Breaking News

Berita

Ini Aksi-Aksi Solidaritas Soal Penembakan Oneibo di Beberapa Kota

Aksi-aksi solidaritas penembakan di Oneibo yang digelar di beberapa kota. Foto: Ist/Beko.
Nabire, MAJALAH BEKO - - Penembakan di Kampung Oneibo, Distrik Tigi, Kabupaten Deiyai pada Selasa (1/8/2017) sore memicu aksi-aksi solidaritas dari berbagai kalangan di beberapa kota di Indonesia, bahkan di luar negeri.

Penembakan yang dilakukan aparat Brimob ini mengakibatkan Yulianus Pigai, seorang warga sipil meninggal dan belasan lainnya luka-luka. Empat di antaranya (Delian Pekei, Marinus Dogopia, Yohanes Pakage, dan Penias Pakage) dirujuk ke RSUD Siriwini, Nabire karena kondisi mereka kritis.


Setelah dirawat selama dua hari, Delian Pekei dan Yohanes Pakage dirujuk ke RSUD Jayapura pada Jumat (4/8/2017) pagi. Pasalnya, sekitar tiga peluru yang berada di dalam tulang belakang Delian ini tidak bisa diatasi dokter spesialis bedah RSUD Nabire yang ditangani dr. Amos. Yohanes juga tidak bisa diatasi karena mengalami patah lutut akibat tembakan Brimob. Sementara, dua lainnya dirawat di RSUD Nabire dan telah dipulangkan karena kondisi kedua korban ini membaik.


Menyikapi hal tersebut, sejak Jumat (4/8/2017) lalu, berbagai kalangan melakukan aksi-aksi solidaritas di beberapa kota di Indonesia, bahkan di luar negeri. Ada dua aksi yang digelar, yaitu aksi mengecam tindak militerisme dan aksi duka 1000 lilin. Berikut aksi-aksi solidaritas yang dihimpun majalahbeko.com dari berbagai media massa:

Aksi Mengecam Tindak Militerisme

Di Manokwari, puluhan massa aksi yang tergabung dalam Solidaritas Mahasiswa, Pemuda dan Masyarakat Peduli (SMPMP) Hak Asasi Manusia (HAM) berunjuk rasa, Jumat (4/8/2017) di depan halaman Polda Papua Barat.

Di Jayapura, 500-an mahasiswa, pemuda, dan masyarakat yang tergabung dalam Solidaritas Pemuda Mahasiswa Rakyat-Peduli HAM Deiyai Papua (SPMR-PHDP) menduduki kantor DPR Papua, Selasa (8/8/2017) mendesak DPR Papua memperjuangkan penuntasan kasus penembakan di Oneibo.

Di Gorontalo, ratusan mahasiswa Papua yang terhimpun dalam Ikatan Mahasiswa Pelajar Indonesia Papua (IMPIP) dan Asosiasi Mahasiswa Pegunungan Tengah Papua Indonesia (AMPTPI) menggelar aksi damai, Selasa (8/8/2017) siang, meminta dukungan DPRD Gorontalo dalam penuntasan kasus-kasus pelanggaran HAM di tanah Papua.

Di Jakarta, Front Persatuan Mahasiswa dan Rakyat Anti Militerisme menduduki Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Rabu (9/8/2017).

Di Yogyakarta, puluhan massa dari Front Persatuan Mahasiswa dan Rakyat Anti Militerisme melancarkan aksi di sepanjang jalan Malioboro hingga Nol KM, Rabu (9/8/2017). Selain diisi oleh yel-yel dan orasi, aksi diisi dengan aksi teatrikal yang menggambarkan kekejaman militer terhadap rakyat Papua. Dalam aksi teatrikal tersebut, tiga orang Papua diikat lehernya kemudian diseret dan dianiaya sepanjang jalan oleh dua orang aparat Indonesia. Dalam aksi tersebut, aparat kepolisian melakukan mobilisasi secara berlebihan dan kembali bekerjasama dengan kelompok reaksioner, Paksi Katon, untuk mengintimidasi massa aksi.

