Breaking News

Berita

Deiyai Berdarah, Ini Tanggapan BEM dan Mahasiswa Uswim Nabire

Pamflet pernyataan sikap BEM dan mahasiswa Uswim Nabire. Foto: AP/Beko.
Nabire, MAJALAH BEKO - - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan mahasiswa Universitas Satya Wiyata Mandala (Uswim) Nabire menyatakan tanggapan dan sikap atas kasus penembakan di Kampung Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai pada 1 Agustus 2017 lalu atau yang dikenal dengan “Deiyai Berdarah”.

Alfrith Pekei, perwakilan BEM Uswim Nabire menyayangkan kasus penembakan ini. Menurut Pekei, kasus pelanggaran HAM yang dilakukan Brimob setempat ini justru mencemarkan nama Indonesia, khususnya Kepolisian di dunia internasional.

“Insiden Deiyai Berdarah ini adalah suatu pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Brimob, apalagi menggunakan alat negara (senjata), jadi otomatis ini sangat mencemarkan harga diri negara kita, Republik Indonesia di mata dunia internasional,” katanya kepada majalahbeko.com, Minggu (6/8/2017) siang di Nabire.

Aparat keamanan di Papua, khususnya di Deiyai, tambah Pekei, melawan tugas dan tanggung jawab utama yang diberikan instansi Kepolisian Indonesia.

“Kehadiran keamanan di suatu tempat atau daerah itu kan untuk melindungi dan mengayomi rakyat yang mendiami daerah tersebut, namun realitanya malah menembak dan membunuh,” katanya.

Lanjut Pekei, “Jadi kami sampaikan, jangan saling membunuh di antara kita kalau tidak bisa menciptakan manusia.”

Dengan tegas dikatakan Pekei, BEM dan mahasiswa Uswim Nabire meminta surat ijin usaha PT Dewa Krisna dan PT Dewa Ray segera dicabut dari Deiyai, serta Brimob. Ia juga meminta para pelaku diproses sesuai hukum yang berlaku.

“Kami selaku BEM dan mahasiswa Uswim dengan tegas menyatakan, pemerintah segera cabut surat ijin usaha PT Dewa Krisna dan PT Dewa Ray dari Kabupaten Deiyai dan Kapolda segera tarik kembali satgas dari Kabupaten Deiyai serta segera proses para pelaku sesuai undang-undang yang berlaku,” pinta mahasiswa Uswim itu dengan tegas.

Hal senada disampaikan Stepanus Pekei, mahasiswa Uswim Nabire.

“Kami berduka dengan penembakan warga sipil di Deiyai. Makanya, kami minta segera cabut ijin usaha PT Dewa Krisna dan PT Dewa Ray dari Kabupaten Deiyai. Kami juga minta supaya Brimob di Deiyai segera ditarik. Pelakunya sudah jelas. Mereka harus dihukum sesuai hukum Indonesia,” katanya.

Selain itu, BEM dan mahasiswa Uswim menulis empat pernyataan sikap dalam rilis yang diterima media ini. Berikut empat pernyataan sikap tersebut:

Pernyataan Sikap BEM dan Mahasiswa Uswim Nabire Terhadap Insiden Deiyai Berdarah 1 Agustus 2017 oleh Brimob

Kami BEM dan mahasiswa Uswim dengan tegas menyatakan:

Pertama; Pemerintah Kabupaten Deiyai segera tarik surat ijin usaha PT Dewa Krisna dan PT Dewa Ray dari Kabupaten Deiyai dan dipulangkan
Kedua; Pemerintah Kabupaten Deiyai dan Kapolda Papua segera tarik satgas Brimob yang ada di Kabupaten Deiyai  karena  dinilai dengan kehadiran Bimob bukan untuk melindungi dan mengayomi, namun meresakan masyarakat Deiyai
Ketiga; Kapolri dan Kapolda Papua segera proses pelaku penembak warga Kampung Oneibo, Kabupaten Deiyai, Papua  sesuai UU RI karena membunuh manusia menggunakan senjata (alat negara)
Keempat; Kami mohon, Komnas HAM segera advokasi masalah insiden penembakan ini

TTD
BEM Uswim Nabire

(Aten Pekei)
Deiyai Berdarah, Ini Tanggapan BEM dan Mahasiswa Uswim Nabire Reviewed by Majalah Beko on 12.50.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.