dapat uang dan bisa kaya cepat. Sementara, matahari semakin meredup, kembali ke peraduannya. Entah kapan sang mentari yang hadir lebih dulu di tanah ini bisa bersinar dengan membawa senyuman bagi penduduk pribumi yang menghuninya. Entahlah, andai sang waktu bisa menjawab.
Kitong Budak di Tanah Surga Reviewed by Majalah Beko on 18.41.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.