BREAKING NEWS

Berita

Antropologi yang Membebaskan

Oleh : I Ngurah Suryawan *)
Penulis. Foto: Dok. Penulis.
Prof. Dr. P.M. Laksono, M.A, guru besar antropologi budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta mengungkapkan beberapa pokok pikiran penting yang berhubungan dengan posisi antropologi dalam transformasi sosial budaya. Isu-isu metodologi dan ontologi yang menentukan pilihan perspektif kebudayaan menjadi sangatlah penting. Salah satunya yang menjadi isu penting adalah cara berpikir antropologi reflektif yang bersumber dari perspektif emansipatoris dan partisipatif dalam melihat masyarakat dan juga proses reproduksi kebudayaan yang berlangsung dinamis dan bergerak menyejarah. Ilmu antropologi juga dituntut peranannya dalam “memaknai” proses perubahan sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Kerja ilmu antropologi pada dasarnya adalah memahami sang liyan, the others, subyek penelitian dan proses pembentukan kebudayaan sebuah komunitas. Namun perdebatan paradigma antropologi sangat dinamis, seperti juga perkembangan ilmu ini yang terus-menerus tanpa henti mencari identitasnya. Namun ada satu hal yang disepakati adalah persoalan metodenya yaitu kerja lapangan yang panjang dengan obsesi memahami sang liyan tadi, subyek penelitian pada komunitas masyarakat yang ditelitinya. Namun siapa sang liyan dan apa itu kebudayaan perdebatan yang terjadi dalam antropologi terus-menerus berlangsung silih berganti.

Geertz (1992) seperti diuraikan oleh dalam Laksono (2011:2) menggambarkan kebudayaan sebagai jaring-jaring makna yang dirajut manusia sendiri dan sama-sama dimengerti oleh para partisipannya sehingga bersifat publik. Dalam bahasa Laksono sering diungkapkan bahwa kebudayaan adalah itu adalah semua yang kita tahu sama tahu (TST) dimana aktualisasi kebudayaan dalam kehidupan sehati-hari amat sangat beragam dan bidang yang dihasilkannya pun sangat luas sekali.

Bagi Geertz, obyek studi antropologi adalah sejarah pembentukan pengertian (notion formation), yang didalamnya kebudayaan dipandang sebagai suatu proses yang kabur dan tidak selesai. Kemudian, anytropologi memilah-milah apa yang domestik dari yang impor, daging dan koyor dari tulang, dan yang usang dari yang baru (tiba). Pekerjaan ini tentu saja merupakan urusan yang terus menerus tanpa banyak mengandalkan aturan atau rencana sistematik. Kesimpulannya pun hanyalah jeda (semau-mau) antara ketika seseorang tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan, dan ketika ia, secara sama semuanya, akan beralih perhatian (pada rajutan/ budaya lain). (Geertz 1995: 57 dalam Laksono, 2011: 2-4). Seperempat abad sebelumnya Geertz mengatakan analisis kebudayaan adalah (atau seharusnya) menerka makna-makna, menaksir terkaan-terkaan itu, dan menarik kesimpulan-kesimpulan eksplanatoris dari terkaan-terkaan yang lebih baik, bukannya menemukan benua makna dan memetakan pemandangan nya yang tak berwujud itu. Bahkan Geertz melukiskan bahwa antropolog (etnografer) seperti mengkonstruksi gajah misterius, agak gaib, dan tinggal jejak kakinya saja yang ada dalam pikiran kita.

Geertz mengajukan argumen tentang After the Fact (rumusan setelah kejadian), sebuah teka-teki ganda, dua lipatan kias (simbolik) pada suatu makna nglegena (literel, apa adanya). Lipatan pertama teka-teki itu berisi tafsir retroaktif atau kilas balik. Tafsir ini melihat bahwa gejala yang dihayati ke depan dan dipahami ke belakang. Ini menjadi sebuah keniscayaan dalam antropologi. Pada lipatan kedua yang lebih problematik daripada sebelumnya, teka-teki ini lebih bersifat post-positifis atas realisme ampirik, yaitu gerakan menjauh dari teori-teori koresponden kebenaran dan pengetahuan yang menyebabkan istilah fakta sebagai suatu urusan yang rentan. Geertz kemudian menemukan tidak ada jaminan untuk suatu kata akhir atas persoalan (budaya) yang tidak terbatas di antara orang-orang yang sedemikian berbeda –beda pula.   

