BREAKING NEWS

Berita

Kajian Humaniora dan Praktik Refleksi

Oleh : I Ngurah Suryawan *)
Penulis. Foto: Dok. penulis/Beko.
Kajian (penelitian) dalam ilmu-ilmu humaniora sangat memperhatikan bagaimana proses pemaknaan tersebut berlangsung di tengah masyarakat, yang menjadi subyek dari kajian tersebut. Oleh sebab itulah, proses pemaknaan (signifikasi) yang dimaksud tidak bisa dilepaskan dari konteks dimana proses tersebut berlangsung. Dengan demikian pemaknaan tidaklah pernah lepas dari konteks dan dengan demikian juga sangat subyektif. Masyarakat yang menjadi subyek pembentuk makna itulah yang menjadi perhatian dalam kajian-kajian humaniora.

Kajian-kajian humaniora termasuk dalam ranah penelitian kualitatif yang sangat mementingkan bagaimana pemaknaan tersebut terkonstruksi (terbentuk) sehingga menjadi wacana dalam masyarakat. Oleh sebab itulah kajian-kajian humaniora ini termasuk dalam ranah penelitian kualitatif yang sangat memperhatikan bagaimana data-data dari masyarakat terkumpul secara mendalam dengan metode wawancara mendalam ataupun etnografi dalam ilmu antropologi. Kedalaman data inilah yang diperlukan sebagai modal untuk melantunkan pemaknaan atau penafsiran dalam kajian-kajian ilmu humaniora, terkhusus antropologi juga sejarah dan sastra.

Nah, dalam usahanya menafsirkan data itulah, penelitian kualitatif ini praktis masih belum memiliki “kepastian” dalam usahanya untuk menafsirkan atau memberikan makna terhadap realitas-realitas sosial yang terjadi di tengah masyarakat. Berbagai metode atau cara mengumpulkan data dikembangkan oleh berbagai ilmu humaniora untuk dapat menggali kesemestaan makna yang terbangun dan hidup dalam keseharian masyarakat. Satu hal yang pasti adalah berbagai simbol-simbol dan praktik berkebudayaan adalah “subyek” pengetahuan dari ilmu-ilmu humaniora. Kekayaan “subyek” itulah yang menunggu untuk terus-menerus diberikan penafsiran sesuai dengan konteks ruang dan waktunya masing-masing. Ilmu-ilmu humaniora dan metode penelitian kwalitatif memiliki peranan yang strategis dalam mengakulumasikan pengetahuan di tengah masyarakat tersebut.

Namun sesungguhnya dalam ilmu-ilmu sosial humaniora, pengertian metode-metode kualitatif sesungguhnya kabur. John van Maanen (1983:9) menganggap metode kualitatif sebagai istilah payung yang meliputi pelbagai teknik tafsir untuk mendeskripsikan, mendekodekan, menterjemahkan dan usaha lain yang berhubungan dengan makna, bukan dengan frekwensi, dari gejala tertentu yang terjadi kurang lebih secara alami dalam dunia sosial. Katanya, bekerja secara kualitatif itu sama dengan menukar simbol-simbol linguistic dan dengan cara itu berusaha untuk mengurangi jarak antara yang diindikasikan dan indikatornya, antara teori dan data, antara konteks dan tindakan. Oleh karenanya bahan mentah untuk kajian kualitatif berasal dari peristiwa yang hidup, dekat dengan asalnya.

Ilmu antropologi misalnya sangat memperhatikan bagaimana proses pemaknaan berlangsung dan bagaimana juga relasi (hubungan) yang tercipta di tengah masyarakat. Proses pemaknaan dan hubungan-hubungannya di tengah masyarakat hanya bisa diperhatikan melalui observasi di lapangan. Dalam ilmu antropologi proses itu disebut dengan etnografi yang merupakan inti pekerjaan dari ilmu antropologi itu sendiri. Di dalam etnografi inilah antropologi menghasilkan pemaknaan untuk berwacana yang berdasarkan hasil data-datanya di lapangan.

Thick Description dan Refleksi

Peristiwa-peristiwa kebudayaan yang ada di tengah masyarakat berserakan jumlahnya. Peristiwa-peristiwa itulah yang dikonstruksi menjadi realitas sosial yang menjadi “subyek” dari penelitian ilmu-ilmu humaniora dengan metode kualitatifnya. Data-data tersebut menjadi semacam bahan bagi ilmu-ilmu humaniora untuk mewacanakan (baca: membincangkan) sesuatu hal menurut kacamata keilmuan dan metode yang lazim dipergunakan dalam ilmu-ilmu humaniora. Salah satu metode yang diangkat dalam esai ini adalah metode etnografi dalam ilmu antropologi. Namun secara keseluruhan totalitas berwacana dari ilmu-ilmu humaniora adalah “seni” dari masing-masing metode yang dimilikinya.