Di Surabaya, aparat kepolisian menggunakan taktik pengepungan Asrama Papua untuk menggagalkan aksi solidaritas yang akan diselenggarakan, Rabu (9/8/2017). Taktik pengepungan ini diawal dengan menyelenggarakan apel pagi di depan Asrama Papua. Polisi kemudian melarang aksi solidaritas dengan alasan akan ada aksi tandingan dari organisasi massa (ormas) tertentu. Faktanya, justru aparat kepolisian sering sekali bekerjasama, melindungi dan menggunakan kelompok reaksioner untuk menyerang aksi-aksi dengan isu Papua.

Di Malang, puluhan Mahasiswa Papua yang tergabung dalam  Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme melakukan aksi damai di Bundaran Balai Kota Malang hari ini, Rabu (9/8/2017).

Di Semarang, Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme menggelar aksi dengan rute Patung Kuda Undip Pleburan menuju Seputran Simpang Lima, dan terakhir di Polda Jateng, Rabu (9/8/2017).

Di Fak-Fak, Solidaritas Peduli Deiyai terdiri dari GMNI & GMKI Cabang Fak-Fak melakukan aksi solidaritas, Rabu (9/8/2017) di Lampu Merah Thumburuni, Fak-Fak.

Selain itu, di Sorong, puluhan mahasiswa yang terbentuk dalam Forum Solidaritas menyambut detik-detik Proklamasi 17 Agustus (FSMD2P 17 Agustus) menggelar aksi di depan Thio Jalan Ahmad Yani, Kota Sorong, Jumat (11/8/2017).

Aksi Duka 1000 Lilin

Di Manokwari, puluhan mahasiswa Meeuwodidee (Kabupaten Paniai, Deiyai, dan Dogiyai) yang terhimpun dalam Tim Patroli Meeuwo Manokwari telah menggelar diskusi dan pemasangan 100 lilin, Jumat (4/8/2017) malam di Asrama Deiyai, Jalan Manunggal Besar, Amban, Manokwari, Papua Barat.

Di Jayawijaya, Solidaritas Kemanusiaan Jayawijaya menggelar aksi “1000 Lilin Jayawijaya for Deiyai” pada Sabtu (5/8/2017) malam di halaman kantor DPRD Jayawijaya, Jalan Yos Sudarso, Wamena Kota, Kabupaten Jayawijaya, Papua.

Di Bali, sejumlah pemuda melakukan aksi bakar lilin dan doa pengucapan duka cita, Sabtu (5/8/2017) bertempat di Monumen Perjuangan Rakyat Bali, Renon, Denpasar, Bali.

Di Jayapura, aksi pemasangan 1000 lilin yang digelar di seputaran Waena, Minggu (6/8/2017). Aksi ini dihadiri ratusan pemuda dan masyarakat, serta Badan Ekesekutif Mahasiswa (BEM) dan Majelis Pemusyawaratan Mahasiswa (MPM) Universitas Cendrawasih bersama organisasi OKP atau cipayung yang berada di Kota Jayapura.

Di Bandung, puluhan mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme di Kota Bandung menggelar aksi 1000 lilin di Taman Cilaki, Bandung, Senin (7/8/2017).

Di Malang, Mahasiswa Papua yang terhimpun dalam Front Persatuan Rakyat dan Mahasiswa Anti Militerisme menggelar aksi 1000 lilin di Sekretariat Ipmapapara Malang, Jawa Timur, Selasa (8/8/2017) malam.

Di Merauke, Komunitas Papuan Voices menggelar malam renungan, Selasa (8/8/2017) malam di gedung Gereja Katedral lama Fertenten Sai, Merauke.