Antropologi dan Transformasi

Di tengah kompleksitas persoalan itulah antropologi dituntut untuk menemukan terobosan-terobosan yang berhasil untuk menafsirkan gejala-gejala perubahan sosial budaya yang terjadi di tengah masyarakatnya. Salah satu isu yang penting adalah bagaimana melibatkan ilmu antropologi menjadi bagian dari masyarakat, membebaskan orang-orangnya, dan menjadi “senjata” bagi orang-orang yang dikalahkan oleh kekuasaan. Oleh sebab itulah sepatutnya antropologi memikirkan untuk membuka jalan penelitian alternatif transformatif partisipatoris. Penelitian ini melibatkan si peneliti secara partisipatoris ke dalam subjek penelitiannya. Partisipasi observasi dilakukan untuk membangun argumentasi dan teori dari data-data lapangan yang diperoleh si peneliti bersama dengan subjek penelitiannya. Si peneliti menggunakan metode reflektif dengan bersama-sama subjek penelitian membangun pola relasi untuk bersama-sama merumuskan persoalan yang terjadi dan memberikan argumentasinya. Metode penelitian ini tergolong penelitian alternatif transformastif partisipatoris yang percaya bahwa kenyataan itu bersifat partisipatif yang diciptakan oleh (hubungan) pikiran dan lingkungan yang ada. Inilah yang disebut dengan “subyektifitas kritis” yang terjadi melalui transaksi partisipatoris dengan lingkungan. Metode penelitian etnografi yang akan dihasilkan dalam penelitian ini memuat proses reflektif daripada temuan bebas nilai yang obyektif. Dalam bahasa Laksono (2009: 4), peneliti maju bersama komunitas yang ditelitinya dalam suatu proses sosial-budaya menjalin sejarah (baru). Dengan demikian, metode penelitian ini menjadikan studi antropologi menjadi bagian dari gerakan sosial komunitasnya dan dituntut berpartisipasi dalam menciptakan sejarah yang menyatu dengan komunitas tempatan studi berlangsung.

Dalam ranah praksis, kerja antropologi reflektif mesti dikerjakan secara berkelanjutan dengan mengapresiasi pengalaman-pengalaman dan narasi reflektif identitas yang berbeda-beda. Penting juga diajukan kerja partisipatoris bersama-sama masyarakat tempatan untuk melakukan studi etnografi bersama yang memberikan ruang dan sekaligus mengapresiasi pengalaman-pengalaman masyarakat tempatan untuk bersiasat di tengah terjangan kekuatan kapital global. Oleh karena itulah menjadi penting untuk menghargai “ruang antar budaya” untuk menumbuhkan kesadaran keberbedaan, melihat identitas diri kita pada masyarakat tempatan lain yang sebelumnya “asing” atau kita anggap “terkebelakang” dibanding identitas budaya kita.

Antropologi, dengan pendekatan reflektif yang transformatif memang tidak akan pernah bebas nilai. Antropologi reflektif lahir bersama-sama rakyat untuk berpolitik dalam membangun sejarah baru. Oleh karena itulah, antropologi reflektif yang mendasarkan dirinya pada gerakan sosial, bekerja bersama-sama untuk menemukan “diri masayakarat” dan juga “diri si antropolog”. Kerja antropologi yang hanya “mengatasnamakan rakyat” akan tercerabut dari refleksi masyarakat tempatan yang ditelitinya. Penafsiran yang dihasilkannya hanya akan memantik relasi kekuasaan dan kekerasan.

Dalam ranah praksis, kerja antropologi reflektif mesti dikerjakan secara berkelanjutan dengan mengapresiasi pengalaman-pengalaman dan narasi reflektif identitas yang berbeda-beda. Penting juga diajukan kerja partisipatoris bersama-sama masyarakat tempatan untuk melakukan studi etnografi bersama yang memberikan ruang dan sekaligus mengapresiasi pengalaman-pengalaman masyarakat tempatan untuk bersiasat di tengah terjangan kekuatan kapital global. Oleh karena itulah menjadi penting untuk menghargai “ruang antar budaya” untuk menumbuhkan kesadaran keberbedaan, melihat identitas diri kita pada masyarakat tempatan lain yang sebelumnya “asing” atau kita anggap “terkebelakang” dibanding identitas budaya kita.

*) Penulis adalah antropolog dan dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Bukunya, “Suara-Suara yang Dicampakkan: Suara Kritis dari Tanah Papua” (2017 –  segera terbit)
Antropologi yang Membebaskan Reviewed by Majalah Beko on 20.22.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.