Namun, dasar dari argumentasi dalam berwacana tersebut tetaplah pada data. Data yang dikembangkan oleh metode kualitatif mempunyai disar manakala data itu terbatas dalam kurun waktu dan ruang peristiwa sosial yang diamatinya, pada konteksnya. Batas-batas inilah yang menjadi media di mana gejala sosial itu ditampilkan. Oleh karena itu pengumpulan data dalam suatu studi kualitatif memerlukan deskripsi rinci tidak hanya dari peristiwanya, tetapi kurun waktu dan ruangnya. Dalam ilmu antropologi, pengumpulan data dengan rinci dan detail.

Oleh karena itu pengumpulan data kualitatif sama saja dengan melakukan deskripsi yang pekat (thick description) penuh refleksi baik dari subyek yang diteliti maupun dari si peneliti sendiri. Melalui deskripsi ini seorang peneliti kualitatif berusaha memahami kebudayaan atau meminjam analogi Max Weber yang diacu Geertz (1973:5) jaring-jaring makna yang dihasilkan manusia untuk menjaring dirinya sendiri. Van Maane (1983:18) melihat metode kualitatif mirip dengan prosedur-prosedur interpretif yang biasa kita pergunakan sehari-hari. Katanya: “The data we collect and act upon in everyday life are the same sort a qualitative research explicitly attempts to gether and record. Such data are symbolic, contextually embedded, cryptic, and reflexife, standing for nothing so much as theory readiness or stubbornness to yield to a meaningful interpretation and response.”

Hermenutik adalah tafsir yang diskursif/dialektis bagian dari tafsir-tafsir lainnya. Dalam perspektif ini para peneliti humaniora mempunyai tugas untuk memanifestasikan wacana secara penuh dalam menulis. Paul Ricoueur (1976:43) mengungkapkan bahwa menulis itu sebagai kasus khusus dari ikonisitas (seperti lukisan menggambarkan dunia) atau penulisan kembali realitas. Oleh karena itu inskripsi wacana adalah transkripsi dunia, dan transkripsi itu bukanlah reduplikasi, tetapi metamorphosis. Di sini terjadi dialektika antara proses penjarakan atau distansisi dan apropriasi. Distansiasi terjadi karena menulis itu mengabaikan pembacanya serta menyembunyikan penulisnya. Sedangkan apropriasi adalah proses menjadikan sesuatu yang “asing” menjadi “milik” kita, sehingga penjarakan waktu menulis itu didekatkan kembali. Ricoeur mengungkapkan bahwa menulis dan membaca ada dalam perjuangan (dialektis) ini. Membaca itu kemudian mendekatkan kembali makna yang terjarakkan karena tulisan, memasukkan liyan dalam diri pembaca.

Dalam prakteknya, proses penelitian kualitatif ini biasanya dilakukan dengan penelitian secara magang, belajar sambil praktek, menulis sambil membaca, seperti orang belajar berenang yang berjuang antara timbul dan tenggelam. Memang sekarang ada banyak buku-buku yang memerinci teknik-teknik penelitian kualitatif seperti yang ditulis oleh Spradley (1979). Namun buku-buku seperti itu lebih cocok dengan hermeneutik varian pertama yang metodologis, Secara umum dalam praktek di lapangan, para peneliti kualitatif yang reflektif dianjurkan untuk hadir dalam peristiwa-peristiwa sosial yang melibatkan para subyek yang diamatinya. Di sana para peneliti diharapkan mencatat secara rinci sekalian konteks dari gerak-gerik dan ucapan para subyeknya. Sekalian catatan peneliti itu kemudian dihimpun ke dalam catatan lapangan.

Pengertian hermeneutik dalam penelitian humaniora yang ontologism adalah sebagai “seni”, yaitu sebagai praktek refleksi dari pada sebagai metodologi. Dengan kata lain, hermenutik itu akan melibatkan kita sebagai peneliti humaniora untuk berpartisipasi dalam siasat untuk membuka peluang mengenali dan mendekatkan hubungan antara “kita” dan liyan. Hanya dengan begitu dialog antara “kita” dan liyan dimungkinkan dan sejarah dapat diteruskan. Untuk selanjutnya kita berharap bahwa penelitian bidang humaniora akan diisi dialektika antara tafsir yang berkesinambungan mengenai “dunia” kita sehari-hari. Ilmu humaniora perlu kembali mendekatkan diri dengan keseharian, karena di sanalah ilmu humaniora akan menemukan kebermaknaannya.

*) Penulis adalah antropolog dan dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat. Bukunya, “Suara-Suara yang Dicampakkan: Suara Kritis dari Tanah Papua” (2017 –  segera terbit)
Kajian Humaniora dan Praktik Refleksi Reviewed by Majalah Beko on 09.36.00 Rating: 5
All Rights Reserved by Majalah Beko ǀ Situs Berita Online Papua ©Dedicated for West Papuan Property of CV Media Beko

Hubungi Kami

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.