Di Bogor, Aliansi Mahasiswa Peduli Masyarakat Papua menggelar doa dan penyalaan 1000 lilin di Tugu Kujang, Rabu (9/8/2017). Aksi ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai organisasi​ seperti Ikatan Mahasiswa Papua Bogor (IMAPA), Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI), Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), dan Pemuda Demokrat.

Di Jakarta, Front Persatuan Mahasiswa dan Rakyat Anti Militerisme menyalakan lilin di depan Istana Negara, Rabu (9/8/2017) malam.

Di Deiyai sendiri, Tim Peduli Kemanusiaan Deiyai menggelar renungan dan aksi pemasangan 1000 lilin di Deiyai pada Rabu (9/8/2017).

Selian itu, dalam laga Persipura versus Bali United, Rabu (9/8/2017), ribuan penonton menyalakan lilin sebagai simbol solidaritas untuk korban penembakan Brimob di Oneibo.

Lagi, di Jayapura, Solidaritas Pemuda Mahasiswa Rakyat-Peduli HAM Deiyai Papua (SPMR-PHDP) menggelar aksi 1000 lilin, Sabtu (12/8/2017) malam di Taman Imbi, Kota Jayapura, Papua.

Sementara, aksi yang direncanakan di Manokwari dan Nabire ditolak kepolisian setempat. Di Manokwari, Aliansi Mahasiswa dan Pemuda Papua, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Papua Barat, Dewan Adat Papua Wilayah III Doberai, Lembaga Masyarakat Adat Papua Barat, serta Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Papua (Unipa) hendak melakukan aksi 1000 lilin di lapangan Borasi, namun ditolak Polres Manokwari. Di Nabire, Selasa (8/8/2017), pemuda dan masyarakat yang terhimpun dalam Solidaritas Peduli HAM Kabupaten Nabire menyurati Polres Nabire. Surat tersebut berisi permohonan ijin (pengamanan) aksi bisu dan pemasangan 1000 lilin dalam rangka mendukung penuntasan kasus penembakan di Oneibo. Kedua aksi ini direncanakan akan digelar pada Jumat (11/9/2017) di Taman Gizi Nabire, dengan titik kumpul di depan Pasar Karang Tumaritis Nabire. Rabu (9/8/2017), dalam surat yang bernomor: B / 435 / VIII / 2017 / Intelkam, AKBP Sony Sanjaya, Kapolres Nabire menolak dan tidak menerbitkan Surat Tanda Terima Pemberitahuan (STTP).

Selain Indonesia, di China, mahasiswa Papua menggelar aksi pembakaran 1000 lilin sebagai bentuk kepedulian dan keprihatinan masalah HAM di Papua, khususnya soal Deiyai Berdarah 1 Agustus 2017.

Tuntutan Aksi Mengecam Tindak Militerisme

Dalam pernyataan tertulis yang diterima media ini, rentetan aksi mengecam tindak militerisme secara umum menuntut:

Pertama: Indonesia harus bertanggungjawab atas tragedi kemanusiaan di Deyai, Papua. Kedua: Tangkap, adili dan penjarakan pelaku penembakan yang menewaskan 1 dan lainnya luku-luka. Ketiga: Tutup PT Dewa dan perusahaan lainnya yang merupakan dalang kejahatan di tanah Papua. Keempat: Menolak rencana pembangunan pangkalan militer TNI AU dan Mako Brimob dari tanah Papua. Kelima: Tarik militer organik dan non organik dari tanah Papua. Keenam: Buka seluas-luasnya ruang kebebasan pers dan menyampaikan pendapat di muka umum. Ketujuh: Kepada PBB, berikan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Papua sebagai penyelesaian persoalan Papua sesuai hukum internasional.

(Aten Pekei)
Ini Aksi-Aksi Solidaritas Soal Penembakan Oneibo di Beberapa Kota Reviewed by Majalah Beko on 09.40.00 Rating: 5
All Rights Reserved by MAJALAH BEKO ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.